Bukan hanya dalam kebutuhan pribadinya, pekerja harus bersandar kepada Allah, kebutuhan pekerjaan juga harus sepenuhnya bersandar kepada Allah. Jika Anda terpanggil oleh Allah, Andalah yang bertanggung jawab atas pekerjaan itu, dan keperluan keuangannya pun harus Anda tanggung sendiri. Seorang pekerja harus bertanggung jawab atas keuangan pribadinya, dan harus bertanggung jawab pula atas keuangan pekerjaannya.
Bagaimana kewajiban pribadi pekerja harus ditanggung oleh pekerja, kewajiban keuangan pekerjaanpun harus ditanggung oleh pekerja, bukan ditanggung oleh orang lain.
Kalau seorang saudara bekerja di suatu tempat, ia wajib bertanggung jawab atas segalanya. Bukan hanya permulaan pekerjaan itu harus ditanggungnya, kelanjutan pekerjaan itu pun harus ditanggungnya. Pekerja yang tidak mampu menanggung kewajibannya sendiri tidak layak menjadi pekerja.
Demikian pula bila pekerja tak mampu menanggung kewajiban pekerjaannya. Pekerja harus bertanggung jawab atas keuangan pekerjaan, seperti ia menanggung kewajiban keuangan pribadinya. Paulus senantiasa menanggung kewajiban pekerjaannya sendiri, tidak pernah membebani gereja.
Setiap pekerja wajib menanggung kewajiban keuangan pribadinya masing-masing, juga menanggung keuangan pekerjaannya masing-masing. Misalkan seorang saudara dipanggil Allah pergi memberitakan Injil di daerah perbatasan yang terpencil. Seluruh kebutuhan untuk merintis pekerjaan di situ, seperti biaya sewa rumah, kursi, perabotan dan lain sebagainya, setidaknya harus memakai sejumlah uang.
Siapakah yang bertanggung jawab membayarnya? Bukan mengharap suplai dari suatu gereja, bukan pula menantikan bantuan dari saudara atau saudari anu, melainkan ditanggung oleh pekerja itu sendiri dengan beriman dan menengadah kepada Allah. Bila Allah mengutus orang bekerja, maka orang itu tidak hanya harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri, ia pun harus bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Jika Anda merasa Allah menghendaki Anda merintis pekerjaan di suatu tempat, Anda harus berdoa untuk beroleh suplai demi bertanggung jawab sepenuhnya atas pekerjaan tersebut. Saya ingat, ketika di Goangchou, saya pernah berkata demikian. Ada seorang saudara berkata, "Sebenarnya aku ingin keluar bekerja.
Sekarang maksudku itu buyar karena perkataan Anda." "Lebih baik begitu," jawab saya. Memang, seorang pekerja wajib menanggung kewajiban keuangan seluruh pekerjaan. Kita tidak mempunyai instansi untuk menyuplai keuangan pekerjaan.
Semua rekan sekerja kita masing-masing bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan pekerjaan mereka. Kalau Anda merasa jelas Allah menghendaki Anda mengerjakan sesuatu, kerjakanlah. Tapi Anda tidak boleh menengadah kepada gereja atau saudara, atau suatu instansi.
Anda harus menengadah kepada Allah, agar Ia membuat Anda mampu menanggung sepenuhnya kewajiban keuangan pekerjaan Anda itu.
Pekerjaan adalah milik pekerja. Bukan hanya dalam hal menginjil, dalam perkara lain pun demikian. Bila kaum imani merasa, bahwa pekerjaan ini berasal dari Allah, mereka boleh membantu pekerjaan tersebut.
Jika tidak, mereka pun tidak usah membantu. Pekerjaan yang berasal dari iman yang manapun sama sekali tidak bersangkut paut dengan gereja lokal secara organisatoris. Panti asuhan yang didirikan George Muller di Bristol adalah sebuah contoh yang baik.
Muller adalah salah seorang anggota gereja di lokal itu, tetapi panti asuhan itu didirikan oleh dia bersama rekan sekerjanya, dan merekalah yang bertanggung jawab. Tetapi mereka tidak menengadah kepada gereja lokal untuk menyuplai panti asuhan mereka, melainkan menengadah sepenuhnya kepada Allah, sebab mereka merasa bahwa itu adalah pekerjaan yang ditugaskan Allah kepada mereka. Jika saudara saudari setempat mau membantu, itu boleh saja, tetapi kewajiban panti asuhan tersebut bukan ditanggung oleh mereka.
Usaha itu sukses atau gagal adalah tanggung jawab Muller dan kawannya. Mereka tidak bersandar kepada suplai dari gereja di Bristol, melainkan bersandar kepada suplai dari Allah. Usaha apa pun prinsipnya sama, yaitu menjadi tanggung jawab seorang atau beberapa orang di hadapan Allah.
Ada seorang saudara bertanya, baikkah kita memiliki sebuah mobil penginjilan? Saya akui hal itu sudah lama terkandung dalam hati saya. Tapi Allah belum membangkitkan orang yang melakukan hal itu.
Memohon Allah memberi uang untuk membeli sebuah mobil itu sangat mudah, tapi kita tidak dapat membeli sebuah mobil lalu mengundang orang untuk pergi bekerja, sedangkan kewajiban keuangannya kita yang pikul. Jika demikian, pekerja menjadi tidak bertanggung jawab atas keuangan pekerjaan. Bila mereka kekurangan biaya bahan bakar, onderdil dan lain sebagainya, lalu akan datang meminta kepada kita.
Kalau begitu mereka hanya bekerja, tanpa bertanggung jawab atas kebutuhan keuangan pekerjaan. Ini tidak sesuai dengan Alkitab. Maka jika nampak keperluan itu, kita sendirilah yang harus bangkit memikulnya, atau berdoa mohon Allah menggerakkan orang melakukannya, yaitu menyuplai keperluan mereka.
Harus ada pekerja yang sanggup bertanggung jawab atas keperluan keuangan barulah pekerjaan itu menjadi nyata. Andaikata ada dua atau tiga orang nampak, bahwa itu adalah pekerjaan yang Allah tugaskan kepada mereka, mereka sendiri harus bertanggung jawab sepenuhnya, baik ada yang membantu atau tidak ada yang membantu. Kita paling banyak hanya bisa membantu menurut kehendak Allah dari samping, kewajibannya harus mereka sendiri yang memikulnya.
Kita tidak dapat membeli sebuah mobil lalu menyuruh orang menjadi pekerja yang tidak menanggung kewajiban keuangan. Selamanya tidak pernah ada pribadi atau gereja lokal yang memikul kewajiban pekerjaan. Pekerjaan harus ditanggung oleh pekerja.
Jangan sekali-kali melemparkan kewajiban ini ke atas bahu orang lain atau gereja. Jika Anda tidak sanggup bertanggung jawab, lebih baik jangan melakukannya.
Kita juga harus membedakan uang itu untuk pribadi atau untuk kita bekerja. Semua uang yang ditujukan kepada pribadi boleh kita gunakan, tapi jika uang itu untuk pekerjaan, kita tidak boleh memakainya untuk pribadi, melainkan hanya boleh dipakai untuk pekerjaan. Kita harus belajar adil, yaitu membedakan penggunaan uang untuk pribadi dengan uang untuk pekerjaan.
Tak seorang pekerja pun boleh memakai uang pekerjaan untuk kepentingan pribadi. Saya selamanya tidak lupa akan sebuah artikel yang berjudul "Bapaku adalah kondektur". Tulisan tersebut mengisahkan pengalaman Hudson Taylor ketika ia ingin pergi bekerja ke Sint Louis.
Sejumlah uang telah diterimanya dari banyak orang. Ia harus mengejar waktu untuk bersidang di suatu tempat, tetapi kereta api yang memungkinkan dia tiba tepat pada waktunya ke sana telah berangkat. Ia harus menunggu di stasiun untuk naik kereta berikutnya.
Tiba-tiba datang tuan Brook dan memberinya sejumlah uang. Hudson berkata, "Lihat, Allah sekarang baru mengirim ongkos perjalanan saya!" Dengan sangat heran tuan Brook bertanya, bukankah ia sudah menerima banyak uang? Hudson menjawab, "Ya, tetapi saya tak pernah menggunakan uang yang tidak dijelaskan untuk pribadi saya." Maka uang yang diberikan tuan Brook kepadanya itu barulah ongkos perjalanan yang Allah sediakan baginya.
Sebab itu, ia memakai uang itu untuk keperluan pribadinya. Kemudian Allah mengatur agar ia bisa naik kereta berikutnya dan tiba di tempat tepat pada waktunya. Kisah yang saya peroleh ketika saya baru mulai belajar bekerja untuk Tuhan ini, entah sudah membantu saya berapa banyak.
Syukur bagi Allah!
Saya tahu dalam hari-hari ini orang lebih memperhatikan pekerjaan Allah daripada pekerja Allah. Tetapi sebenarnya kita melayani siapa? Kalau kita sungguh-sungguh bersandar kepada Allah, kita akan nampak, bahwa orang yang percaya dan bersandar kepadaNya tidak akan menjumpai keaiban.
Allah kita itu hidup. Ketika membaca riwayat George Muller, kita nampak ia tidak pernah menyatakan kebutuhannya kepada siapa pun, tapi Allah tidak hanya menyuplai keperluan pekerjaannya, juga menyuplai keperluan pribadinya dengan berlimpah-limpah. Ia pun seorang pekerja yang membedakan dengan jelas uang pribadi dan uang pekerjaan.
Bila pekerjaan ada kekurangan, pekerja harus bertanggung jawab sepenuhnya; bila pekerjaan ada kelebihan, pekerja tidak boleh mengambilnya untuk keperluan pribadi. Bagaimanapun pekerja tidak boleh ikut menikmati keuntungan pekerjaan. Allah kita adalah Allah yang hidup, bila Ia bisa menyuplai kebutuhan pekerjaan, Ia pun bisa menyuplai kebutuhan pribadi kita.
Kita ibarat burung kecil di udara, ibarat bunga bakung di padang! Kita harus beriman kepadaNya. Jangan mencampur aduk uang pekerjaan dengan uang lainnya.
Di antara rekan sekerja, setiap pekerja harus ingat, bahwa kita saling berbeda latar belakang, penghidupan, ukuran iman dan karunia yang diterima dari Tuhan, maka tidak ada yang didambakan dan tidak ada yang diirikan. Jika ada saudara beroleh lebih banyak, itu iman pribadinya, dan karunia yang diterimanya sendiri dari Allah. Jika ada saudara beroleh sedikit, itu pun imannya sendiri dan karunianya sendiri dari pemberian Allah.
Hubungan kita seorang dengan yang lain bersifat rohani, bukan bersifat resmi. Karenanya tidak ada yang harus didambakan atau diirikan.
Di antara rekan sekerja ada satu hal yang perlu diperhatikan: jika seorang pekerja hanya bisa menerima dari orang lain, tapi tak bisa memberikan kepada orang lain, ini adalah satu perkara yang paling hina dan memalukan. Dalam Perjanjian Lama ada sebuah contoh, yaitu walaupun orang Lewi mewakili Allah menerima persembahan dari orang, tapi mereka pun harus mengambil sepuluh persen dari persembahan itu lalu dipersembahkan kepada Allah. Di antara rekan sekerja, syukur kepada Allah, walau pengalaman kita sudah demikian, tetapi pada prinsipnya kita harus lebih memperhatikan.
Kita harus sering belajar memberi. Kita harus ingat perkataan Paulus, "Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku" (Kis. 20:34).
Kita tidak seharusnya kuatir adakah yang akan kita pakai; kita harus senantiasa bertanya, "Apakah kita ada sesuatu untuk diberikan kepada orang." Jika kita hanya ingat keperluan pribadi kita dan keperluan pekerjaan kita sebagai keperluan satu-satunya, tapi kita tidak ingat akan keperluan rekan sekerja, kita sudah sangat merosot. Kita wajib ingat, bahwa kawan-kawan seperjalanan kita juga ada keperluan. Allah selamanya tidak memberkati orang yang hanya bisa menerima tanpa memberi.
Orang yang demikian adalah pekerja yang paling memalukan. Kita wajib mempunyai satu sikap, yaitu "aku dan kawan-kawan seperjalananku". Uang Allah tidak hanya untuk diriku juga untuk kawan-kawan seperjalananku.
Ada seorang saudara berkata kepada saya, "Buat apa Anda menghiraukan urusan begitu banyak? Bukankah Allah bisa memberi mereka juga? Anda bukan misi, buat apa memikirkan urusan orang lain?" Namun ia sudah melupakan kawan-kawan seperjalanannya.
Baik tidaknya seorang pekerja atau sekerja teruji dari apakah ia ingat akan rekan sekerjanya dalam hal suplai. Semua pekerja harus berpikir untuk memberi uang kepada rekan sekerjanya. Jika ada orang berbuat demikian, Anda tidak seharusnya menyalahkan dia, tetapi Anda malah harus menyalahkan diri sendiri.
Prinsip Allah dalam hal keuangan ialah: "Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan." Orang yang ingin mengumpulkan banyak harus menjadi orang yang tidak kelebihan. Bila orang yang mengumpulkan banyak mau menjadi orang yang tidak kelebihan, maka dapatlah orang yang mengumpulkan sedikit menjadi orang yang tidak kekurangan. Sebaliknya, jika tidak, orang yang mengumpulkan banyak akan kelebihan, orang yang mengumpulkan sedikit sudah pasti kekurangan.
Kita harus ada hati untuk membantu orang yang mengumpulkan sedikit agar mereka tidak kekurangan. Jika demikian, Allah bisa membuat kita mengumpulkan banyak. Jika tidak, Allah akan membiarkan kita menjadi orang yang mengumpulkan sedikit dan menjadi orang yang tidak kekurangan.
Alangkah bahagia orang yang berhak membantu saudara-saudara lain! Orang yang hanya bisa menggemukkan dirinya sendiri dan tidak bisa membantu orang lain pasti tidak bisa mengumpulkan banyak. Dalam hal ini kita tidak hanya menumpang keuntungan orang, bahkan harus dengan sekuat tenaga membuat orang lain menerima faedah.
Uang selamanya makin dipakai makin banyak, dan uang yang disimpan adalah uang yang akan berkarat, dan yang siap dicuri oleh pencuri.
Di antara pekerjaan dengan pekerjaan juga harus saling memperhatikan dan saling membantu. Jangan kuatir pekerjaan orang lain lebih diberkati Allah dan beroleh suplai lebih banyak. Di antara saudara, kita harus belajar menyuruh orang memperhatikan pekerjaan orang lain dan keperluan pekerjaan orang lain.
Harus belajar mempromosikan pekerjaan orang lain. Kita harus dapat membeberkan urusan orang lain di hadapan saudara. Jangan takut, jangan iri hati.
Semua yang akan Allah berikan kepada Anda tidak ada satu pun yang bisa jatuh ke tangan orang lain. Anda harus percaya kepada Allah, harus mengasihi pekerja lain. Bila Anda melupakan diri sendiri untuk membantu orang lain, Anda akan nampak Allah akan bertanggung jawab, agar Anda beroleh apa yang Anda perlukan.
Saya benar-benar percaya, bahwa keperluan Paulus dan rekan sekerjanya sangat banyak. Namun ia hanya membeberkan keperluan kaum saleh dan keperluan penatua di hadapan gereja-gereja. Kenyataannya Allah pun mencukupi semua kebutuhannya!
Ketika misi pedalaman Sudan yang bekerja di Abesinia baru didirikan, pengurus misi itu mengunjungi direktur Misi Pedalaman Cina di Toronto, menanyakan bagaimana caranya membuat kaum imani di kota itu memperhatikan pekerjaan di Sudan. Saudara itu lalu memberinya banyak nama orang dan mengatakan, bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat memperhatikan penginjilan luar negeri, yang sering membantu kaum imani pedalaman Cina. Ia pun memperkenalkannya kepada mereka.
Pengurus misi itu lalu bertanya, "Apakah Anda tidak kuatir kalau-kalau uang kalian kelak dialihkan kepada misi pedalaman Sudan?" Saudara itu menjawab, "Setiap dolar yang Allah berikan kepada kami pasti jatuh ke tangan kami, tidak mungkin jatuh ke tangan Anda. Anda selamanya tidak mungkin menerima uang yang Allah berikan kepada kami. Bila anak-anak Allah memberi lebih banyak uang kepada kalian, mereka pun akan memberi lebih banyak uang kepada kami." Betapa besar iman dan kasihnya!
Penerimaan uang mereka di kemudian hari membuktikan apa yang dikatakannya itu benar.
"Jika kalian merasa, bahwa pekerja Allah wajib hidup bersandar kepada Allah, dan kalian percaya, bahwa pekerjaan mempunyai kelompoknya, sedang pekerja kalian jumlahnya cukup banyak, mengapa kalian tidak membentuk misi iman?" Inilah yang ditanyakan oleh banyak orang kepada kita. Benar, mengapa kita tidak bersatu mendirikan misi iman? Apakah misi iman?
Suatu kelompok penginjilan yang tidak memberi gaji tetap kepada anggota-anggotanya, melainkan membagi rata semua uang yang terkumpul kepada setiap pekerja. Pendapatan mereka bukan berasal dari meminta sokongan dari orang, melainkan diperoleh dari berdoa. Setelah mereka beroleh penerimaan, lalu dibagi-bagi menurut perorangan tiap bulan atau tiap minggu.
Itulah yang disebut misi iman. Bila menerima banyak, banyak pula yang dibagikan; bila sedikit, sedikit pula yang dibagikan. Misi anu, misalnya, adalah kelompok hidup beriman yang demikian.
Ada orang bertanya kepada saya, kalau tidak mau mendirikan misi biasa, mengapa tidak mendirikan misi iman? Jika sebuah instansi penginjilan yang menerima honorarium salah, tentu misi iman tidak salah.
Tetapi, kita harus ingat dua hal: pertama, Alkitab menunjukkan, antara sekerja hanya ada kesatuan rohani, tidak ada instansi resmi. Jika ada sebuah instansi kerja sama yang resmi, maka tidak hanya ada kelompok rohani, juga ada kelompok resmi. Jika demikian, maka hubungan rohani antar sekerja di hadapan Allah akan menjadi hubungan resmi, dan sebuah kelompok rohani akan menjadi sebuah instansi resmi.
Kedua, walau misi iman dikatakan semuanya bersandar kepada Allah, tetapi bersandar kepada Allah secara kolektif tidak lebih baik daripada bersandar kepada Allah secara pribadi. Dalam Alkitab hanya ada iman pribadi, tidak ada iman kolektif.
Ketika diadakan sidang sekerja tahun lalu, ada seorang saudari bertanya kepada saya, "Ada sebuah misi penginjilan baru didirikan berdasarkan iman dan pekerjaan mereka lumayan baik, bolehkah kita juga mengadakan misi penginjilan seperti mereka?" Saya berkata, "Mereka berbuat begitu, saya bersyukur kepada Allah. Tetapi kita tidak mau memiliki sebuah iman yang kolektif, kita hanya mau iman pribadi. Sebab dalam Alkitab kita hanya nampak iman pribadi, tidak ada iman kolektif.
Lagi pula, misi iman itu sedikit banyak pasti memperoleh pendapatan, dan orang-orangnya sedikit banyak pasti menerima sebagian. Nah, ini akan mudah disusupi orang-orang yang tak beriman, sebab baik beriman maupun tidak beriman, asal masuk kelompok itu, pasti boleh mendapatkan satu bagian. Maka walau misi semacam ini hidupnya berdasarkan iman, tetapi karena secara "semi-tetap" ia memberi suplai kepada anggotanya, dengan sendirinya akan ada suatu benda yang ditaruh di situ untuk membuat orang menengadah kepadanya.
Karena di jalan ini sedikit banyak pasti ada pembagian, maka dikuatirkan akan menyusup orang yang tidak benar-benar beriman, untuk bersandar kepada pembagian itu. Pertama kali orang memasuki kelompok ini, boleh jadi ia beriman. Tetapi karena ada kelompok suplai ini, tak lama kemudian ia tidak perlu hidup bersandar kepada Allah lagi.
Orang yang mengenal kedagingan tahu, bahwa mata kita paling pandai menengadah kepada sesuatu yang di luar Allah, dan paling mudah kehilangan iman terhadap Allah. Laksaan manusia dan laksaan instansi tidak dapat diandalkan dan tidak berguna; daging kita memang sejak lahir sudah bisa menengadah kepada mereka. Alangkah sukarnya kita menengadah kepada Allah!
Hati manusia sangat jahat. Dengan sendirinya, kita akan lemah sedemikian rupa sehingga bukan menantikan burung gagak di udara, melainkan menantikan pos wesel. Kita benar-benar tidak dapat diandalkan!
Bukankah demikian, saudara-saudara? Jika saya salah berkata, mohon Allah dan kalian memaafkan saya."
"Karena mata kita sering melupakan sumber air, tapi memperhatikan pompa air; melupakan hati yang penuh kasih setia, tapi memperhatikan tangan yang menyampaikan pemberian; maka langit akan kering. Setelah itu baru ada air sungai dan burung gagak. Air sungai Kerit juga akan mengering dan burung gagak Allah juga akan tidak kunjung datang.
Setelah itu, barulah kita menengadah kepada Allah untuk beroleh kiriman dari janda itu. Allah perlu sering mengganti tangan pemberi, agar jangan karena mengenal tangan itu, kita lupa bahwa Allahlah sumber segala-galanya, dan kita lalu mengharap manusia menjadi sumber kita. Karena itu, iman yang kolektif tidak membantu orang."
"Dalam Alkitab hanya ada iman pribadi, tidak ada iman kolektif. Allah menangani seseorang, bukan menangani satu kelompok. Orang bisa saja tanpa iman pribadi tetapi tetap memiliki suatu iman kolektif yang semu.
Maka misi iman tidak mungkin membina iman pribadi. Inilah yang kami anggap sebagai yang diwahyukan Allah kepada kita. Jika ini keliru, mohon kalian memaafkan kami."
"Di sini kita ingin menyatakan dengan serius, yaitu karena Allah tidak memimpin kita berbuat demikian, maka kita tidak mempunyai organisasi misi. Tapi ini tidak berarti kita menentang organisasi misi. Kita menganggap, bahwa di dalam Alkitab tidak ada organisasi misi.
Namun tidak ada pula larangan yang harfiah. Jika saudara kita merasa itu adalah pimpinan Allah, semoga Allah memberkati mereka. Kita tidak menerima pimpinan serupa, maka kita tidak berbuat seperti mereka.
Jika kita ceroboh melakukannya juga, itu salah besar. Semoga kalian memaafkan kami dalam hal itu." Tetapi satu hal yang pasti, yakni Allah menghendaki semua kelompok panginjilan, baik yang berorganisasi misi maupun tanpa organisasi misi, tidak seharusnya memperluas kelompok sendiri, melainkan membangun gereja lokal. Kiranya umat Allah bisa sehati dengan kita dalam hal ini, agar kita semua melayani gereja menurut ministri yang diamanatkan Tuhan kepada masing-masing.
Ada orang bertanya, "Mengapa kalian tidak kumpulkan saja semua uang, kemudian baru dibagi-bagikan kepada sekerja di berbagai tempat? Dengan demikian bukankah tidak sampai ada yang menerima terlalu banyak, dan ada yang menerima terlalu sedikit? Dan yang bekerja di desa tidak kekurangan, sedang yang bekerja di kota tidak kelebihan?" Tetapi saya balik bertanya, "Siapakah kepala gereja?
Siapakah Tuan dari hamba-hamba ini?" Jika kita bisa percaya, bahwa Allah mengatur gagak dan janda itu, maka tidaklah ada perbedaan antara desa dan kota. Menurut sejarah masa lalu, ada pekerja yang kebutuhannya banyak, maka suplai Allah pun banyak kepadanya; ada yang kebutuhannya sedikit, maka suplai Allah pun sedikit. Kalau kita menguasainya dengan kedagingan, memang kita bisa menguasai banyak sedikitnya penerimaan, namun kita tidak mungkin menguasai berapakah kebutuhan itu.
Uang bisa dikuasai, tetapi kebutuhan tidak bisa dikuasai. Kita tak mungkin menguasai sampai berapakah kebutuhan itu, lalu untuk apa menguasai uang sebanyak itu? Maka penguasaan semacam itu tidak ada faedahnya.
Percayakah kita akan pengaturan Allah? Kalau bukan kehendakNya tidak ada seekor burung pipit pun yang bisa jatuh dari langit ke bumi. Masakan ada satu perkara yang menimpa diri kita tidak melalui tanganNya?
Setiap suplai kita adalah melalui tangan Allah, dan melalui pertimbanganNya. Percaya sajalah kepada pengaturan Allah! Begitu tangan manusia menguasai, Roh Kudus akan segera kehilangan hakNya.
Kita wajib beriman kepada Allah, Dia bisa mengatur suplaiNya sesuai dengan keperluan kita.
Kebutuhan saudara yang di desa belum tentu sedikit, adakalanya malah lebih banyak daripada saudara yang di kota. Lagi pula, suplai saudara yang di desa pun belum tentu lebih sedikit daripada saudara yang di kota, ada kalanya malahan lebih melimpah. Semuanya berada dalam pengaturan Allah.
Kalau kita tidak beriman, tak usah dikata. Kalau kita beriman kepada Allah, kita wajib percaya, bahwa Allah akan menyatakan hak dan kuasaNya dalam segala perkara.
Semoga Allah merahmati kita, agar kita berdiri di hadapanNya, tidak mempertahankan sesuatu dengan cara manusia. Kita hanya menengadah kepada kuasa Roh Kudus, hanya menengadah kepada wewenang Tuhan, dan hanya menengadah kepada pengaturan Allah. Kita harus menolak segala cara yang berasal dari manusia.
Kalau Allah tidak menolak kita, Dia akan mengatur segala suplai yang kita perlukan di atas jalan ini. Kalau Allah menolak kita, tentu kita akan bersandar kepada manusia.
Kita tahu, banyak pekerjaan iman yang merupakan pekerjaan yang sangat mustika. Tujuan Allah tidak hanya menghendaki manusia dengan iman keluar bekerja bagiNya, Ia pun senang banyak orang melakukan banyak pekerjaan karena beriman kepadaNya. Saya pribadi yakin, jika Allah mendapatkan kita lebih banyak, maka pekerjaan-pekerjaan semacam ini akan lebih banyak dibangkitkan.
Di jaman ini, Allah mempunyai banyak pekerjaan yang hendak dikerjakanNya. Jika ada orang bangkit dan mengerjakan menurut kehendakNya, alangkah indahnya hal itu. Misalkan pekerjaan literatur.
Walau itu sudah ada saudara-saudara yang melaksanakannya, tapi tidak berarti sudah cukup. Masih banyak yang perlu diusahakan, seperti tempat pembinaan kaum remaja, atau semacam tempat menuntut pertumbuhan rohani, atau tempat untuk retret, atau usaha sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan seterusnya, semua itu sangat diperlukan. Usaha-usaha semacam itu tidak harus melanglang buana seperti rasul, namun Allah juga menghendaki orang melakukan pekerjaan semacam itu.
Saya sungguh damba ada lebih banyak saudara nampak ministri khusus yang Allah karuniakan kepada mereka untuk membangkitkan pekerjaan iman itu. Tidak hanya menjadi rasul, tetapi juga melakukan banyak pekerjaan yang khusus itu. Dengan demikian gereja Allah akan terbangun.
Bukan hanya rasul membantu gereja, pekerjaan-pekerjaan itu pun membantu gereja. Tak peduli itu panti asuhan, usaha sosial, usaha pendidikan atau yang lainnya, asalkan penyelenggaranya benar-benar menengadah kepada Allah, dan benar-benar dengan sekuat tenaga memberitakan Injil di dalamnya, pasti akan membuat gereja beroleh banyak faedah. Saya harap saudara-saudara banyak berdoa, banyak beriman dan dapat mendengar panggilan Allah untuk melakukan usaha-usaha yang demikian.
Penginjilan di negeri Cina boleh dikata sudah ada, tetapi pekerjaan-pekerjaan semacam ini benar-benar masih kurang. Saya harap Allah membangkitkan banyak orang untuk melakukannya, agar Allah beroleh kemuliaan.
Ada satu perkara yang tak dapat tidak membuat saya prihatin, yakni walau tidak sedikit rekan sekerja kita hari ini, kita semua menengadah kepada Allah dan secara langsung melakukan penginjilan, tetapi pekerjaan yang diprakarsai rekan sekerja kita tidak banyak. Maka di hadapan Allah dan demi beriman kepadaNya, hendaklah kita lebih agresif, lebih kreatif dan lebih produktif. Jika kita adalah orang yang percaya kepada Allah, kita tidak seharusnya tidak mampu.
Kita harus mempunyai iman yang agresif untuk melaksanakan apa yang hendak dilakukan Allah. Beberapa pekerjaan sudah ada, tapi masih banyak yang belum ada, dan masih bisa dilakukan. Dewasa ini, walau kita mempunyai Perpustakaan Injil yang bisa menyuplai jutaan lembar traktat tiap tahun, dan sebuah tempat pemahaman Alkitab untuk membina saudara remaja, juga ada beberapa pos penginjilan di tiap lokal, akan tetapi entah masih berapa banyak pekerjaan iman yang harus dan bisa kita lakukan.
Kita tidak seharusnya hanya memberitakan Injil di satu tempat. Itu memang harus ada orang yang melakukan, namun masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan. Semoga kita banyak menghampiri Allah, banyak memahami kehendak Allah, banyak memiliki iman untuk membuka lapangan kerja, melakukan banyak pekerjaan, agar Allah beroleh kemuliaan yang lebih besar!