Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 9 • Modul 32

Etika dan Prinsip Menerima Suplai

Pembacaan Alkitab
"Bukankah Kitab Suci berkata: Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik, dan lagi seorang pekerja patut mendapat upahnya." — 1 Timotius 5:18

PRINSIP MENERIMA

Kita harus ingat, tidak hanya bantuan gereja yang bersifat rutin tidak boleh diterima, yang tidak rutin pun belum tentu boleh diterima. Prinsip ini telah dinyatakan Paulus terhadap gereja di Korintus. Kalau orang mengirim untuk kita, karena ia menaruh belaskasihan terhadap kita, maka kita tidak boleh menerima kirimannya.

Jika kirimannya bukan terlebih dulu demi Allah, melainkan menghendaki kita berterima kasih kepadanya, kita jangan menerimanya. Jika ada kiriman yang bertujuan agar ia bisa mengendalikan kita, kiriman semacam itu pun jangan kita terima. Semua pekerja Allah tidak hanya percaya Allah bisa memberikan kebutuhannya, ketika orang memberikan uang, kita pun harus membedakan apakah uang itu diterima Allah atau tidak, dan apakah Allah setuju kita terima atau tidak.

Pada Perjanjian Lama, orang Israel mempersembahkan lembu dan kambing kepada Allah melalui orang Lewi. Jadi, orang Lewi berdiri di atas kedudukan mewakili Allah, menerima persembahan. Persembahan itu ditujukan kepada Allah, bukan kepada orang Lewi.

Hari ini kita juga berdiri di atas kedudukan orang Lewi. Yang menerima uang adalah Allah, bukan kita, maka Allahlah yang berterima kasih kepadanya, bukan kita. Kita selamanya tidak menerima budi manusia, kita pun selamanya tidak berhutang budi.

Bila orang memberi kiriman kepada kita dengan maksud supaya kita berterima kasih kepada kebajikannya, maka kiriman itu tidak seharusnya kita terima. Kita tidak menerima sepeser pun dari manusia, yang menerima uang manusia adalah Allah. Jika orang itu ingin beroleh terima kasih, Allah sendirilah yang memberikan kepadanya.

Jika orang itu ingin beroleh pahala, Allah sajalah yang memberikan kepadanya; dan jika orang itu ingin beroleh kemuliaan, hanya Allah pulalah yang memberikan kepadanya.

Jika orang memberi kita uang dengan maksud agar kita berhutang budi kepadanya, kita tidak bisa menerima uang itu. Pada aspek lain, ketika kita menerima uang orang, kita harus bertanya, apakah hal itu akan membuat Allah berhutang budi kepadanya. Jika kita dengan sembrono menerima pemberian orang, maka kita bisa jadi akan memaksa Allah harus menyatakan terima kasih kepada orang itu, sedang hal itu bukan perkara yang senang dilakukanNya.

Kalau demikian, Allah akan merasa "serba salah". Tidak jarang ada orang yang tidak diperkenan Allah, memberi kita uang. Bila kita menerima uang mereka, mana mungkin Allah berkenan pada uang mereka?

Ada kalanya mereka masih sebagai orang dosa, tapi sangat rela menyumbangkan uang, bagaimanakah Allah terhadap mereka kelak di hadapan takhta putihNya? Andaikata mereka berkata kepada Allah, "HambaMu Paulus pun pernah menggunakan uangku!" Apakah yang harus Allah perbuat? Menurut aturannya, Allah tetap harus berterima kasih kepada mereka!

Sebab itu, ketika kita menerima uang orang, kita harus bertanya, apakah uang itu diterima juga oleh Allah. Itu suatu persembahan atau suatu kewajiban?

Maaf, saya akan menyinggung sebuah kisah pribadi saya. Pada tahun 1929, seorang kerabat saya mengirimkan uang 200 Yuan kepada saya. Saat itu saya sedang sakit dan sangat kekurangan uang.

Tetapi Allah menunjukkan kepada saya, bahwa kerabat saya itu walaupun seorang beragama Kristen, namun belum tentu sudah beroleh selamat. Allah memberi saya perasaan untuk menulis surat kepadanya menanyakan apakah memberi uang kepada saya sebagai orang Kristen terhadap pekerja, atau sebagai kerabat terhadap kemenakan? Jika ia mengirim 200 Yuan itu kepada saya sebagai kemenakannya, saya boleh menerimanya.

Sebab atas relasi daging, saya boleh menerima uangnya. Tapi jika pengirimannya kerena saya sebagai pekerja, saya tidak boleh menerima. Sebab saya tidak dapat menyuruh Allah berterima kasih kepada orang yang belum diperkenan olehNya.

Dari segi relasi rohani, saya tidak dapat menggunakan uangnya. Karena itu, saya tak dapat tidak menulis surat, bertanya kepadanya, dengan status apakah ia mengirimkan uang itu? Kemudian ternyata pengiriman itu dilakukan sebagai kerabat kepada kemenakan, maka akhirnya saya terima.

Ada juga orang yang mempersembahkan dengan motivasi baik, tetapi setelah dipersembahkan, sang pemberi ingin berkuasa untuk mengendalikan pekerjaan. Menentukan penggunaan uang itu boleh saja, tetapi tidak boleh karena uang itu, lalu ingin mengendalikan pekerjaan. Para pekerja Allah tidak boleh karena uang lalu membuat pekerjaan tak dapat dikerjakan menurut pimpinan Roh Kudus, melainkan menurut kemauan orang yang memberinya.

Yang sesuai dengan prinsip Alkitab ialah: orang yang memberi persembahan boleh menunjukkan penggunaan uang yang dipersembahkannya itu, tetapi setelah dipersembahkan, tangannya harus diangkat, jangan ada usaha campur tangan selanjutnya. Jika mereka percaya kepada pekerja Allah, boleh diserahkan kepada mereka, jika tidak, maka tidak perlu diserahkan kepada mereka. Maka setiap pekerja Allah harus ingat, jika pemberi uang itu bukan setelah uang lepas dari tangannya, lalu berhenti sampai di situ dan tidak disinggung lagi, maka kita tidak boleh menerima uangnya.

Prinsip Alkitab ialah pekerja yang bekerja, bukan uang yang bekerja. Para pekerja yang dipilih dan diutus Allah sendiri boleh bekerja menurut pimpinan Allah. Cara kerja mereka harus ditanggung mereka sendiri.

Namun tidak ada cara pekerjaan ditentukan oleh orang yang memberi uang persembahan itu. Dalam perkara dunia, orang yang mengeluarkan uang itulah yang paling berkuasa. Namun dalam perkara rohani, yang paling berkuasa adalah pekerja itu sendiri.

Dalam Alkitab selamanya hanya ada masalah pekerja memakai uang, tidak pernah ada masalah uang memakai pekerja. Orang yang dipanggil dan diutus bekerja itu yang bertanggung jawab atas cara pekerjaan, bukan orang yang mempunyai uang dan yang mau mempersembahkan uangnya itu. Maka jika ada saudara atau saudari ingin bekerja bagi Tuhan, kalau Anda merasa Allah memimpin Anda untuk membantu mereka, Anda boleh membantu mereka.

Kalau Anda tidak ada pimpinan Allah dan tidak merasa harus membantu mereka, Anda pun tak usah membantu mereka. Jika Anda bisa percaya kepadanya, Anda boleh menyerahkan uang kepadanya. Jika Anda tidak bisa percaya kepadanya, tidak usah menyerahkan uang kepadanya.

Jadi Anda harus mencari orang yang dapat Anda percayai, dan menyerahkan uang kepadanya untuk bekerja. Tetapi bila uang itu sudah terlepas dari tangan Anda, kuasa apa pun harus terlepas dari tangan Anda. Pekerja itu sendiri tidak berterima kasih kepada Anda.

Begitu uang itu lepas dari tangan Anda, saat itu pula semuanya lepas dari Anda.

Akhir-akhir ini muncul sejenis usaha, dan diusahakan dengan sangat baik. Tetapi belakangan ini sudah berhenti. Sebabnya tidak lain, karena bukan pekerja yang menanggung kewajiban keuangannya, melainkan kaum imani kaya yang menunjang dananya.

Maka ketika terjadi perbedaan pandangan antara pekerja dan donaturnya dan ketika sumber dananya terhenti, semua pekerjaan itu pun turut macet. Itu sebenarnya bukan persembahan, itu pun bukan pekerjaan. Pada satu pihak, pekerja harus dengan iman menanggung kewajiban keuangan; pada pihak lain, jika kaum imani menerima pimpinan Allah, ketika memberikan bantuan material haruslah percaya kepada pekerja, agar mereka boleh menuruti pimpinan Allah, melakukan pekerjaan yang ditanggung mereka itu.

Maka pekerjaan yang kita kerjakan hari ini harus kita lakukan, baik ada uang maupun tidak ada uang. Sekalipun uang kita mungkin hanya tinggal satu dolar, kita tidak seharusnya menengadah atau memohon belaskasihan kepada siapa pun. Ada uang atau tidak ada uang, seorang pekerja tidak seharusnya bertanggung jawab kepada manusia.

Bila seorang pekerja menunjukkan sikap hina ketika menerima uang dari saudara yang kaya, ia benar-benar patut dibenci. Sebab sikap itu sangat memalukan Allah dan rekan sekerja. Hari ini kita berdiri di atas kedudukan sebagai wakil Allah untuk menerima uang.

Dalam masalah keuangan, kita hanya berhubungan langsung dengan Allah. Jika tidak demikian, kita tidak layak bekerja. Paulus memiliki kemegahan dalam masalah keuangan.

Dengan kata lain, ia bisa bermegah atas hal keuangan. Kita pun wajib memiliki kemegahan kita sendiri. Hal ini tak dapat dijamah oleh orang lain.

Jadi, pekerjaan pekerja tidak boleh dikendalikan oleh orang yang mempersembahkan uang. Tetapi jika orang merasa, bahwa pekerjaan si pekerja itu tidak benar, apakah yang harus ia lakukan? Bila orang yang mempersembahkan uang merasa pekerja itu tidak benar, ia boleh melakukan satu perkara, yakni sejak saat itu ia tidak memberi persembahan lagi untuk pekerjaan tersebut.

SIKAP TERHADAP ORANG KAFIR

Satu sikap yang selamanya harus dipegang oleh seorang pekerja yang keluar bekerja bagi Tuhan ialah, tidak menerima (mengambil) uang dari orang kafir. Prinsipnya ialah: "Tidak menerima sesuatu pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah" (III Yohanes 7). Pekerjaan Allah selamanya tidak perlu ditunjang oleh orang kafir.

Orangnya harus diperkenan dulu, baru persembahannya diperkenan Allah. Yang diperkenan Allah baru kita terima; yang ditolak Allah, tidak boleh kita terima. Tetapi ini tak berarti tidak boleh menerima traktir sekali makan saja dari orang kafir.

Andaikata kita seperti Paulus berada di satu pulau dan dijamu dengan ramah tamah selama tiga hari oleh Publius, maka kita pun boleh menerima. Bila terjadi peristiwa demikian, di bawah pengaturan Allah, kita pun senang menerimanya. Tetapi itu mengacu pada pengaturan Allah dan merupakan kasus insidentil, bukan prinsip Allah yang terus-menerus.

Prinsip kita terhadap orang kafir haruslah: tidak menerima sesuatu pun dari mereka. Bila kita menerima uang dari orang kafir, kita akan membuat pekerjaan Allah merosot.

GEREJA MENYUPLAI PEKERJA

Wajibkah gereja menyuplai pekerja? Dalam Alkitab ada ajaran yang jelas tentang masalah ini. Menurut Alkitab, penggunaan uang gereja adalah untuk tiga aspek:

1) untuk kaum saleh miskin. Alkitab sangat memperhatikan kaum saleh miskin. Maka sebagian besar dari persembahan gereja lokal adalah untuk menyuplai kaum saleh miskin;

2) untuk penatua gereja lokal. Demi keperluan saudara-saudara, adakalanya mereka meninggalkan usaha mereka, adakalanya mereka harus mengorbankan lebih banyak waktu demi melayani gereja, karena itu mereka menderita kerugian dalam hal keuangan. Maka saudara setempat wajib menutupi kerugian keuangan yang diderita mereka (I Tim.

5:17);

3) untuk pekerja dan pekerjaan. Ini adalah dipersembahkan kepada Allah, bukan gaji/honorarium untuk pekerja.

Paulus berkata kepada orang Korintus, "Gereja-gereja lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia" (II Kor. 11:8-9).

Di sini kita nampak, bahwa saudara-saudara itu karena kasih Tuhan, telah mencukupkan kekurangan pekerja dan pekerjaan.

Paulus juga berkata kepada orang Filipi, "Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu gereja pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.

Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih daripada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah" (Flp. 4:15-18).

Di sini kita melihat betapa gereja di Filipi memperhatikan keperluan pekerja dan pekerjaan Allah.

Sebenarnya, bila gereja itu rohani, bila saudara saudari mengasihi Tuhan, pasti mereka menaruh banyak perhatian atas kekurangan dan keperluan pekerja dan pekerjaan. Jika tidak, mereka akan menganggap pekerjaan "tidak berhubungan" dengan gereja. Jika mereka tidak ada kewajiban resmi, maka mereka pun tidak ada beban rohani.

Kita harus ingat satu hal, yaitu dalam surat-surat kiriman rasul memang disinggung tentang nasihat membantu orang miskin dalam Tuhan dan penatua setempat, tetapi tidak pernah ada nasihat tentang membantu pekerja. Ini disebabkan surat-surat kiriman adalah pekerjaan pekerja, maka nasihat itu tidak pantas disinggung. Rasul harus menengadah hanya kepada Allah, percaya bahwa Allah bisa menggerakkan hati orang untuk memperhatikan keperluan pekerjaan dan kekurangan pekerja.

Karena itu, hari ini kita pun harus sama, yaitu tidak berbicara apa-apa untuk diri sendiri. Kita percaya, bahwa Allah mengetahui segalanya, dan Dia tidak akan mengabaikan kebutuhan kita.

Dalam perkataan Paulus terhadap orang Filipi, kita nampak betapa lapang sikapnya, sedikitpun tidak merengek dan sedikitpun tidak mengeluh miskin. Kita memang boleh mengaku "emas perak kami tak punya", tetapi perkataan ini hanya boleh dikatakan kepada orang yang tidak percaya dan kekurangan, tidak boleh dikatakan kepada saudara saudari di dalam gereja. Paulus berani berkata kepada satu-satunya gereja yang membantunya, "Aku berkelimpahan .

. ." Ia sama sekali tidak kuatir karena perkataan ini, kali lain mereka tidak mengirimkan bantuan kepadanya lagi! Pekerja tidak boleh sampai dikasihani orang, pekerja pun tidak boleh mengisyaratkan kebutuhannya kepada orang.

Demi percaya kepada Allah, pekerja harus berani berkata, "Saya tidak kekurangan apa pun." Betapa indahnya kesaksian saudari Barber, ketika ia memakai habis satu dolar yang terakhir, ia masih bisa menulis syair demikian: "pialanya penuh melimpah, selalu berlebihan." Allah tidak mempunyai hamba yang mengeluh miskin!

Karena pekerja bekerja sebagai wakil Allah dan mempersaksikan kesetiaanNya, maka dalam masalah keuangan, mereka harus sangat mandiri, dan dalam perilaku, sikap, serta tutur kata menyatakan, bahwa Allah benar-benar Tuhan penyuplai mereka. Bila kita lemah sedikit saja, Allah tidak bisa beroleh kemuliaan dalam hal ini. Para pekerja wajib menunjukkan kepada gereja, bahwa Allah kita sungguh kaya.

Pekerja tidak boleh menampakkan kemiskinannya kepada gereja dan mengharap belaskasihan dari gereja. Sungguhpun kita miskin, di hadapan gereja lokal kita seharusnya menyatakan kekayaan kita, tidak boleh menyatakan kemiskinan kita. Walau kita tidak boleh pura-pura, tapi kita wajib menyembunyikan kemiskinan kita.

Jangan memakai penampilan miskin untuk membantu Allah menggerakkan hati orang. Kita percaya bahwa Allah akan menyuplai kebutuhan kita menurut kekayaanNya di dalam Kristus, bukan menurut kemiskinan kita di hadapan manusia. Kita berani menciptakan suatu keadaan sekitar yang sukar bagi Allah, sebab kita tahu bahwa mujizat Allah tidak perlu bantuan kita.

Kita selamanya tidak menerima belaskasihan dari manusia yang manapun. Bila ada orang mengirimkan uang, itu adalah dipersembahkan kepada Allah. Kita berdiri di atas kedudukan wakil Allah untuk menerima uang.

Jika kita menerima uang kasihan dari orang, itu berarti memalukan Allah dan rekan sekerja. Jika kita sengaja bersikap kasihan sehingga orang mengasihani kita, itu benar-benar berdosa. Lebih baik membiarkan orang salah sangka, mengira kita kaya dan kita menengadah kepada Allah secara diam-diam, daripada orang lain mengetahui kemiskinan kita dan mengasihani kita.

Di sini kita wajib nampak dua perkara: 1) bahwa hamba Allah terhadap masalah keuangan harus sangat mandiri, bagaimanapun jangan sampai ada orang menilainya hidup oleh bantuan orang. Ia harus memuliakan Allah dalam hal keuangan. 2) Gereja lokal wajib sedapat mungkin membantu pekerja dan pekerjaan Allah, wajib sedapat mungkin mengirimkan uang untuk pekerjaan.

Jangan mengirimkan uang kepada saudara pekerja yang tinggal di lokal Anda saja, melainkan harus seperti orang Filipi, yang satu dua kali mengirimkan bantuan kepada Paulus, dan seperti orang Makedonia, yang melengkapi kebutuhan Paulus. Tidak seperti gereja hari ini, satu lokal hanya menyuplai satu "pendeta". Anda harus nampak keperluan pekerja dan pekerjaan di berbagai lokal.

Allah menghendaki Anda mengirimkan uang ke mana, kirimlah ke sana. Apalagi mengirim uang dengan pos wesel atau bank begitu mudahnya di saat ini. Jika anak-anak Allah hanya memperhatikan satu lokal saja, itu benar-benar tidak mempunyai pandangan rohani yang jauh.

Kedua masalah tersebut harus kita lihat dengan pandangan yang seimbang. Di aspek pekerja, jangan mengharap orang menyuplainya apa-apa. Begitu ia menengadah kepada suplai manusia, ia akan segera kehilangan kedudukannya sebagai pekerja.

Tapi di aspek lain, gereja menyuplai pekerja adalah seharusnya. Pada satu aspek, pekerja sendiri harus menanggung kewajiban pekerjaannya, sama sekali tidak boleh menengadah kepada saudara atau gereja. Tetapi pada aspek lain, sebuah gereja lokal wajib membantu pekerjaan di berbagai lokal dengan sekuat tenaga.

Hasil pekerjaan adalah untuk gereja lokal, dan tujuannya adalah membangun gereja. Allah tidak memakai pekerja yang tak beriman, Ia pun tidak memakai gereja lokal dan saudara saudari yang tidak mempunyai kasih. Saya sangat menyukai kisah Ester.

Haman ingin membunuh orang Yahudi. Mordekhai menyuruh orang membawakan surat kepada Ester yang mengatakan, "Sebab sekalipun (bila) engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa" (Ester 4:14). Artinya, "Allah berkenan kepadamu, Ia mau melepaskan orang Yahudi melalui tanganmu.

Jika kamu tidak berbuat apa-apa, Allah akan berbuat melalui tangan orang lain. Bagaimanapun Allah ingin menolong orang Yahudi." Saya menyukai perkataan Mordekhai ini. Bagaimanapun Allah pasti akan menyuplai keperluan pekerjaanNya.

Hanya saja siapa atau gereja mana yang beroleh kemuliaan tersebut. Bila orang ini tidak datang membantu, Allah akan membangkitkan orang lain, tapi orang pertama akan kehilangan kemuliaan dalam hal membantu pekerjaan Allah.

Kalau sebuah gereja lokal baik (normal) kerohaniannya, pasti mereka tahu bagaimana menyuplai pekerja. Gereja di Korintus takut kalau-kalau Paulus memakai uang mereka, karena itu Paulus tidak mau memakai uang mereka. Orang Korintus hidup dalam kedagingan, mereka kuatir uang mereka dipakai Paulus, karena itu Paulus tidak rela menerima uang mereka.

Kaum imani Filipi agak rohani, mereka satu dua kali mengutus orang menyuplai keperluan Paulus. Saat mata pekerja memandang kepada gereja, saat itulah ia merosot. Saat gereja tidak bersedia menyuplai pekerja, saat itu pula gereja merosot.

Karena itu, setiap pekerja Allah harus mengambil sikap seperti Paulus, dan setiap gereja harus mengambil sikap seperti gereja di Filipi.

Jika gereja lokal rohani, mereka akan setia terhadap pekerja yang datang dan bertamu di tengah-tengah mereka, dan membantu mereka "dalam perjalanan mereka" (III Yohanes 5-6). Namun sekalipun gereja lokal tidak menyuplai, secara prosedur gereja tidak bersalah, gereja hanya bersalah secara rohani. Sebab dalam kewajiban rohani, gereja lokal memang seharusnya membantu pekerjaan.

Seorang pekerja harus mempunyai batasan yang jelas dengan gereja lokal; semua kewajiban keuangan harus pula ada batasan yang jelas dengan gereja lokal. Andaikata pekerja bermukim di suatu lokal dalam jangka pendek, yakni diundang gereja lokal untuk bekerja dalam jangka pendek, ia boleh menerima sepenuhnya apa yang disediakan. Jika untuk jangka waktu panjang, pekerja harus menanggung kewajibannya sendiri, tidak boleh menerima perlakuan baik orang.

Bila kita menerima perlakuan baik orang dalam jangka panjang, pasti kita akan kehilangan iman untuk menengadah kepada Allah. Sekalipun orang dengan senang hati melakukan hal itu, kita harus menolaknya. Kita tidak boleh mengesampingkan iman dan hidup bersandarkan kasih saudara; kita hanya boleh hidup demi iman.

Kendatipun saudara kita ada kasih, mereka tidak seharusnya menanggung kewajiban pekerja. Saudara hanya boleh seperti orang Filipi, yaitu mengirimkan bantuannya kepada pekerja. Maka prinsip pengiriman yang dilakukan orang Filipi itu sangat penting, Allah hanya mengijinkan pengiriman, Allah tidak mengijinkan tanggung jawab.

Misalkan seorang pekerja tiba di suatu tempat. Gereja lokal boleh menampungnya untuk jangka pendek, tetapi tidak boleh terlalu lama. Jika gereja lokal menanggung kewajiban pekerja, itu akan membuat pekerja hidup tanpa iman, melainkan mengandalkan kasih manusia.

Karena itu, gereja lokal lebih baik menuruti teladan pengiriman orang Filipi, tanpa menanggung kewajiban lainnya. Lebih baik memberikan uang makan kepada mereka dan mereka sendiriyang membayar, bukan gereja yang membayarkan bagi mereka. Dengan demikian, gereja akan membuat pekerja Allah senantiasa hidup dengan menengadah kepada Allah.

Setiap orang yang terpanggil untuk mengerjakan pekerjaan Allah harus dengan tekun menengadah kepada Tuhan untuk menyuplai segala keperluannya. Gereja tidak bertanggung jawab atas kebutuhan pekerja, pun tidak bertanggung jawab atas perolehan kebaikan apa pun dari pekerja, itu semua ditanggung oleh pekerja sendiri. Gereja lokal boleh menyatakan kasih, tapi tidak bertanggung jawab apa-apa.

Jika gereja lokal harus bertanggung jawab secara resmi atas keperluan pekerja, itu salah besar. Gereja lokal memberi bantuan berdasarkan kasih, tetapi tidak ada kewajiban yang harus ditanggung. Gereja lokal mutlak tidak bertanggung jawab atas segala sesuatu pekerja.

Gereja lokal tidak saja tidak menanggung kewajiban gaji pekerja, bahkan ongkos sewa rumah dan transportasi pun tidak. Segala yang berkaitan dengan pekerja harus ditanggung oleh pekerja itu sendiri.

Paulus berkata kepada kaum imani Korintus, "Kami tidak pernah berbuat salah (berhutang) terhadap seorangpun, tidak seorangpun yang kami rugikan" (II Kor. 7:2), dan dikatakannya lagi, "Sebab dalam hal manakah kamu dikebelakangkan dibandingkan dengan gereja-gereja lain, selain dari pada dalam hal ini, yaitu bahwa aku sendiri tidak menjadi suatu beban kepada kamu . .

." (II Kor. 12:13). Ia pun berkata kepada kaum imani Tesalonika, "Karena kami tidak pernah bermulut manis - hal itu kamu ketahui - dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi - Allah adalah saksi" (I Tes.

2:5); dan "Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang dan malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu" (I Tes. 2:9).

Katanya lagi, "Dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu" (II Tes. 3:8). Itulah sikap rasul.

Bagaimanapun kita harus ingat: jangan sampai menjadi beban bagi gereja manapun, dan jangan menjadi beban bagi saudara manapun. Jangan membonceng keuntungan orang dan jangan timbul maksud loba. Ini adalah sikap yang seharusnya dimiliki seorang pekerja Allah.

Kita bukan hanya tidak menjadi orang upahan dan tidak mengambil gaji tetap dari gereja, bahkan tidak membonceng keuntungan apa pun. Lebih baik gereja yang membonceng keuntungan pekerja, tetapi pekerja sama sekali tidak boleh membonceng keuntungan gereja.

Sungguh memalukan jika orang berpredikat pekerja Allah yang hidup bersandar kepada Allah, namun selamanya tidak pernah nampak kedudukannya sendiri dan kemuliaan Allah, malahan mengira bahwa dirinya adalah orang miskin, "yang hidup bersandar Allah", sehingga patut dikasihani orang dan membonceng keuntungan orang. Padahal, tidak ada seorang pun yang seharusnya lebih lapang daripada pekerja Allah. Mereka bisa menolak keuntungan kecil dari orang dan tidak membonceng kebaikan orang karena mereka bersandar kepada Allah; lebih-lebih terhadap gereja.

Dalam keadaan bagaimanapun jangan sekali-kali kita numpang menikmati listrik, air, akomodasi/konsumsi, rumah, surat kabar dan lain-lain milik gereja. Kemurahan hati gereja menerima kita untuk sementara waktu boleh kita nikmati, tetapi dalam motivasi dan sikap kita haruslah diperhatikan dengan ketat agar jangan ada perilaku membonceng atau numpang menikmati kebaikan gereja. Pikiran yang mengira pekerja boleh numpang menikmati kebaikan gereja adalah pikiran yang memalukan Allah.

Bagaimana saudara biasa tidak berhak numpang menikmati kebaikan gereja, demikian juga seorang pekerja. Tidak ada satu perkara yang lebih dapat mengungkap pribadi pekerja daripada sikapnya terhadap kebaikan-kebaikan yang kecil itu. Orang yang tidak memperhatikan hal itu, lebih baik mencari pekerjaan lain.

Uang memang sangat mudah mempengaruhi orang! Karena itu pelayan Allah harus benar-benar beriman kepada Allah. Perjalanan pekerja dalam pekerjaannya sangat penting.

Maka dalam hal menerima kiriman hendaknya jangan mempengaruhi perjalanan kita. Bila kita mempunyai iman yang sejati dan benar-benar menaati kehendak Allah, kita tidak akan membuat perjalanan pekerjaan kita dipengaruhi oleh keuangan gereja. Bila perjalanan pekerjaan kita terpengaruh oleh suplai keuangan, itu sudah sama dengan mencari nafkah, itu sangat memalukan!

Dalam perjalanan pekerjaan kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah saya sepenuhnya demi kehendak Allah atau saya juga dipengaruhi oleh keuangan gereja? Jangan sekali-kali karena di lokal anu kita bisa menerima banyak persembahan lalu kita lebih sering ke sana, sedangkan di lokal lainnya persembahan tidak begitu banyak, maka kita jarang pergi ke sana. Ingatlah, kita melayani Allah, bukan mencari nafkah!