MASALAH KEUANGAN
Ada satu fakta yang ajaib dalam kitab Kisah Para Rasul, yakni hampir semua masalah yang berkaitan dengan rasul utusan Allah yang keluar bekerja bagi Allah, tercatat dengan terinci, tapi masalah yang dianggap paling besar oleh manusia - masalah keuangan - malah tidak disinggung sepatah katapun. Kita sama sekali tidak nampak siapakah yang menanggung kewajiban pekerja atas keperluan pribadi maupun kebutuhan pekerjaannya, dan bagaimana cara pengaturan dan penentuannya. Kebungkaman dalam hal ini sungguh ajaib!
Ini menunjukkan kepada kita, bahwa masalah yang dianggap paling penting oleh manusia, pada pandangan rasul masa itu sama sekali bukan masalah. Karena orang-orang yang keluar bekerja untuk Tuhan waktu itu semuanya adalah orang yang terdorong oleh kasih Tuhan. Mereka pergi bekerja bagi Tuhan sepenuhnya karena mengasihi Tuhan semata.
Pada saat itu, pekerjaan Allah belum merosot menjadi semacam pekerjaan mencari nafkah. Lagi pula mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Allah. Mereka mengenal kesetiaan Allah, mereka bersandar kepada kasih setia Allah.
Sebab itu, mereka sama sekali tidak meributkan masalah ini. Orang yang benar-benar beriman memang tidak perlu membicarakan masalah ini.
Tetapi masalah ini memang sangat penting. Dalam kasih karunia, Allah adalah kekuatan paling besar; tetapi di dalam dunia, Mamonlah pengaruh/kekuatan yang paling besar. Manusia memerlukan sandang, pangan, papan, dan sebagainya.
Tanpa uang, sehari pun sukar dilalui. Karena itu bila pekerja Allah tidak bisa menyelesaikan masalah keuangan, hal-hal lain nyaris tak terselesaikan. Bila masalah keuangan sudah beres, hal-hal yang lain nyaris sudah beres lebih dari separuh.
Sikap mereka terhadap masalah suplai menjadi petunjuk sudahkah mereka menerima amanat di hadapan Allah. Berhubung pekerjaan bersifat rohani, maka cara suplainya juga harus rohani. Jika tidak, pekerjaan yang rohani akan menjadi urusan duniawi.
Kalau perihal uang tidak diatasi dengan jelas, segala perkara lainnya pasti hanya bersifat idealistis. Sebab dalam pekerjaan, tidak ada satu hal yang lebih riil daripada masalah suplai. Apa saja mungkin idealistis, tetapi masalah keuangan ini tak mungkin idealistis.
Maka masalah ini paling ampuh untuk menguji seorang pekerja.
Bagi pekerja yang dipanggil Allah, apa pun jenis ministri yang dimilikinya, ia harus mempunyai iman untuk menanggung kewajiban keuangan atas dirinya sendiri dan pekerjaannya. Dalam Alkitab tidak pernah ada perkara pekerja Allah menerima gaji dari orang. Anda tidak nampak Paulus membuat perjanjian atau kontrak dengan gereja di Efesus yang menetapkan selama setahun atau dua tahun mereka harus membayarnya sekian dinar per minggu atau per bulan.
Pada masa itu, kejadian demikian sama sekali tidak terbayangkan dalam pikiran. Dalam Perjanjian Lama hanya ada Bileam yang pernah mengkomersialkan karunia nabinya, dan hanya ada Gehazi yang loba untuk memperoleh imbalan karena pekerjaan tuannya, tapi karena itu kemudian ia terkena penyakit kusta (II Raja-raja 5:27). Dalam Alkitab tak pernah ada seorang hamba Allah yang menuntut gaji kepada orang.
Semua pekerja yang melayani Allah bisa bekerja (untuk memenuhi kebutuhan keuangan) - itu paling baik -, atau bisa memiliki sumber pendapatan lain, itu pun baik. Jika tidak, ia harus menengadah kepada Allah untuk menyuplai keperluannya. Seorang pekerja tidak boleh menengadah kepada seseorang atau suatu kelompok agar menggajinya secara rutin.
Kedua belas rasul pertama dalam Alkitab semuanya menengadah kepada suplai Allah. Selama tiga tahun mengikuti Tuhan, mereka tidak menerima gaji tetap. Para rasul yang diutus Roh Kudus sesudah kenaikan Tuhan juga hidup oleh iman kepada Allah, mereka tidak pernah mengandalkan seseorang sebagai donatur.
Maka, para rasul hari ini pun harus menengadah kepada Allah sama seperti para rasul semula itu.
Jika seseorang bisa beriman kepada Allah, barulah ia boleh keluar bekerja. Jika ia tidak beriman kepada Allah, ia tidak memenuhi syarat bekerja bagi Allah. Manusia selalu mengira, jika hidupnya sudah tenang, ia akan lebih mantap dalam mengerjakan pekerjaan Allah.
Padahal, pekerjaan rohani justru memerlukan kondisi hidup yang tidak stabil, sebab pekerjaan rohani berbeda dengan pekerjaan duniawi. Melakukan urusan duniawi cukup asal Anda mempunyai kemampuan dan kemauan. Tetapi pekerjaan rohani memerlukan persekutuan dengan Allah, wahyu kehendak Allah dan pemeliharaanNya dari sorga.
Bila hidup seseorang makin stabil, makin berkuranglah hatinya menengadah kepada Allah. Ia akan tidak butuh bersekutu secara hidup dengan Allah, melainkan mengandalkan karunia dan kegairahannya belaka. Tetapi Allah tidak mengijinkan hambaNya menerima gaji tetap supaya hidupnya stabil, melainkan menghendakinya selalu menengadah kepadaNya, selalu bersandar kepadaNya, selalu bersekutu denganNya, selalu menuntut untuk mengenal kehendakNya dan mendambakan pemeliharaanNya dari sorga.
Dengan demikianlah baru ia dapat mengerjakan pekerjaan yang baik bagi Allah. Bila hidupnya semakin sulit dan bisa semakin menengadah dan bersekutu dengan Allah, niscayalah kualitas pekerjaannya akan semakin rohani. Kebuntuan jalan manusia adalah jalan keluar bagi Allah.
Dalam pekerjaan rohani makin sedikit unsur manusia makin baik, makin banyak unsur Allah makin baik. Orang yang hidupnya mengandalkan gaji, unsur Allah dalam pekerjaannya pasti sangat sedikit. Itu dikarenakan bila seseorang memiliki pendapatan tetap, ia akan malas bersandar kepada Allah.
Manusia selalu berpikir, "Jika aku setiap bulan menerima pendapatan tetap, sehingga hidupku bisa lebih stabil, tentu aku bisa bekerja lebih tekun." Padahal ini bukan syarat utama bagi pekerjaan. Ini tidak saja tidak bisa membantu pekerjaan, malah sebaliknya akan merusak/merugikan pekerjaan. Pekerjaan tidak dapat dilakukan tanpa beriman.
Entah berapa banyak perkara yang perlu kita atasi dengan iman. Tanpa iman yang hidup, pekerjaan kita mustahil sukses. Namun iman kita terhadap pekerjaan terlatih dan terbina melalui kekurangan dan suplai jasmani.
Ini disebabkan tidak ada satu perkara yang lebih riil daripada suplai kebutuhan hidup kita. Mungkin dalam urusan lain kita gampang berkata, bahwa kita percaya kepada Allah, tetapi dalam urusan nafkah, kita tidak dapat, sebab ini adalah perkara yang amat riil. Jika dalam hal ini kita bisa beriman kepada Allah, maka dalam perkara lain pun kita bisa beriman kepada Allah.
Ini benar-benar ujian besar bagi iman kita. Jika mulut kita dapat berkata bahwa Allah adalah Allah yang hidup selamanya, tapi dalam hati kita tidak bisa percaya, bahwa Dia mampu menyuplai kebutuhan jasmani kita, bukankah itu suatu kontradiksi?
Lagi pula, uang adalah kekuasaan. Barangsiapa memegang pundi uang, dialah yang berkuasa. Uang bisa mengendalikan orang.
Bila kita menerima suplai keuangan dari seseorang, pekerjaan kita pun akan dikendalikan olehnya. Bila kita mendengar suara uang orang, tak lama lagi kita pun akan mendengar suara perkataannya. Di dunia ini tidak ada orang yang menerima uang orang tanpa menerima pengaturannya.
Maka begitu iman kita bertumpu pada seseorang, sejak saat itu pula kita tidak mungkin melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak dipengaruhi orang. Kesulitan hari ini ialah, di samping ingin mendapatkan uang dari manusia, orang juga ingin melakukan pekerjaan Allah. Akibatnya, ia tidak disenangi manusia juga tidak diperkenan Allah.
Hari ini, kita sangat sulit menemukan seseorang yang menerima gaji dari manusia, tapi tidak terpengaruh oleh manusia dan bisa bekerja dengan tekun bagi Allah. Bila kita menerima uang, kita pun akan menerima pengaturan dari pemberinya. Ini sudah pasti.
Allah tidak ingin pekerjaNya dikendalikan manusia, Allah ingin Dia sendiri yang mengendalikan pekerjaNya. Mereka yang berpengalaman di antara kita tahu, betapa Roh Kudus Allah menguasai kita melalui uang. Ketika kita hidup di dalam kehendak Allah, terpenuhinya kebutuhan kita tidak jadi masalah.
Tetapi bila hubungan kita dengan Allah mengalami hambatan, suplai kita pun akan jadi masalah. Allah memakai masalah suplai sebagai petunjuk apakah kita berada di jalan kehendakNya atau bukan. Seringkali Allah juga dengan masalah suplai membimbing pekerjaan kita.
Banyak perkara yang menurut angan-angan kita harus kita kerjakan, tetapi Allah menghalanginya dengan masalah keuangan. Di saat lain Allah dengan hal ini pula melarang kita agar kita tidak keluar dari relNya. Hidup di hadapan Allah dan dikendalikan olehNya sedemikian adalah hidup yang sangat mustika!
Bila kita tidak menempuh hidup bersandar iman, kita akan kehilangan latihan yang mustika ini.
Dalam kewajiban pribadi setiap pekerja Allah, yang dipikirkan pertama kali adalah uang. Masalah pertama yang wajib diatasi oleh pekerja Allah ialah ia harus bertanya kepada diri sendiri, "Aku dipanggil untuk melayaniNya, dapatkah aku menengadah kepada Allah dan hanya bersandar kepadaNya dalam menempuh hidup? Kalau tidak bisa, aku tidak layak bekerja." Sebab jika kita tidak mampu mandiri dalam masalah keuangan, pekerjaan pun tidak bisa mandiri.
Jika dalam hal keuangan kita tidak dapat bersandar kepada Allah, dalam pekerjaan pun kita tidak dapat bersandar kepada Allah. Uang bisa mengendalikan manusia. Kalau kita bisa beriman kepada Allah dalam menempuh hari-hari kita, maka kita sendiri, karena Allah, bisa menanggung kewajiban diri sendiri dan tidak akan dikendalikan oleh manusia.
Setiap pekerja Allah, jika belum siap dalam iman, lebih baik jangan menempuh jalan ini. Saya menganjuri kalian jangan keluar bekerja, lebih baik sambil menyandang pekerjaan dunia sambil melayani Tuhan. Seorang pekerja harus bersandar kepada Allah.
Jika ada saudara-saudara yang menyuplai, itu baik, Anda harus bersyukur kepada Allah; kalau tidak, Anda tetap harus bersyukur kepada Allah. Setiap pekerja sama sekali tidak boleh menaruh harapan kepada seorang saudara. Harus selalu mempunyai sebuah hati yang "unggul", sama sekali tidak menghiraukan bagaimana perlakuan saudara terhadap Anda.
Para pekerja harus sepenuhnya mandiri terhadap masalah uang, sedikit pun tidak terpengaruh oleh kondisi di luar. Tak jarang orang tidak mengetahui panggilan Allah, tanpa iman yang hidup, tak tahu bagaimana hidup bersandar kepada Allah. Akibatnya, melihat air sungai Kerit sudah kering, sang gagak tidak kunjung datang dan tidak ada bantuan si janda itu.
Mata mereka selalu menatap pada lingkungan sekitar sehingga membuat pekerjaan terkena aib dan nama Tuhan tidak dapat dimuliakan. Semua pekerja harus selalu menengadah kepada Allah. Ada bantuan saudara, bersyukur kepada Allah, tidak ada bantuan saudara, juga tidak menengadah kepada mereka.
Karena kita sendiri bersandar kepada Allah, maka kita harus menanggung semua kewajiban, tidak boleh mendambakan bantuan orang. Jangan berharap kepada kasih manusia, tapi harus ada iman yang berharap kepada Allah. Harus bersyukur, baik saudara menaruh kasih atau tidak.
Jangan begitu keluar bekerja, sudah menoleh ingin mendapat bantuan dari manusia. Kalau demikian, pekerjaannya bukan berasal dari iman, dan orang demikian tidak layak melakukan pekerjaan Tuhan. Saya sering berkata, "Bila mata Anda menengadah kepada saudara, itu memalukan Allah dan memalukan rekan sekerja." Anda sudah bukan lagi hidup bersandar kepada kesetiaan Allah, melainkan bersandar kepada kasih saudara.
Tak sedikit orang yang ketika baru keluar memang bersandar iman, tetapi selang beberapa saat mereka menunggu kasih manusia, dan pada akhirnya hanya tinggal harapan untuk bisa hidup saja. Iman, harapan dan kasih yang demikian tidak seharusnya dimiliki seorang pekerja.
Setiap pekerja harus sangat mandiri terhadap masalah keuangan. Karena beriman kepada Allah, maka berani tidak bersandar kepada manusia; karena beriman kepada Allah, maka berani menolak manusia. Bila kita terus-menerus berharap kepada suplai manusia, begitu sumbernya kering, sumber kita pun ikut kering; bila kita bersandar kepada manusia, begitu manusia itu menghadapi masalah, kita pun ikut menghadapi masalah.
Syukur kepada Allah, Dia adalah batu karang kita, dibangun di atas batu karang ini, kita selamanya tidak akan tergelincir. Walau manusia bisa berubah, situasi bisa berubah, tapi yang kita sandari bukan mereka, maka kita tidak goyah. Kita harus ingat, bahwa lembu dan kambing di seluruh bukit dan segala emas dan perak adalah milik Allah.
Setiap orang yang hidup di dalam kehendakNya, tidak kuatir kehilangan suplai.
Banyak orang yang pernah memberi kepada kita, seolah boleh menjadi sandaran, namun banyak di antara mereka yang lenyap setelah sejangka waktu. Tetapi demi kasih karunia dan kesetiaan Allah, kita masih utuh hingga hari ini. Andaikata kita mengandalkan bantuan mereka, begitu mereka habis, kita pun habis.
Di dalam dunia ini, uang ingin menggantikan Allah meraja atas manusia. Kalau kita ingin melayani Allah dengan setia, kita harus belajar menerima suplai kita dari tangan Allah. Jika tidak, mata kedagingan kita mudah sekali memandang tangan Mamon!
Dalam pekerjaan ada dua langkah: 1) memperoleh suplai Allah melalui berdoa dengan iman; 2) melakukan pekerjaan secara resmi. Yang pertama ialah iman atas masalah keuangan, yang kedua adalah pelaksanaan pekerjaan. Kesulitan hari ini ialah manusia tidak mempunyai iman yang sebagai langkah pertama, namun selalu ingin melakukan pekerjaan langkah kedua.
Mereka damba mempunyai simpanan uang untuk segala kebutuhan, untuk dipakai dalam pekerjaan. Tapi itu hanya ada langkah kedua, tanpa langkah pertama, dan itu tidak ada nilai rohaninya. Apa pun harus diawali oleh iman, bila iman lenyap, pekerjaan rohani pun lenyap.
Maka iman adalah langkah pertama, segalanya harus dimulai dari iman atas masalah keuangan. Tanpa iman atas hal suplai, tak peduli bagaimana berhasilnya pekerjaan itu, tetap akan gagal. Bila suplai itu terhenti, pekerjaan pun tak dapat dilanjutkan.
Paulus berkata, bahwa pekerja beroleh upah itu wajar, dan pemberita Injil harus hidup dari pemberitaan Injil (I Kor. 9:14). Itu benar.
Tetapi apa maksud pemberita Injil harus hidup dari pemberitaan Injil? Apakah itu berarti ia menerima suplai tetap dari manusia, ataukah menerima gaji dari gereja? Tidak.
Ketika Paulus mengucapkan kata-kata ini, sama sekali tidak terkandung maksud menerima gaji seperti hari ini. Maksud Paulus ialah pekerja Allah boleh karena menginjil menerima kiriman/pemberian dari orang (Flp. 4:18).
Ini sifatnya tidak berkala, tidak tentu banyaknya, tanpa kewajiban dan tanpa paksaan. Hal tersebut tak lain dikarenakan hati kaum imani tergerak oleh kasih Allah sehingga rela mengirimkan kebutuhan hidup kepada pekerja Allah. Meskipun pekerja menerima kiriman itu dari tangan kaum imani, mereka tetap menengadah kepada Allah.
Hati mereka bersandar kepada Allah, mata mereka memandang kepada Allah dan karena Allah mengabulkan doa mereka, maka Ia menggerakkan hati saudara untuk memberi kiriman kepada mereka agar mencukupi kekurangan mereka. Menerima kiriman uang secara demikianlah yang dimaksud hidup dari pemberitaan Injil. Ketika berada di Tesalonika, Paulus menerima kiriman dari gereja di Filipi (Flp.
4:16), dan ketika berada di Korintus, ia menerima bantuan dari Makedonia (II Kor. 11:9). Hal itu adalah semakna.
Jadi, hidup dari pemberitaan Injil bukan mengacu kepada suplai tetap yang ditanggung oleh gereja.
Di sinilah letak persoalannya: dari manakah sebenarnya pekerja utusan Allah itu beroleh suplai hidup mereka? Ya, pemberita Injil harus hidup dari pemberitaan Injil, pekerja menerima upah itu wajar. Tapi untuk siapakah sebenarnya mereka memberitakan Injil?
Dari siapakah sebenarnya mereka menerima upah? Jika mereka pekerja gereja, mereka boleh mengambil gaji dari gereja. Jika mereka pekerja Allah, mereka hanya boleh menerima suplai dari Allah, tidak boleh meminta gaji kepada gereja.
Alkitab memberi kita ajaran yang cukup jelas, bahwa pekerjaan mutlak terpisah dengan gereja. Karena itu, secara lahiriah, pekerja harus menanggung sepenuhnya kewajiban keuangan pekerjaan. Tetapi pada realitasnya, Allah adalah Tuan segala pekerjaan, maka Ia pasti akan menanggung semua kewajiban keuangan mereka.
Semua persoalannya tergantung pada adakah panggilan Allah atau adakah pengutusan Allah. Jika ada panggilan dan pengutusan Allah, maka Allah harus menanggung semua kewajiban keuangan pekerjaan Anda, dan Anda boleh hidup dari pemberitaan Injil Anda. Allah pasti akan mengabulkan doa Anda, dan menggerakkan hati saudara untuk memberi kiriman, untuk mencukupi kebutuhan hidup Anda.
Kalau bukan diutus Allah, melainkan tekad kemauan Anda sendiri, maka mungkin saja Anda tidak dapat hidup dari pemberitaan Injil, karena Allah tak mau bertanggung jawab atas segala kekurangan Anda. Ketika saudari M. E.
Barber bermaksud datang ke Cina untuk melayani Tuhan, ia dapat merasakan betapa ia akan menjadi seorang yang sebatang kara di negeri asing dan sulit bersandar kepada Allah. Maka ia minta petunjuk kepada Wilkinson yang kaya pengalamannya di dalam Tuhan. Wilkinson berkata, "Merantau sebatang kara di negeri asing yang jauh itu bukan masalah.
Masalahnya hanya satu, yakni: Anda sendiri yang mau pergi, atau Allah yang mengutus Anda pergi?" Saudari Barber menjawab, "Allah yang menghendaki aku pergi." Wilkinson berkata, "Jika demikian, Anda tidak perlu bertanya apa-apa lagi. Karena Allah yang menyuruh Anda pergi, Allah pasti bertanggung jawab terhadap Anda. Anda tak perlu bertanya kepadaNya bagaimana cara Dia bertanggung jawab terhadap Anda.
Tapi jika Anda sendiri yang ingin pergi, akibatnya pasti keaiban dan kemiskinan." Sudahkah Anda nampak, apakah yang memungkinkan Anda hidup dari pemberitaan Injil?
Di Korintus, Paulus sendiri hidup sebagai pembuat tenda. Ia tidak cukup hidup dari penginjilannya (I Kor. 9).
Dari sini kita nampak adanya dua jalur cara beroleh kebutuhan hidup bagi pekerja Allah: bekerja dengan tangan sendiri dan menengadah pada suplai Allah dengan pemberitaan Injil. Hidup dari pemberitaan Injil bukan berarti meminta saudara saudari dalam gereja untuk memikul kewajiban menyuplai kebutuhan hidup kita, melainkan menengadah dan percaya bahwa Allah bisa menyuplai. Jadi, bekerja dengan tangan sendiri adalah satu cara, dan percaya pada suplai Allah adalah cara lain.
Selain itu tidak ada cara ketiga.
Paulus bekerja dengan tangannya sendiri, itu sangat baik. Tapi apa yang dikerjakannya itu agak istimewa, itu bukan pekerjaan yang rutin, melainkan cara yang dipakai hamba Allah untuk menyesuaikan diri dengan situasi, dan bukan yang harus dicontoh oleh orang lain. Paulus juga mengakui, orang lain tidak harus demikian.
Ini diungkapkannya dengan jelas dalam I Korintus 9. Mari kita baca dari ayat 11 sampai 15, "Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah, kalau kami menuai hasil kebutuhan jasmani dari pada kamu? Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar?
Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus. Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan mereka yang melayani mezbah, mendapat bagian mereka dari mezbah itu?
Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu. Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan demikian.
Sebab aku lebih suka mati daripada . . .
! Sungguh kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!" Ayat 18, "Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil." Dari sini kita nampak, ada satu hak Injil yang bisa dipergunakan oleh setiap pemberita Injil.
Tetapi hak ini tidak dipergunakan oleh Paulus. Itu disebabkan Paulus adalah: 1) orang yang menerima amanat khusus Allah; 2) ia berada dalam situasi luar biasa. Bila ada orang seperti Paulus, itu boleh saja, tetapi itu jarang sekali.
Itupun bukan cara yang lazim diterapkan dalam Alkitab. Bagi segolongan pekerja Allah, Allah tetap menghendaki mereka hidup bersandar dan beriman kepada Allah.
Ini tidak berarti Paulus tidak pernah menerima bantuan dari gereja. Mari baca II Korintus 11:7-10, "Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma? Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu!
Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian. Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapa pun di daerah-daerah Akhaya." Ada gereja-gereja yang biasa mengirimkan uang kepada Paulus, dan ia menerimanya juga, hanya saja ia enggan menerima uang seperti yang di Korintus itu.
Di beberapa tempat, Paulus seperti orang lain, menggunakan hak penginjilannya, menerima bantuan dari manusia, yang hatinya digerakkan oleh Allah. Tetapi di daerah Akhaya, ia tak mau menggunakan hak tersebut karena situasinya berbeda. "Upah" yang Allah berikan melalui menggerakkan gereja lain diterimanya, tapi ia tak mau menerima yang dari Korintus.
Sebab sikap kaum imani Korintus tidak benar.
Dari sini kita nampak penetapan Allah. Paulus berkata, bahwa ada satu hak, yakni penabur benih rohani bisa menuai kebutuhan hidupnya dari orang. Tetapi Paulus tidak pernah menggunakan hak itu terhadap orang Korintus.
Ini tidak berarti Paulus tidak pernah menanyakan tentang uang kepada mereka, melainkan ia tidak mau menerima uang mereka. Itu tak lain karena motivasi mereka terhadapnya tidak benar. Paulus mau menerima kiriman uang dari orang Filipi; Paulus mau menggunakan hak ini.
Sering kali bila seseorang memberi, walaupun nilainya kecil, lebih baik tidak kita terima, sebab di baliknya ada maksud lain. Begitulah keadaan orang Korintus. Paulus tak mau menerima uang dari mereka.
Jadi harus kita bedakan antara Korintus dengan Filipi sebagai perbandingan. Bila orang memberikan uangnya karena mengasihi Allah dan diperkenan Allah, uang itu boleh diterima. Itu berarti kita mewakili Allah menerima uang mereka, agar mereka boleh beroleh berkatNya.
Jika tidak, lebih baik kita tidak menerimanya, agar kita tidak menyalahgunakan hak penginjilan kita.