Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 8 • Modul 30

Doktrin dan Pekerjaan Iman

Pembacaan Alkitab
"Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya." — Kisah Para Rasul 28:30

MINISTRI DARI BERBAGAI DOKTRIN

Karena itu, masalah hamba Allah terhadap ministri masing-masing dalam hal doktrin, sangatlah penting. Kita tahu, semua pekerja berada dalam ministri itu, dan semuanya demi membina Tubuh Kristus. Namun orang-orang yang termasuk dalam ministri itu, masing-masing memiliki ministri bidang doktrin yang berbeda.Setiap orang memiliki ministrinya masing-masing, dan jelas, dari masa ke masa Allah sering membangkitkan sekelompok saksi baru, agar mereka nampak terang baru dalam firman sehingga menjadi saksi yang berguna, yang sesuai dengan kehendak Allah pada masa tersebut.

Dalam ministri firman Allah, mereka adalah yang baru dan berbeda dengan orang lain. Orang demikian besar sekali gunanya dan benar-benar patut dimustikakan. Tapi ada satu hal yang patut diingat, bila Allah mengaruniakan kepada seseorang suatu ministri doktrin khusus, jangan sekali-kali ia menaruh sebuah motif, yaitu ingin mendirikan satu "gereja" dengan doktrin khusus atau ministri khususnya itu.

Setiap hamba Allah hendaknya jangan mempunyai satu ambisi, yakni agar doktrinnya sendiri beredar; ia hanya boleh menantikan Allah dalam keadaan sekitar; ia hanya boleh berdoa, mohon Allah membukakan pintu agar doktrinnya beredar luas. Tetapi ia selamanya tidak boleh mendirikan "gereja" lain untuk mempertahankan kesaksiannya. Misalkan seseorang mendapat terang baru atas doktrin kemenangan, dan yang lain lagi ada perolehan baru atas doktrin pralambang.

Semua itu baik. Tetapi baik itu diterima maupun ditolak orang janganlah Anda dengan itu mendirikan satu "gereja" untuk mempertahankan kebenaran yang Anda tekankan itu. Dalam Alkitab semua kebenaran adalah untuk gereja.

Dalam Alkitab selamanya tidak pernah ada sebuah "gereja" untuk mempertahankan satu kebenaran. Alkitab hanya mengakui satu kelompok yakni gereja lokal.

Ada satu hal yang wajib terukir dalam hati setiap pekerja, yaitu pekerjaan kita adalah untuk ministri kita, dan ministri kita adalah untuk gereja. Gereja selamanya tidak boleh jatuh di bawah suatu ministri. Ministri harus tunduk di bawah gereja.

Gereja bukan untuk ministri, tapi ministri untuk gereja. Pekerjaan adalah untuk menggenapkan ministri, sedang ministri adalah untuk melayani gereja. Pekerjaan hamba Allah adalah untuk menyukseskan ministrinya sendiri, dan ministrinya untuk membina gereja lokal.

Tetapi sayang sekali, minister-minister hari ini kebanyakan menginginkan gereja tunduk di bawah ministri mereka! Orang yang menghendaki banyak gereja tunduk di bawah pengendalian ministrinya mengakibatkan gereja menjadi bukan milik lokal, melainkan milik sekte. Maka dalam sejarah gereja, tiap sekian tahun berselang, ministri-ministri khusus yang khusus dibangkitkan Allah harus bersikap bagaimana barulah benar?

Ada satu hal yang wajib kita perhatikan, yakni bila muncul sebuah kebenaran baru, dengan sendirinya ada segolongan orang yang mengikutinya. Bila segolongan orang itu tidak masuk ke dalam gereja lokal agar gereja lokal diperluas, melainkan mendirikan satu "gereja" baru, itu berarti ingin mendirikan gereja milik ministri, dan ingin menaruh gereja di bawah ministri. Namun kehendak Allah ialah ministrilah yang harus tunduk di bawah gereja dan melayani gereja.

Tapal batas gereja adalah lokal, bukan ministri. Maka bila anak-anak Allah bermaksud menyuruh gereja tunduk kepada ministri, itu adalah titik awal sekte baru. Dari sejarah gereja kita nampak, semua sekte nyaris bertitik awal dari adanya ministri baru, kemudian diikuti oleh pengikut-pengikut baru, dan yang mengakibatkan munculnya kelompok baru.

Maka tak terelakkan, gereja tunduk kepada ministri, dan bukan lagi milik lokal.

Karenanya, kalau Tuhan menangguhkan kedatanganNya, kalau kita setia dan jika itu kehendak Allah, maka sewaktu-waktu akan ada kemungkinan munculnya ministri baru. Allah mengaruniakan kepada orang satu kebenaran khusus yang melaluinya anak-anak Allah beroleh faedah. Tetapi tidak semua orang dapat menerima sebuah kebenaran baru, malah mungkin mencurigai dan menolak, bahkan menilainya bukan kebenaran tetapi bidat.

Jika demikian, bagaimanakah seharusnya sikap seorang minister? Anda wajib ingat dengan tuntas: Satu lokal hanya ada satu gereja.Bila khotbah Anda diterima orang, Anda harus bersyukur kepada Allah. Bila ada yang menolak, Anda pun harus bersyukur kepada Allah.

Anda jangan di luar gereja lokal melakukan usaha memecah belah. Anda wajib menyerahkan kebenaran Anda ke dalam gereja lokal dan jangan di luar gereja lokal mendirikan satu "gereja" yang merangkum orang-orang yang menerima kebenaran Anda. Andaikata dalam gereja ada beberapa orang menerima kebenaran Anda, maka orang-orang itu tetap harus berada di dalam gereja lokal.

Mereka boleh memperoleh orang dengan ajaran dan kekuatan rohani. Mereka hanya dapat mengharukan orang dengan doktrin dan buah rohani, tapi selamanya tidak dapat memecah belah anak-anak Allah dengan cara lainnya. Gereja Allah adalah milik lokal.

Saya terus-menerus mengatakan, bahwa ruang lingkup gereja adalah lokal. Dengan mengingat ini kita akan terhindar dari banyak sekte.

Kalian yang menjadi minister hanya boleh menengadah kepada Allah agar kebenaran itu bisa diterapkan di dalam gereja. Tapi jangan karena doktrin Anda itu menjadi populer pada saat itu, lalu Anda mendirikan sebuah "gereja" lain. Apakah ministri Anda diterima oleh gereja lokal atau ditolak, Anda hanya dapat menantikan pengaturan Allah.

Jangan mempromosikannya dan mempertahankan kesaksian Anda dengan memakai cara organisasi apa pun.

Misalkan Anda telah beroleh ministri khusus dari Allah. Bila Anda tiba di suatu tempat yang belum ada gereja lokal, Anda harus mendirikan dulu gereja lokal di sana, kemudian baru Anda meletakkan ministri Anda ke dalam gereja tersebut. Anda hanya boleh mendirikan gereja lokal, tidak boleh mendirikan gereja ministri.

Anda tidak boleh berdasarkan perbedaan ministri mendirikan sebuah gereja ministri. Anda hanya boleh dengan alasan lokalitas mendirikan sebuah gereja lokal.

Sekarang kita ambil sebuah perumpamaan dangkal untuk menyatakan hubungan antara berbagai ministri dengan gereja-gereja lokal. Ada saudara A membuka toko kertas, saudara B membuka toko bunga dan saudara C membuka toko pakaian. Mereka masing-masing bertujuan menyediakan komoditi mereka sebanyak mungkin dan menjualnya sebanyak mungkin.

Apakah artinya mendirikan gereja dengan ministri? Itu ibarat Anda dengan komoditi Anda membuka cabang toko, yang khusus menjual komoditi Anda di mana-mana. Misalkan Anda yang menjual kertas mendirikan cabang toko kertas di mana-mana; yang menjual bunga mendirikan cabang toko bunga di mana-mana; yang menjual pakaian juga mendirikan cabang toko pakaian di mana-mana.

Seperti itulah orang yang mendirikan "gereja" dengan ministri khusus. Namun itu tidak sesuai dengan cara yang dikehendaki Allah, dan tidak Alkitabiah.

Cara Alkitab ialah terlebih dulu mendirikan satu gereja di suatu lokal, kemudian baru mengisi gereja ini dengan berbagai ministri yang berbeda. Alkitab tidak mengijinkan orang mendirikan gereja dengan ministri. Ajaran Alkitab ialah dengan ciri-ciri ministri itu menyuplai gereja.

Karena itu, bila Anda tiba di suatu tempat, bukan terlebih dulu membuka cabang toko bunga Anda, melainkan terlebih dulu mendirikan sebuah toko serba ada. Sesudah ada toko serba ada barulah Anda memajangkan kertas Anda, bunga Anda atau pakaian Anda di dalamnya. Jadi bukan hanya sejenis komoditi, melainkan memberikan tempat untuk menampung komoditi lainnya.

Setiap kita tiba di suatu tempat, kita selalu harus membuka toko serba ada. Barang saya diletakkan di dalamnya, barang Anda diletakkan di dalamnya dan barang dia pun diletakkan di dalamnya. Kehendak Allah ialah: ada gereja dulu di sebuah lokal, kemudian para hamba Allah mempersembahkan ministri mereka yang berbeda-beda kepada gereja ini.

Gereja bukan hanya milik satu ministri, melainkan banyak ministri. Semua ministri adalah untuk gereja lokal. Semua ministri tunduk di bawah gereja lokal.

Sebagaimana dalam toko serba ada terdapat banyak macam barang, demikian pula dalam gereja Allah, tidak hanya ada sejenis ministri. Jika hanya menjual sejenis komoditi, hanya menampung ministri-"ku" saja, itu adalah sekte.

Maka perkara pertama yang kita lakukan begitu tiba di suatu tempat ialah mendirikan gereja lokal. Bila gereja telah berdiri, kita boleh menyuplainya sekuat tenaga dengan ministri kita. Sesudah itu kita boleh meninggalkannya.

Kita harus berani setia bersaksi dengan ministri kita, kita pun harus berani memberi kesempatan bagi ministri orang lain. Ini merupakan sikap yang wajib dimiliki setiap hamba Allah. Jangan sekali-kali mengharap hanya ada ajaran kita di dalam gereja.

Kita harus membiarkan gereja Allah memiliki berbagai jenis ajaran. Bila ajaran saya disambut baik oleh banyak orang, saya bersyukur kepada Allah. Sekalipun ajaran saya ditolak, saya tetap bersyukur.

Ketika ministri saudara kita diberkati Allah, kita harus lebih bersyukur kepada Allah! Bagaimanapun kita tidak boleh mempunyai hati ingin memonopoli gereja. Kita harus memberi kedudukan bagi ministri saudara kita yang lain.

Kita tidak seharusnya melindungi "jemaat" kita dengan tidak menerima bantuan wajar dari orang lain. Ministri ada dalam tangan Allah, maka Allah akan bertanggung jawab memelihara ministri kita sejauh mana ia berfungsi. Jika kita mendirikan "gereja" dengan ministri, berarti kita bermotif menjadi paus.

Maka kalau Allah membangkitkan ministri baru, ia hanya untuk mengabdi kepada gereja lokal, dan tidak karenanya lalu timbul denominasi atau organisasi baru. Di luar gereja lokal, ministri baru bagaimanapun tidak boleh membentuk "gereja" baru yang lain.

PEKERJAAN IMAN

Ini tak berarti di luar rasul dan ministri berbagai doktrin tidak ada lagi pekerja Allah yang lain. Kita tahu, bahwa Allah mempunyai banyak pekerja. Para pekerja dalam ministri itu hanya satu di antara yang lainnya.

Allah mempunyai sekelompok pekerja yang secara lahiriah pekerjaan mereka seolah tidak serohani pekerjaan para rasul dan ministri-ministri lain. Akan tetapi realitas dan tujuan pekerjaan mereka juga sama rohaninya. Itulah yang saya maksud dengan "pekerjaan iman".

Akhir-akhir ini banyak pekerjaan iman bermunculan, dan sungguh bermanfaat bagi gereja. Pekerjaan iman tersebut adalah pekerjaan Allah, walau tidak harus berupa penginjilan seperti yang dilakukan rasul, atau mempersaksikan kebenaran seperti yang dilakukan ministri bidang doktrin. Manusia boleh ada di dalam ministri itu, manusia pun boleh ada di dalam ministri lainnya, tetapi bersamaan dengan itu menerima amanat Allah untuk melakukan pekerjaan iman.

Misalkan George Muller, panti asuhannya adalah suatu pekerjaan yang demikian. Allah memanggil dia dan dia bangkit melakukan pekerjaan tersebut bukan mengandalkan kekuatan manusia, melainkan mengandalkan janji Allah. Mulanya ia memiliki beberapa rekan sekerja, kemudian menantunya yang meneruskan pekerjaannya.

Apa yang dilakukan Muller dan rekan-rekannya itu juga sejenis pekerjaan. Mereka bukan khusus menjadi rasul atau minister firman tertentu, pun bukan khusus bekerja di dalam gereja lokal. Tetapi pekerjaan mereka benar-benar adalah pekerjaan Allah.

Mereka ada panggilan Allah untuk melakukan pekerjaan panti asuhan, bagaimanakah hasil pekerjaan mereka? Hasil pekerjaan mereka ialah memperoleh orang dari panti asuhan itu, tapi tidak menjadikan mereka gereja panti asuhan, melainkan diberikan kepada gereja lokal. Panti asuhan juga sejenis pekerjaan.

Tetapi usaha ini selamanya tak memenuhi syarat untuk menjadi gereja, hanya lokallah yang layak mendirikan gereja. Di panti asuhannya terdapat banyak yatim piatu, bahkan ada banyak saudara. Jumlah kaum imani di Bristol malah tidak sebanyak kaum imani di dalam panti asuhan itu.

Tetapi Bristol layak mendirikan gereja. Panti asuhan merupakan suatu pekerjaan, ruang lingkupnya tidak sebesar lokal, dan ia bukan satu kota, maka ia tak layak mendirikan gereja. Tak peduli bagaimana besarnya dan bagaimana majunya pekerjaan iman itu, kita tak dapat mendirikan gereja dalam ruang lingkup pekerjaan.

Kalau kita mendirikan gereja di dalam ruang lingkup pekerjaan, andaikan di satu kota terdapat beberapa pekerjaan, maka akan berdiri beberapa gereja di kota itu. Kalau begitu, bukan lokal yang menjadi batasan gereja, melainkan pekerjaan.

Lima tahun yang silam, ketika saya berada di kota Tsinan, ada saudara dari universitas Chiloo bertanya, "Bagaimana kalau kami memecahkan roti di sini?" Saya balik bertanya, "Itu untuk Universitas Chiloo atau untuk Tsinan?" "Tentu untuk Chiloo", jawab mereka. Lalu saya berkata, "Kalau begitu, saya tidak dapat mengambil bagian dalam pemecahan roti itu." "Mengapa?" tanya mereka. Saya menjawab, "Apakah tumpuan kalian?

Alkitab tidak mengijinkan ada meja Tuhan di Universitas Chiloo. Alkitab hanya mengijinkan ada meja Tuhan di Tsinan." Mereka bertanya lagi, "Bila di Tsinan hanya ada belasan orang yang beroleh selamat di universitas Chiloo, bolehkah kami memecahkan roti bersama?" Saya berkata, "Jika untuk universitas Chiloo, lebih banyak orang pun tidak boleh. Sebaliknya, jika untuk Tsinan, lebih sedikit dari itu pun boleh.

Sebab ruang lingkup universitas Chiloo tidak cukup besar, maka tidak layak untuk memecahkan roti, dan tidak layak untuk mendirikan gereja. Ruang lingkup gereja adalah lokal. Ruang lingkup universitas Chiloo bukan ruang lingkup lokal, melainkan ruang lingkup universitas.

Yang menjadi persoalan bukan banyak atau sedikitnya orang, melainkan berbatasan lokal atau bukan. Jadi tumpuan universitas Chiloo tidak layak memecahkan roti, tapi tumpuan Tsinan layak mendirikan gereja."

Jika seseorang yang menerima amanat Allah memperoleh hasil dari pekerjaannya, ia tidak boleh memiliki hasil itu dengan mendirikan gereja di dalam lingkungan usahanya itu. Tidak boleh, sebab usaha Anda tidak memenuhi syarat. Ruang lingkup gereja yang ditetapkan Allah adalah sebesar lokal, maka yang tidak sebesar lokal tidak memenuhi syarat gereja.

Pernah sekali di Shanghai, beberapa penginjil Barat menemui saya seusai saya berkhotbah. Mereka bertanya bagaimana pendapat saya terhadap lembaga anu? Saya berkata, bahwa saya sangat setuju dengan usaha semacam itu.

Kalau bisa saya harap dapat membantu mereka sekuat tenaga. Mereka menginjil di sana untuk menyelamatkan jiwa, itu baik sekali. Hanya saja lembaga anu itu adalah pekerjaan semata, bukan gereja!

Mereka bertanya lagi, "Kami menginjil di sana dan ada orang yang beroleh selamat, juga sudah ada sidang doa dan sidang lainnya, mengapa Anda mengatakan di sana tidak ada gereja?" Jawab saya, "Memang kalian sudah ada semuanya itu, tapi tetap tidak memenuhi syarat untuk mendirikan gereja. Ruang lingkup lembaga anu terlampau kecil, tidak seluas lokal. Yang memenuhi syarat untuk mendirikan gereja adalah Shanghai; gereja harus seluas kota Shanghai.

Karenanya saya berkata, bahwa mereka hanya ada pekerjaan tanpa gereja.

Maka di hadapan Allah, lembaga semacam itu walau tidak seperti rasul dan ministri lainnya, tetapi Allah sesungguhnya juga menggunakan pekerjaan mereka. Mereka sering menghasilkan banyak buah. Namun mereka wajib nampak, bahwa mereka adalah suatu pekerjaan, bukan gereja; dan pekerja-pekerja atau orang-orang yang mengelola pekerjaan itu harus merendahkan diri menjadi saudara dalam gereja lokal itu.

Jangan sekali-kali menganggap, Anda mempunyai pekerjaan rohani tertentu, lantas mengambil alih kedudukan tuan, tidak mau masuk ke dalam gereja lokal, dan mengira pekerjaan itu boleh menggantikan gereja.

Kita harus ingat:

1) Pekerjaan adalah milik pekerja, tetapi ruang lingkup pekerjaan tidak cukup besar untuk menjadi satu gereja, karena ruang lingkup pekerjaan bukan ruang lingkup lokal.

2) Semua rekan sekerja di dalam pekerjaan harus rendah hati menjadi saudara di dalam gereja lokal. Walau di dalam pekerjaan ia adalah seorang pekerja. Tapi di dalam gereja lokal tempat ia berada, ia hanya seorang saudara.

Di dalam gereja lokal hanya ada saudara, tidak ada kedudukan pekerja.

3) Tujuan pekerjaan sepenuhnya untuk mendirikan gereja lokal. Jika orang mendirikan "gereja" lain dengan hasil pekerjaannya, itu tidak dibenarkan Alkitab. Semua hasil adalah untuk membantu gereja lokal.

Janganlah mendirikan lembaga apa pun untuk menggantikan gereja. Tidak peduli betapa jayanya pekerjaan itu, Allah tidak mengijinkannya menggantikan gereja lokal. Bila kita dengan pekerjaan mendirikan satu "gereja" lain, kita sudah membangun sekte.

Seperti panti asuhan yang kita katakan tadi dan lembaga anu, semua itu adalah pekerjaan iman. Apa yang kita kenal sebagai tim pelayanan rohani, kursus tertulis, tempat pemahaman Alkitab, rumah retret, institut Alkitab, persekutuan doa, studio radio penyebaran Injil, dan berbagai sekolah Alkitab, semua itu adalah usaha atau pekerjaan. Bila kelak ada saudara yang ingin mendirikan rumah sakit, sekolah, atau usaha sosial lain, itu pun pekerjaan.

Allah memang bisa memanggil orang melakukan usaha-usaha tersebut dan memberkati usaha-usaha tersebut. Tetapi kita harus ingat: pekerjaan bukanlah gereja, dan tidak dapat mewakili atau menggantikan gereja. Karena itu setiap pekerja harus dengan rendah hati mengikuti sidang-sidang gereja di gereja lokal tempat ia berada, dan menjadi seorang saudara di sana.

Semua hasil pekerjaannya pun harus diserahkan kepada gereja lokal itu. Itulah kehendak Allah.

Semua ministri yang Allah karuniakan kepada orang adalah saling mendatangkan faedah, tidak saling berbentrokan; tujuannya pun satu, yakni mendirikan/membangun gereja lokal. Allah hanya bermaksud mendirikan satu kelompok, hatiNya pun hanya ingin memberkati satu kelompok, yakni gerejaNya. Gereja yang berwujud adalah yang dibatasi oleh lokal.

Pekerjaan bukanlah sasaran Allah, melainkan semacam prosedur belaka. Jika tujuan kita hanya untuk pekerjaan, itu berarti kita belum mencapai sasaran Allah, kita hanya berhenti pada prosedur Allah.

Bila anak-anak Allah tidak tahu, bahwa ministri tidak dapat menggantikan gereja, pekerjaan tidak dapat menggantikan gereja; jika Tuhan lebih lama kembali, dan ini terus berlangsung demikian, maka pekerjaan Allah entah akan berkembang ke tingkat apa, dan gereja Allah pun entah akan merosot ke tingkat apa pula. Gereja harus ibarat toko, pekerjaan harus ibarat pabrik. Allah memang ingin pabrik memproduksi barang untuk menyuplai toko.

Di suatu lokal boleh ada banyak pabrik, tapi hanya boleh ada satu toko untuk memelihara kesatuan toko tersebut. Kalau pabrik menggantikan toko maka pasti akan timbul masalah perpecahan. Lagi pula toko akan bangkrut karena tidak ada barang.

Kita harus ingat baik-baik: pekerjaan tidak boleh menggantikan gereja.