Sebuah contoh yang sangat baik dapat kita jumpai dalam gereja di Roma. Paulus menulis surat kepada mereka, bahwa ia berulang-ulang berharap dapat pergi kepada mereka (1:10-11). Ini membuktikan, bahwa di Roma sudah ada gereja sebelum ia pergi ke sana.
Kemudian, karena Paulus dianiaya oleh orang-orang Yahudi, maka ia pergi ke Roma untuk naik banding kepada Kaisar. Andaikata hari ini Paulus tiba di Roma, boleh jadi gereja di Roma akan berkata, "Puji Tuhan, selamat datang para rasul, kami sangat memerlukan bantuan Anda. Silakan ambil alih tugas pekerjaan gereja di sini.
Kami senang menyerahkan segala kewajiban pekerjaan di sini kepada Anda. Binalah dan kelolalah gereja ini!" Tetapi ada kata-kata yang mengherankan tercatat dalam Alkitab, "Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus" (Kis.
28:30-31). Dua tahun penuh Paulus tinggal di rumah yang disewanya sendiri, bahkan menerima orang-orang yang datang kepadanya dan menyampaikan berita dan mengajar. Walau Alkitab mencatat hal tersebut secara sederhana, tapi dari sini kita segera nampak sebuah prinsip, yaitu: pekerjaan rasul selamanya tidak bercampur aduk dengan gereja lokal.
Di Roma sudah ada gereja lokal, dengan sendirinya mereka pun sudah memiliki tempat bersidang. Mungkin rumah satu orang atau rumah beberapa orang menjadi tempat persidangan mereka. Tapi mereka tidak memakai balai sidang mereka sebagai tempat pekerjaan Paulus.
Mereka tidak mengundang Paulus mengambil alih tugas pelayanan gereja di Roma. Di luar gereja lokal di Roma, Paulus memiliki pekerjaan sendiri yang lain. Paulus tidak mengambil alih pekerjaan gereja di Roma.
Paulus bekerja di rumah yang disewanya sendiri!
Maka setiap rasul Allah harus belajar bekerja di rumah yang disewanya sendiri; belajar jangan membiarkan gereja lokal menanggung kewajiban pekerjaannya. Pekerjaan pribadi selamanya jangan dicampur aduk dengan gereja. Pekerjaan Allah itu milik pekerja Allah, sedangkan gereja selamanya milik lokal.
Pekerjaan bersifat sementara, tapi gereja itu kekal. Di suatu lokal pekerjaan bersifat sementara, sedangkan gereja di suatu lokal bersifat kekal. Sewaktu ada pekerja, waktu itu ada pekerjaan; sewaktu pekerja pergi, pekerjaan pun berhenti.
Gereja selalu berada di suatu lokal. Maka gereja lokal bagaimanapun harus berusaha sendiri dan bekerja sendiri, lain dengan pekerjaan, yang bisa dihentikan atau dipindahkan sewaktu-waktu. Misalnya, Paulus berniat meninggalkan Korintus, tapi pada malam itu Tuhan berbicara kepadanya dalam penglihatan, mengatakan kepadanya, bahwa di Korintus masih banyak umatNya, maka Paulus kemudian tinggal di sana selama setahun setengah.
Tetapi Paulus tetap bisa meninggalkan tempat itu sewaktu-waktu. Begitu ia meninggalkan tempat itu, pekerjaannya pun pergi bersamanya. Pekerjaan pribadinya usai, namun gereja di Korintus tetap ada dan berlangsung terus.
Gereja tidak dipengaruhi oleh kepergian pekerja. Ke mana saja setiap pekerja bekerja, ia harus menjaga batasan yang jelas dengan gereja lokal.
Kita harus tahu dan harus memperhatikan, bahwa pekerjaan rasul dengan pekerjaan gereja lokal adalah "paralel" bukan "bertumpukan". Paralel di sini berarti sementara rasul melakukan pekerjaan yang diamanatkan Allah kepada pribadinya, bersamaan dengan itu gereja tetap berjalan. Bertumpukan di sini berarti ketika rasul bekerja, maka pekerjaan gereja berhenti untuk sementara dan membiarkan rasul yang bekerja; semua pekerjaan gereja ditanggung oleh rasul.
Bila rasul akan meninggalkan tempat itu, ia harus menyerah-terimakan pekerjaannya kepada gereja. Itu bukan cara dan teladan yang Alkitabiah. Di mana pun kita bekerja dan kapan saja meninggalkan tempat itu, hendaknya kita tidak mempengaruhi gereja lokal.
Selama pekerja utusan Allah bekerja di suatu lokal, hendaknya pekerjaan gereja lokal tetap berlangsung. Itulah yang diwahyukan Alkitab kepada kita.
"Paulus tinggal di rumah yang disewanya sendiri". Kalimat yang singkat ini memberi kita sebuah prinsip yang sangat baik, yaitu pekerja Allah hendaknya bekerja di rumah yang disewanya sendiri, sedang gereja lokal hendaknya tetap menanggung kewajibannya sendiri seperti sediakala. Pekerjaan adalah pekerjaan, gereja adalah gereja, sedikit pun tidak boleh bercampur aduk.
Misalkan kita pergi menginjil di Kweiyang untuk menyelamatkan orang dan mendirikan gereja, bagaimanakah pelaksanaan kita? Pertama-tama, ketika kita tiba di Kweiyang, dengan sendirinya kita tinggal di penginapan atau menyewa rumah. Kemudian kita mulai menginjil.
Setelah ada orang diselamatkan apa tindakan kita selanjutnya? Kekeliruan yang lampau, ya, kekeliruan misi selama lebih dari seabad ini (semoga Allah merahmati saya, agar saya tidak salah bicara!), yaitu setelah pekerja-pekerja Injil memimpin orang beroleh selamat, mereka segera menyediakan sebuah tempat dan memanggil orang-orang yang telah selamat itu datang bersidang di situ. Tetapi cara demikian tak pernah terdapat dalam Alkitab.
Teladan Alkitab ialah: setelah Anda menginjil dan memimpin orang beroleh selamat di suatu lokal, Anda harus segera menyuruh mereka membaca Alkitab, berdoa dan bersaksi sendiri, bersamaan dengan itu mereka pun bersidang dan memecahkan roti sendiri. Anda harus memberitahu mereka, bahwa tempat atau rumah yang Anda sewa itu untuk Anda bekerja. "Kalian sekarang sudah menjadi orang Kristen, maka ada beberapa kewajiban "dasar" sebagai orang Kristen yaitu: berdoa, membaca Alkitab, bersaksi dan saling bersidang.
Bersidang merupakan satu kewajiban utama orang Kristen. Kalian sendiri yang wajib menanggung sidang kalian. Maka kalian sendiri sekarang harus mencari sebuah tempat yang memadai untuk bersidang.
Bukan kami yang mewakili kalian membaca Alkitab, berdoa dan bersaksi, tetapi kalian sendiri yang harus melakukannya. Demikian pula, bukan kami yang mewakili kalian memimpin sidang kalian dan mewakili kalian menyediakan tempat sidang kalian. Bukan kami yang menanggung semua kewajiban itu, melainkan kalian sendiri yang menanggungnya." Jadi mereka sendiri harus mencari sebuah tempat.
Apakah di rumah seseorang atau di tempat lainnya. Mereka sendiri harus memulai sidang mereka. Bukan kita yang menyediakan tempat lalu mengundang saudara-saudara setempat datang bersidang, melainkan mereka sendiri menyediakan tempat, dan mereka sendiri bersidang.
Kita harus memperhatikan, bahwa pekerjaan rasul bukan persidangan gereja, sebab persidangan gereja adalah milik lokal. Maka bila ada orang beroleh selamat, pekerja Allah harus menyuruh mereka berdoa sendiri, menyelidiki Alkitab sendiri, bersaksi sendiri, bersidang memecahkan roti sendiri . .
. dan menyuruh mereka sendiri menyediakan tempat atau menyewa rumah. Mereka harus menanggung kewajiban mereka sendiri.
Beritahukan kepada mereka, bahwa rumah yang kita sewa adalah untuk pekerjaan bukan untuk persidangan gereja.
Di pihak lain, selain "rumah yang kita sewa sendiri" dipakai untuk menginjil dan membina orang, kita wajib menghadiri sidang yang diadakan di tempat sidang lokal; datang ke tengah-tengah mereka untuk memecahkan roti, datang ke tengah-tengah mereka untuk berdoa, datang ke tengah-tengah mereka untuk bersidang, menggunakan karunia. Begitu di suatu lokal ada gereja, maka kita sendiri hanyalah salah seorang saudara di lokal tersebut, karena itu kita wajib bersidang dengan mereka. Merekalah gereja, kita bukan gereja.
Kita mewakili pekerjaan, merekalah yang mewakili gereja. Kita menanggung kewajiban pekerjaan, tapi persidangan gereja ditanggung bersama oleh saudara-saudara di lokal itu. Jadi kita tidak boleh mewakili mereka menanggung kewajiban.
Walaupun kita bekerja di Kweiyang, bila di sana sudah ada gereja, kita pun hanya sebagai seorang saudara di gereja di Kweiyang. Maka kita wajib pergi ke sana untuk bersidang bersama mereka; mengikuti sidang doa mereka, mengikuti pemecahan roti mereka. Bukan mereka yang datang mengikuti sidang-sidang kita.
Jika tidak, maka kita akan menjadi penunggu, dan bila kita ingin meninggalkan tempat itu, kita harus mencarikan pengganti. Jika selalu memelihara batasan pekerjaan sebagai pekerjaan dan gereja sebagai gereja, maka kapan saja kita meninggalkan mereka, yang kurang di antara mereka paling banyak hanya seorang saudara, bukan kehilangan seorang "pendeta". Sebab di dalam gereja tidak ada "pekerja", tidak ada rasul.
Pekerjaan dan gereja harus kita bedakan dengan tegas. Jika tidak, pasti akan timbul banyak kesulitan, yaitu seluruh gereja akan terlibat ke dalam pekerjaan sehingga membuat gereja tidak dapat bertumbuh, pekerjaan juga tidak dapat berkembang.
Belakangan ini ada sebuah motto, yakni gereja harus berdiri sendiri, memelihara sendiri, dan memberitakan sendiri. Timbulnya prakarsa ini disebabkan bercampur aduknya gereja dengan pekerjaan, tidak dipisahkan dengan jelas. Dengan kata lain, misi bercampur aduk dengan gereja.
Misi yang menyediakan gedung bagi mereka, misi yang menyelenggarakan sidang doa bagi mereka, misi yang mengadakan sidang pemahaman Alkitab bagi mereka, dan seterusnya. Akibatnya, jika kemudian menghendaki mereka berdiri sendiri, memelihara sendiri dan memberitakan sendiri, sangatlah sulit. Andaikan sejak permulaan sudah menurut cara Alkitab, pasti sama sekali tidak akan timbul masalah-masalah tersebut.
Orang Kristen yang tidak ingin menjadi orang Kristen sejati, tidak perlu dikatakan; tetapi jika ingin menjadi orang Kristen sejati, maka Anda harus menganjuri mereka mengadakan sidang sendiri, saling membantu dan saling menasihati. Setiap orang Kristen mempunyai kewajiban alami Kristiani mereka sendiri. Bila seseorang telah menjadi Kristen, dia sendirilah yang harus bersyukur, dia sendirilah yang harus membaca Alkitab, dia sendirilah yang harus berdoa, dan bersidang pun demikian.
Semua itu adalah kewajiban alami mereka. Tidak seperti gereja hari ini, yang menjadi orang Kristen hanya pergi mendengar khotbah di gedung kebaktian yang disediakan oleh misi. Tetapi itu bukan "bersidang".
Sebab sidang (perhimpunan) dalam Alkitab adalah yang ditanggung saudara-saudara setempat sendiri. Jika tidak bersidang, tidak mirip orang Kristen. Misalkan ada orang memastikan diri ingin menjadi orang Kristen, tapi berkata kepada Anda, "Saya mau menjadi orang Kristen, tapi saya tidak mau berdoa sendiri, Andalah yang berdoa bagi saya.
Saya juga tak mau membaca Alkitab sendiri, Andalah yang membacakan bagi saya." Walaupun berdoa dan membaca Alkitab bukan syarat untuk menjadi orang Kristen, tapi jika ia sejak awal sudah berkata demikian, dapatkah Anda percaya bahwa ia orang Kristen? Boleh jadi ia orang Kristen, tetapi ia tidak mirip orang Kristen. Demikian pula, jika orang Kristen tidak bersidang sendiri, melainkan menghendaki pekerja yang menyediakan sidang baginya, boleh jadi ia orang Kristen, namun ia sudah tidak mirip orang Kristen.
Maka setelah seseorang beroleh selamat, bersidang adalah kewajiban alaminya. Kewajiban gereja adalah kewajiban alaminya.
Hamba Allah hanya dapat mendirikan gereja ketika ia tiba di suatu lokal; ia tidak boleh sebelum mendirikan gereja terlebih dulu mendirikan pekerjaan kelompok lainnya. Pekerjaan adalah untuk membantu gereja lokal. Jiwa-jiwa dari hasil penginjilan rasul harus diserahkan kepada gereja.
Bila rasul mengadakan pembinaan dan kaum imani beroleh faedahnya, itu pun untuk gereja. Tujuan pekerjaan ialah menghasilkan buah untuk diserahkan kepada gereja. Jadi segala yang dihasilkan oleh pekerjaan adalah untuk gereja lokal, sama sekali tidak untuk pribadi.
Prinsip ini jelas sekali tercantum dalam Alkitab. Bila seorang rasul tiba di suatu gereja dan mengucapkan sesuatu, ia mengucapkannya dengan status saudara, bukan dengan status rasul. Saudara-saudara pun wajib memandangnya sebagai seorang saudara dan berbicara dengan status saudara.
Jika pada segi penerapannya kita tidak menurut cara Alkitab, niscaya akan segera timbul banyak masalah.
Kita wajib ingat, bahwa pekerjaan adalah seperti profesi rasul yang bersifat individual. Gereja adalah satu-satunya kelompok kaum imani di sebuah lokal. Seluruh hasil pekerjaan rasul adalah untuk gereja lokal.
Karena itu saya berkata, bahwa seorang rasul adalah hamba semua orang, bukan juragan siapa pun. Bila rasul berhasil memperoleh jiwa dalam pekerjaannya, harus segera diserahkan kepada gereja. Tangan rasul selamanya kosong.
Semua hasil pekerjaannya ditinggalkan di gereja lokal itu dan tidak ada hubungannya dengan rasul itu.
Jika demikian, di manakah letak penyakit misi hari ini? Berdasarkan prinsip Alkitab, setelah seorang pekerja Allah bekerja, hasil pekerjaannya harus sepenuhnya diberikan kepada gereja lokal di tempat ia berada. Tetapi setelah misi bekerja, hasil-hasil itu dimilikinya sendiri, yakni membuat orang-orang itu menjadi anggota misinya.
Itulah praktik misi di mana-mana. Hasilnya, misi mereka menjadi sebuah lembaga besar, dan tidak ada eksistensi gereja lokal. Karena tidak ada gereja lokal, maka harus mengutus pekerja pergi ke lokal itu untuk menjadi pendeta pengasuh.
Maka akhirnya pekerjaan tidak mirip dengan pekerjaan, gereja pun tak mirip dengan gereja.
Kita harus tahu, pekerjaan bersifat melampaui lokal dan tidak boleh bercampur aduk dengan gereja lokal, sedang gereja adalah milik lokal, ia harus ada sidangnya sendiri. Orang-orang dari hasil pekerjaan rasul harus diletakkan ke dalam gereja lokal. Semua orang yang terpanggil melakukan pekerjaan Allah menerima satu perintah, yakni mendirikan gereja di setiap lokal.
Allah tak pernah bermaksud menyuruh mereka memperluas kekuatan mereka sendiri. Beberapa orang bergabung bekerja sama itu boleh, tapi hasil pekerjaannya harus diserahkan kepada gereja lokal. Misi paling-paling hanya boleh dianggap sebagai kelompok rasul; misi tidak seharusnya mendirikan gereja lain di luar gereja lokal.
Bila rasul dipimpin Allah bekerja di suatu lokal agak lama, dan di lokal tersebut sudah ada gereja, maka ia harus membuat batasan perbedaan yang jelas dengan gereja lokal tersebut.
Ada dua jalur pekerjaan bagi pekerja Allah untuk bekerja di mana saja. Bila sebuah gereja di suatu lokal merasa perlu, dan merasa pekerjaan seorang pekerja berfaedah bagi mereka, gereja itu boleh mengundangnya datang bekerja. Atau bila seorang beroleh wahyu dari Allah untuk pergi bekerja di suatu tempat, maka bolehlah ia pergi ke sana.
Jika di tempat itu sudah ada gereja, ia boleh menulis surat kepada mereka, seperti Paulus menulis surat kepada gereja di Korintus dan di Roma, memberitahu mereka, bahwa ia ingin datang ke tempat mereka. Jika di tempat itu sudah ada gereja dan saudara di situ mengundang Anda memimpin sidang selama sepuluh hari atau setengah bulan atau sebulan, Anda boleh pergi. Selesai bekerja, Anda boleh meninggalkan tempat itu.
Ini sesuai dengan Alkitab. Jika Allah menghendaki Anda di lokal itu bekerja dalam jangka panjang, Anda wajib menetap di situ. Waktunya entah berapa lama, tapi semua kewajiban harus Anda tanggung sendiri.
Bila seorang pekerja menanggung kewajiban pekerjaan suatu tempat cukup lama, ia harus mempunyai tempat sendiri dan harus menanggung semua kewajiban dirinya sendiri serta pekerjaannya. Pekerjaan pekerja Allah sama sekali tidak boleh bercampur aduk dengan pekerjaan gereja lokal di tempat itu. Pekerjaan mereka dengan pekerjaan gereja lokal hanya boleh bersifat paralel, tidak boleh bertumpukan.
Mereka hanya boleh ada pekerjaan, tidak boleh ada sidang yang identik dengan gereja lokal. Tidak boleh ada sidang apa pun di luar ruang lingkup pekerjaan dan di dalam ruang lingkup gereja. Bila pekerjaan rasul bertumpukan dengan pekerjaan gereja, bukan paralel, tentu akan terjadi masalah serah terima.
Begitu mereka pergi, gereja akan mengalami kesulitan.
Bila pekerja tiba di suatu lokal dan bekerja dalam jangka panjang, ia wajib menyediakan sendiri segala kebutuhannya. Jika tak dapat tinggal di rumah yang disewanya sendiri seperti halnya Paulus, ia tetap harus mengeluarkan harga yang memadai untuk menyewa rumah kepada gereja lokal. Pekerjaan tidak boleh membebani gereja lokal, pekerjaan tidak boleh menyuruh gereja memikul kewajiban apa pun.
(Kewajiban rohani tentu merupakan masalah lain. Jika gereja rohani, mereka pasti akan menanggung kewajiban rohani juga). Semua pekerjaan ditanggung oleh pekerja itu sendiri, supaya gereja nampak, bahwa pekerjaan dengan gereja benar-benar merupakan dua perkara.
Pada aspek lain, pekerja juga dapat baik-baik belajar menanggung kewajiban pekerjaan, dan juga dapat baik-baik belajar di hadapan Allah, menengadah kepada suplaiNya untuk segala keperluan pekerjaannya.
Bila pekerja Allah tiba di suatu lokal yang ada gereja, ia harus ingat bahwa wewenang gereja bukan ada pada dirinya. Andaikata gereja di tempat Anda hendak bekerja menolak Anda, mengatakan, "Kami tidak memerlukan pekerjaan Anda, walau Anda seorang pekerja yang baik", maka Anda harus pergi dari situ. Sebab mereka berkuasa menerima atau menolak seorang pekerja.
Begitu gereja lokal berdiri, wewenang gereja sudahlah diserahkan kepada penatua. Kendati gereja didirikan oleh rasul, di dalam gereja tidak ada kedudukan rasul. Walau gereja didirikan oleh pekerja, di dalam gereja tidak ada eksistensi pekerja.
Andaikata Anda dipimpin Tuhan untuk pergi ke tempat anu menginjil atau membina, tapi Anda ditolak oleh gereja bersangkutan, apakah yang harus Anda lakukan? Jika Anda benar-benar jelas kehendak Tuhan, dan memang gereja yang khilaf; jika Anda ingin menaati perintah Tuhan, Anda boleh tidak mempedulikan segalanya, menyewa tempat dan mulai bekerja di sana. Namun Anda sekali-kali tidak boleh mengadakan sidang lain yang mirip dengan gereja.
Anda tak boleh berkata, "Kalian sungguh jahat. Baiklah, sekarang saya bekerja. Begitu saya memperoleh orang, saya akan mendirikan sebuah 'gereja'." Perbuatan demikian tidak dibenarkan Alkitab.
Seorang pekerja di suatu tempat hanya dapat mendirikan atau membangun satu gereja. Jika di luar gereja lokal ia mendirikan satu "gereja" lain, maka "gereja" itu bukan satu gereja, melainkan satu sekte. Gereja terpisah menurut lokal, bukan menurut apakah mereka menerima Anda atau tidak.
Semua jiwa hasil penginjilan harus diserahkan kepada gereja lokal itu. Tak seorang pun boleh menghimpun jiwa-jiwa hasil pekerjaannya untuk mendirikan satu "gereja" lain. Sebab semua tujuan pekerjaan adalah untuk membangun gereja lokal itu.
Semua yang disebut "gereja" di luar gereja lokal adalah sekte.
Gereja di Korintus pernah menaruh syak wasangka terhadap Paulus, tetapi Paulus hanya bisa menasihati mereka agar tidak terkena perangkap orang. Demikian pula gereja di Galatia. Paulus pun hanya meminta agar mereka tidak bertolak belakang dengan ajaran yang mereka terima.
Sekalipun gereja di Korintus tidak mau mengucilkan kaum imani yang berdosa, ia pun hanya bisa menggunakan wewenang rohaninya, yakni hanya dapat berdoa kepada Allah agar Allah menyuruh mereka bertobat. Jadi, Anda tidak dapat karena gereja lokal itu menolak nasihat Anda, lantas Anda mendirikan satu "gereja" lain. Itu adalah sekte atau tindakan berpecah-belah produksi kedagingan.
Semua perbuatan mendirikan "gereja" di luar gereja lokal adalah tindakan yang tidak rohani. Hasil pekerjaan Anda seluruhnya harus diberikan kepada gereja lokal. Tidak peduli bagaimana sikap gereja lokal itu terhadap Anda, menyukai atau menolak Anda, hasil pekerjaan Anda adalah milik mereka.
Semua rasul yang bekerja bagi Tuhan wajib banyak menuntut dalam hal rohani, harus ada terang dalam kebenaran rohani, harus pula ada pengalaman dalam jalan rohani. Jadilah seorang pekerja yang diperkenan Allah maupun semua gereja. Bila Anda ingin kemenangan, raihlah kemenangan itu dengan kerohanian Anda, bukan dengan kekuasaan Anda.
Jika Anda rohani, Anda wajib belajar tunduk di bawah wewenang gereja setempat. Jika gereja setempat tidak menerima Anda, Anda hanya boleh melewati mereka, tetapi jangan mendirikan apa yang disebut "gereja" yang mempunyai hubungan khusus dengan Anda. Banyak sekte justru timbul karena hamba-hamba Allah enggan tunduk di bawah wewenang gereja setempat.
Munculnya banyak "gereja" yang percaya pada doktrin khusus, justru karena ada orang yang ditolak oleh gereja lokal, lantas dia mengumpulkan sekelompok orang demi mempertahankan doktrin tertentu. Itu adalah sekte.
Bila kita benar-benar telah beroleh terang dari Allah, ketika kita tiba di suatu tempat, kita harus mohon Allah membukakan pintu bagi kita. Kita bersyukur kepada Allah bila gereja lokal anu menerima kebenaran kita. Bila gereja itu menolak ajaran kita, kita pun hanya bisa menantikan Allah membukakan pintu bagi kita.
Kebanyakan hamba Allah hanya percaya Allah bisa mewahyukan kebenaran, namun tak percaya Allah bisa membukakan pintu bagi kebenaran. Kita percaya Allah bisa memberi kita terang, tapi tak percaya bahwa Allah adalah pemegang kunci. Karenanya kita lalu dengan kekuatan daging melakukan usaha pemencaran dan perusakan di antara anak-anak Allah, dan menarik sekelompok orang menjadi pengikut kita.
Atau di luar gereja lokal mendirikan lagi sebuah "gereja" lain, sehingga merusak keesaan gereja lokal, merugikan gereja Allah. Jika Allah tidak membukakan pintu bagi kita di dalam keadaan sekitar kita, kita hanya dapat merasa puas dalam keadaan sekitar yang diatur Allah tanpa bertindak memecah-belah anak-anak Allah.