PEKERJAAN DAN GEREJA
RASUL DAN GEREJA
Kita harus ingat hubungan antara rasul dengan gereja. Ministri rasul adalah untuk memberitakan Injil dan mendirikan gereja. Walau Alkitab juga mengatakan, bahwa dalam gereja (universal) yang ditetapkan Allah pertama-tama adalah rasul, namun ministri rasul (bukan pribadi) sebenarnya mutlak berbeda dengan gereja (lokal).
Terlebih dulu ada kedua belas rasul kemudian baru ada pendirian gereja di Yerusalem; terlebih dulu ada Paulus dan Barnabas, kemudian baru ada pendirian gereja-gereja di berbagai lokal. Jadi pekerjaan rasul sepenuhnya mendahului gereja; ada rasul dulu, kemudian baru ada gereja. Karena itu, pekerjaan rasul jelas bukan merupakan tambahan dalam gereja lokal.
Kita pernah membahas firman yang tercantum dalam Kisah Para Rasul 13, "Berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas (pekerjaan) yang telah Kutentukan bagi mereka." Di sini ada sesuatu yang disebut "pekerjaan" yang ditentukan oleh Roh Kudus bagi rasul. Kita sebenarnya tidak tahu semua pekerjaan yang dilakukan Paulus selanjutnya disebut apa. Menurut istilah orang sekarang, itu adalah "misi".
Tapi istilah tersebut tidak terdapat dalam Alkitab. Itu pun bukan gereja, sebab setiap gereja justru hasil dari segalanya itu. Firman Allah menyebut semua itu "pekerjaan".
Maka segala yang dilakukan Paulus dan kawan-kawannya selanjutnya oleh Alkitab disebut pekerjaan. Pekerjaan ini khusus menjadi tanggung jawab rasul. Maka, dalam Alkitab semua aktivitas rasul disebut "pekerjaan".
Istilah pekerjaan ini dipakai Roh Kudus untuk menyebut segala sesuatu yang dilakukan, ditanggung dan dirampungkan oleh rasul. Karena rasul yang demikian khusus menanggung kewajiban pekerjaan ini, maka kita dapat secara khusus menyebut rasul sebagai pekerja Allah, sebab mereka memang pekerja Allah yang khusus.
Karena rasul menanggung kewajiban pekerjaan untuk mendirikan gereja, maka gereja hanyalah hasil pekerjaan rasul, dan karenanya gereja tidak dapat merangkum pekerjaan. Jika kita ingin memahami kehendak Allah tentang pekerjaanNya, kita perlu tahu perbedaan antara pekerjaan dengan gereja. Dalam Alkitab, kedua garis ini berbeda sama sekali.
Segalanya akan menjadi tak beres dan keliru bila keduanya dicampur aduk. Kita sangat mudah mengerti makna dan isi istilah "gereja", sebab ia banyak dipakai dalam Alkitab. Namun kita kurang cukup menaruh perhatian terhadap "pekerjaan", sebab istilah ini dalam Alkitab tidak disinggung secara nyata.
Namun di sini Roh Kudus telah mewahyukan kepada kita secara menyeluruh, yaitu bahwa segala yang dilakukan Paulus dan kawan-kawannya kelak adalah pekerjaan mereka, dan itulah yang disebut "pekerjaan".
Kita telah membahas, bahwa gereja bersifat lokal, dan sama sekali tidak dicampuri dan mencampuri sesuatu di luar lokal. Urusan interennya ditanggung dan diawasi oleh kaum imani setempat yang agak rohani, yang dilantik menjadi penatua. Jabatan rasul tidak ada dalam sebuah gereja lokal.
Pekerjaan penginjilan di berbagai lokal dikerjakan oleh rasul yang menjadi utusan khususNya. Sebelum ada gereja lokal, sudah ada rasul, dan merekalah yang datang menginjil dan mendirikan gereja. Di tempat yang sudah ada gereja lokal, walau rasul boleh datang melakukan pekerjaan peneguhan, tapi di dalam struktur organisasi gereja lokal, mereka tidak ada kedudukan.
Maka pekerjaan rasul dan gereja lokal merupakan dua kelompok yang mutlak berlainan.
Rasul adalah untuk pekerjaan yang diamanatkan Allah kepada mereka. Walau mereka sendiri adalah saudara lokal, tapi dalam pekerjaan Allah, mereka merupakan orang di luar gereja lokal. Gereja lokal adalah untuk menanggung kewajiban anak-anak Allah yang diserahkan Allah di lokal itu, karenanya harus saling berhimpun/bersidang, dan saling membantu.
Mereka adalah kelompok di luar pekerjaan. Dalam Alkitab, pekerjaan adalah "milik" para rasul, yakni yang ditanggung oleh orang-orang yang dipanggil Allah untuk bekerja, sedang gereja adalah milik kaum imani, dan ditanggung oleh seluruh orang yang diselamatkan di lokal itu. Bagaimana kaum imani lokal tak dapat mencampuri urusan pekerjaan, demikian pula rasul tidak dapat mencampuri secara langsung urusan lokal.
Karena itu, kita harus bertanya, "Allah memanggil aku untuk menjadi penatua atau untuk menjadi rasul?" Jika untuk menjadi penatua, kita hanya menangani urusan lokal; jika rasul, kita melampaui lokal. Ruang lingkup gereja hanya sebatas lokal, tapi ruang lingkup pekerjaan tidak terbatas satu lokal. Yang terbatas satu lokal itu adalah gereja, yang tak terbatas satu lokal itulah pekerjaan.
Gereja lokal tidak menanggung kewajiban resmi apa pun terhadap pekerjaan, meski mereka mempunyai kewajiban rohani. Jika gereja lokal rela membantu pekerjaan, maka alasannya bukan bersifat resmi, melainkan bersifat sukarela. Tapi tidak berarti, karena tidak ada kewajiban resmi maka tidak ada pula kewajiban rohani.
Pada aspek rohani tetap ada kewajibannya. Mereka harus menyadari, bahwa pekerjaan Allah adalah pekerjaan mereka, sebab itu, mereka wajib membantu dengan sukarela. Mereka harus menganggap walau secara resminya kewajiban itu ditanggung rasul, tetapi secara rohaninya kewajiban itu ditanggung oleh seluruh saudara di tiap lokal.
Maka kita wajib membedakan kewajiban resmi dan kewajiban rohani. Yang dimaksud kewajiban resmi ialah, jika tidak dilakukan berarti menyalahi prosedur, dan yang dimaksud kewajiban rohani ialah yang secara prosedurnya tidak usah dilakukan, namun tetap dilakukan karena alasan rohani. Menurut kewajiban resmi, rasullah yang menanggung kewajiban pekerjaan sepenuhnya; ia tidak dapat meminta bantuan bila kekurangan sesuatu.
Tetapi menurut kewajiban rohani, setiap saudara harus menyadari, bahwa pekerjaan Allah adalah milik kita semua. Maka, apa saja yang dapat membantu pekerjaanNya, kita rela mempersembahkannya. Jadi kewajiban resmi untuk perluasan kerajaan Allah ditanggung di atas pundak rasul, bukan gereja lokal, tapi gereja lokal mempunyai kewajiban rohani tersebut.
Demikian pula, rasul tidak berhak mencampuri langsung urusan lokal. Rasul hanya dapat mengingatkan, mengusulkan, atau menganjurkan. Karena kewajiban resmi gereja lokal berada di atas bahu penatua, yang dimiliki rasul hanya sekadar kewajiban rohani.
Jika kondisi gereja normal, mereka tentu akan menerima nasihat rasul. Jika kondisi rohani mereka tidak normal, mungkin mereka tidak mau menerima nasihat rasul. Kalaupun mereka tidak mau menerima, itu memang kesalahan besar secara rohani, tapi secara resminya mereka berhak menentukan sendiri.
Gereja terhadap pekerjaan tidak mempunyai hubungan resmi, hanya mempunyai hubungan rohani. Berulang-ulang saya tegaskan, bahwa gereja bersifat lokal, mutlak lokal, tapi pekerjaan mutlak melampaui lokal. Jika kita tidak menjernihkan kedua hal ini, banyak kesulitan akan timbul.
Hubungan pekerjaan dan gereja adalah ibarat berbisnis. Jika ada seorang saudara atau beberapa saudara berbisnis, itu boleh saja. Tetapi jika gereja berbisnis, itu salah besar.
Ada saudara yang membuka sebuah hotel atau restoran, itu benar, tapi kalau gereja yang membuka usaha-usaha tersebut, itu salah besar. Apa yang dapat dilakukan seseorang atau beberapa saudara belum tentu dapat dilakukan oleh gereja. Ruang lingkup gereja sama sekali berbeda dengan ruang lingkup pekerjaan saudara secara pribadi.
Ruang lingkup gereja hanya bersidang, saling memperhatikan dan saling membina; inilah pekerjaan gereja. Kecuali berdoa, menyelidiki Alkitab, memecahkan roti, menginjil, menggunakan karunia dan sebagainya, maka pekerjaan-pekerjaan lainnya adalah milik pribadi.
Berdasarkan Alkitab, segala pekerjaan adalah milik pribadi saudara, bukan milik gereja. Jadi segala pekerjaan dilakukan oleh satu orang atau beberapa orang; ditanggung oleh satu orang atau beberapa orang. Tidak hanya pada masalah bisnis demikian, pada semua pekerjaan lain juga demikian.
Sebab itu, pekerjaan rohani juga adalah milik pribadi, bukan menjadi milik gereja. Kewajiban yang ditanggung gereja adalah hubungan antara saudara dengan saudara. Kewajiban yang ditanggung gereja adalah urusan berbagai jenis sidang, seperti penginjilan, sidang doa, sidang pemecahan roti, sidang pemahaman Alkitab, sidang penggunaan karunia dan sebagainya.
Kecuali perkara-perkara tersebut, Alkitab tidak meninggalkan teladan, bahwa gereja masih menyelenggarakan usaha-usaha lain, misalkan rumah sakit, sekolah dan sebagainya; atau usaha lain yang bersifat lebih rohani, misalkan usaha penginjilan luar negeri dan sebagainya. Alkitab tidak pernah memberikan contoh tentang adanya pekerjaan gereja semacam itu. Kalau ada seorang atau beberapa orang ingin mendirikan rumah sakit atau sekolah, itu boleh.
Kalau ada seorang atau beberapa orang saudara bertanggung jawab melakukan pekerjaan penginjilan ke luar negeri, itu boleh juga. Tapi kalau gereja melakukan pekerjaan tersebut, itu tidak ada dasar Alkitabnya. Kalau seorang atau beberapa orang melakukan pekerjaan itu, bukan saja tidak dilarang oleh Alkitab, bahkan itu bisa jadi merupakan pimpinan Allah.
Gereja hanya menangani urusan-urusan gereja lokal, tidak bisa menangani pekerjaan lain. Alkitab tak pernah mengijinkan gereja menyelenggarakan pekerjaan organisasi apa pun.
Pekerjaan penginjilan ke luar itu milik satu orang, atau beberapa orang. Dalam Kisah Para Rasul 13, yang mengutus rasul pergi bekerja bukan gereja di Antiokhia, melainkan beberapa nabi dan pengajar di gereja di Antiokhia. Pada Januari tahun 1937, ketika diadakan sidang rekan sekerja, ada saudara bertanya kepada saya, "Mengapa yang mengutus rasul pergi bukan gereja di Antiokhia, tetapi beberapa nabi dan pengajar?" Waktu itu kita belum bisa menjawab dengan jelas.
Tapi sekarang kita telah mempunyai terang yang jelas atas masalah tersebut. Karena ruang lingkup gereja hanya terbatas pada satu lokal; setiap perkara yang bersangkutan dengan lokal barulah urusan gereja. Tapi pekerjaan adalah urusan pekerja Allah dan melampaui lokal, maka yang mengutus rasul pergi bekerja adalah beberapa nabi dan pengajar di lokal itu, yang menjadi milik ministri itu, bukan gereja di Antiokhia secara keseluruhan.
Karena itu, pekerjaan penginjilan dan pendirian gereja di tiap lokal adalah milik pribadi, bukan milik gereja.
Alasan Allah memanggil orang keluar menjadi rasul dan mempercayakan kewajiban pekerjaan kepada rasul, tak lain agar sifat lokal gereja dapat dipertahankan. Andaikata sebuah gereja menangani pekerjaan lokal lain, maka gereja akan berubah menjadi bukan gereja lokal, sebab sifat lokalnya sudah hilang. Ia tidak lagi sebatas lokal, melainkan lebih besar daripada lokal.
Allah tidak ingin membiarkan sebuah gereja lokal kehilangan sifat lokalnya. Allah hanya mengijinkan gereja mengurusi urusan lokal, Ia tidak mengijinkan gereja lokal mengurusi urusan pekerjaan di luar ruang lingkup lokal. Maka penatua dalam Alkitab, selamanya hanya mengurusi urusan gereja lokal, tidak mengurusi urusan pekerjaan di luar batas lokal.
Kewajiban pekerjaan itu Allah serahkan kepada rasul, dan itu melampaui lokal, karena kewajiban resmi pekerjaan yang khusus dilakukan oleh orang yang dipanggilNya bersifat pribadi (Walau kewajiban rohaninya bersifat korporat).
Karena itu, bila penatua Efesus tiba di Filipi, ia bukan lagi penatua. Ia hanya dapat menjadi penatua Efesus, tidak dapat menjadi penatua Filipi. Demikian pula bila penatua Filipi tiba di Efesus, ia bukan lagi penatua.
Sebab penatua terbatas oleh lokal. Paulus bisa dari Miletus mengutus orang ke Efesus untuk mengundang para penatua datang; tetapi tidak ada rasul di Efesus. Rasul adalah rasul semua gereja bukan rasul satu gereja.
Seperti tercantum dalam surat Korintus, bahwa kedua saudara itu adalah rasul semua gereja. Maka sifat rasul adalah untuk pekerjaan dan melampaui lokal; sedang kewajiban penatua adalah untuk gereja Allah, milik lokal, ia tidak dapat mengurusi pekerjaan di luar lokal. Rasul tidak boleh kehilangan sifat melampaui lokal, maka rasul tidak boleh mengurusi pekerjaan gereja.
Bila gereja mengurusi pekerjaan, hilanglah sifat lokalnya, bila rasul mengurusi gereja, hilanglah sifat melampaui lokalnya. Bila keduanya bercampur aduk, maka rusaklah batasan perbedaan antara pekerjaan dengan gereja yang diatur Allah.
Boleh jadi ada orang ingin bertanya, "Mengapa ketika timbul masalah sunat, Paulus dan Barnabas naik ke Yerusalem menghadap rasul dan penatua?" Itu dikarenakan beberapa saudara yang menyebarkan ajaran sunat itu berasal dari Yerusalem. Sebab itu, mereka harus pergi ke Yerusalem untuk memperoleh kejelasan sikap Yerusalem. Ibarat kita hari ini, bila melihat seorang bocah nakal lalu kita membawanya kepada orang tuanya.
Hasilnya, para rasul yang tinggal di Yerusalem dan penatua di Yerusalem memberi satu penyelesaian yang sangat jelas. Penatua bukan penatua yang tinggal di Yerusalem, melainkan penatua Yerusalem; rasul bukan rasul Yerusalem, melainkan rasul yang tinggal di Yerusalem. Yang satu adalah wakil setempat, yang lainnya adalah wakil pekerjaan Allah.
Penatua mewakili gereja, rasul mewakili pekerjaan. Kedua golongan orang ini harus memutuskan, dapatkah orang beroleh selamat tanpa menerima sunat Musa. Dari permintaan mereka kepada rasul dan penatua untuk memutuskan kasus ini, kita nampak, bahwa baik para penatua sebagai pewajib setempat maupun para rasul, tidak membuat ketentuan tersebut.
Kemudian ketika rasul mengunjungi berbagai kota, ketentuan rasul dan penatua di Yerusalem itu diserahkan kepada murid-murid untuk ditaati (Kis. 16:4). Ini tidak berarti para penatua Yerusalem memiliki wewenang khusus untuk menyuruh gereja lokal lain menaati ketentuan mereka, melainkan menyatakan, bahwa ajaran semacam itu tidak saja tidak disetujui oleh rasul yang tinggal di Yerusalem, juga tidak disetujui oleh para penatua di Yerusalem.
Maka orang-orang yang keluar dari Yerusalem tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan ajaran tersebut. Hanya itu saja penyebabnya, lain tidak.
Maka para pekerja harus ingat, bahwa pekerjaan kita adalah pekerjaan rasul, harus mutlak berbeda dengan gereja lokal.