Meskipun Allah telah menetapkan demikian, namun manusia memiliki banyak cara pembagian berdasarkan diri manusia sendiri. Dalam sejarah gereja selama dua ribu tahun, manusia justru menemukan banyak cara baru untuk membagi (memecah belah) gereja Allah. Alkitab tidak hanya dari segi positif mewahyukan kepada kita, bahwa gereja dibangun dengan ruang lingkup apa, juga dari segi negatif memberitahu kita, gereja tidak dapat dibagi/dipecah-belah dengan apa.
Surat I Korintus 1:12 mengatakan, "Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas.
Atau aku dari golongan Kristus." Ayat 13 mengatakan, "Adakah Kristus terbagi-bagi?" Di sini Paulus berkata, bahwa mereka dalam kedagingan dan tidak benar. Mereka ingin memecah belah gereja Allah. Dengan cara apakah mereka memecah belah gereja Allah?
Mereka memecah belah menurut beberapa rasul yang dipakai Allah. Dengan kata lain mereka memecah belah gereja Allah dengan beberapa tokoh rohani. Ingatlah, ini bukan dasar pendirian gereja dalam Alkitab.
Dalam Alkitab adanya gereja di Korintus atau gereja di Efesus memang diperbolehkan. Adanya beberapa gereja di Galatia juga diperbolehkan, sebab mereka adalah tempat/lokal yang berbeda, maka boleh ada gereja yang berbeda. Bukankah Kefas itu baik?
Ya, ia dipakai oleh Allah. Bukankah Apolos itu baik? Ya, dialah tokoh yang sangat bergairah.
Bukankah Paulus itu baik? Ya, dialah rasul yang banyak menderita susah. Walaupun mereka semua baik, tetapi Allah tidak mengijinkan gereja berpecah belah karena mereka.
Tak peduli betapa rohaninya mereka, betapa dipakainya mereka oleh Allah, dan betapa mereka banyak menderita susah bagi Allah, Allah hanya mengijinkan gereja dibagi menurut lokalitas, tidak mengijinkan gereja dibagi menurut tokoh ini atau tokoh itu. Semua perpecahan menurut raksasa rohani atau tokoh yang dipakai Allah secara besar-besaran, tidak diperkenan Allah. Di sinilah kita nampak penyebab kegagalan banyak orang Kristen.
Penyanjungan terhadap manusia merupakan kecenderungan alamiah manusia dalam kedagingan. Karena orang atau tokoh yang disanjung berbeda dengan yang lain, maka mudahlah timbul sikap bergolong-golongan. Di antara Paulus, Kefas dan Apolos, karena mereka masing-masing adalah hamba Allah, tentu tidak terdapat ketidaksatuan atau ketidakrukunan.
Tetapi, para penyanjung merekalah yang telah memecah belah mereka, membuat mereka menjadi alasan perpecahan.
Banyak nasihat tokoh-tokoh rohani memang sangat mustika. Wahyu yang mereka miliki memang sangat menggerakkan kita. Kehidupan iman mereka pun patut dipuji dan ciri-ciri mereka yang melayakkan mereka dipakai Allah memang dapat mendorong semangat kita.
Mereka memang memiliki kualifikasi yang baik untuk menjadi pemimpin rohani. Tetapi, Allah tidak mengijinkan mereka menjadi dasar pendirian gereja. Dalam Alkitab hanya ada satu dasar yang sah, yakni perbedaan lokal, bukan perbedaan tokoh rohani yang disanjung.
Ayat ini juga memberi kita satu ajaran lain, yakni perpecahan itu dikarenakan asal usul keselamatan mereka berbeda. Ada yang diselamatkan karena penginjilan Kefas, lalu mengira aku adalah dari golongan Kefas. Ada yang beroleh selamat melalui khotbah Apolos, lalu mengira dirinya dari golongan Apolos.
Ada yang beroleh selamat karena penginjilan Paulus, lalu menganggap dirinya milik Paulus. Namun, menurut Alkitab, tidak saja tidak boleh berpecah belah dengan alasan menjadi milik tokoh rohani tertentu, juga tidak boleh berpecah belah dengan alasan diselamatkan melalui siapa. Gereja Allah hanya boleh terbagi karena perbedaan geografis, tidak boleh karena alasan perbedaan asal usul keselamatan itu.
Alangkah spontan dan umumnya orang berpikir: aku beroleh selamat melalui orang atau "gereja" anu, dengan sendirinya aku milik orang atau "gereja" anu. Tetapi dalam Alkitab hanya ada gereja lokal, tidak ada gereja misi. Alangkah spontan dan umum pula orang atau "gereja" yang menyelamatkan orang menganggap jiwa-jiwa yang diselamatkan seyogianya menjadi milik "gereja"nya.
Sungguh disayangkan, mereka tidak menyadari, bahwa semua pekerjaan adalah untuk mendirikan gereja lokal. Semua hasil pekerjaan pun untuk gereja lokal, bukan untuk diri sendiri. Setiap pribadi maupun lembaga yang bekerja hanya patut menjadi orang yang melayani gereja lokal, tidak seharusnya menjadi tuan/majikan suatu gereja independen.
Ada sebagian orang tidak berkata, "Aku dari golongan Kefas", atau "Aku dari golongan Apolos", atau "Aku dari golongan Paulus", mereka berkata, "Aku dari golongan Kristus." Maksud mereka mungkin mengira orang lain penuh dengan konsepsi sekte, itu tidak benar, maka mereka tidak mau dimiliki siapa pun, mereka mengaku milik Kristus, dari golongan Kristus. Dengan demikian mereka menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sebab mereka mengira mereka milik Kristus, yang melampaui Kefas, Apolos, maupun Paulus; mengira orang lain punya sekte, mereka tidak punya sekte; mereka tidak menjadi milik siapa pun selain Kristus. Walau orang lain juga milik Kristus, tapi juga menjadi milik orang lain.
Mereka mencela orang lain bergolong-golongan di atas Tubuh Kristus, dan mereka tidak mau mengikuti perbuatan itu. Mereka berkata, "Kami adalah orang-orang milik Kristus, dan jauh berbeda dengan kalian."
Namun, Allah pun menegor mereka sebagai orang berdosa. Mengapa? Bila seseorang hanya menjadi milik Kristus saja tidaklah salah, malah itu sangat penting.
Bila seseorang tidak mau bergolong-golongan seperti orang-orang lainnya yang bergolong-golongan, itu sangat mustika. Bila seseorang menolak mengambil bagian dalam sekte/denominasi apa pun, tetapi hanya ingin menjadi orang Kristen sederhana, itu adalah hal yang paling baik. Tetapi, di sini ada orang yang dihakimi juga oleh Allah, sebab walaupun nampaknya ia menentang perpecahan, namun tanpa disadari ia sendiri pun menjadi sekte; ia telah terperosok ke dalam dosa yang disalahkannya sendiri.
Apa sebabnya demikian? Sebab Anda berkata, "Aku dari golongan Kristus". Apakah orang lain bukan?
Jika Anda berkata, "Aku dari golongan Kristus" hanya untuk menyatakan opini Anda terhadap sekte, itu boleh saja. Tetapi jika Anda berkata, "Aku dari golongan Kristus", untuk menyatakan perbedaan diri Anda dengan orang Kristen lain, itu tidak benar. Ide Anda untuk membedakan anak-anak Allah seperti itu berasal dari sekte yang lahir dari kedagingan.
Membedakan/memisahkan anak-anak Allah itulah sekte. Meninggalkan sekte berarti tidak lagi membedakan/memisahkan anak-anak Allah. Jika Anda mengira orang lain itu sekte, lalu memisahkan atau membedakan diri Anda sendiri karena Anda menganggap diri sendiri milik Kristus, itu juga sekte.
Tak peduli Anda dengan apa membedakan/memisahkan anak-anak Allah, dengan Kristus sekalipun, Anda adalah sekte.
Yang bagaimanakah baru benar? Segala pembedaan/pemisahan adalah salah, yang benar adalah merangkum seluruhnya. Tidak ada sekte tentu tidak ada perbuatan pembedaan/pemisahan, dan tentu akan ada sikap yang merangkum seluruhnya.
Sekte yang berbentuk jelas keliru; kita harus sama sekali tidak ada bagian dalam sekte atau kesektean. Tetapi apabila kita dengan sikap "aku dari golongan Kristus" membedakan/memisahkan anak-anak Allah, dan berkata, "Orang lain bersekte, kita tidak bersekte; mereka milik sekte anu, kita adalah milik Kristus", sikap demikian itu sudah berarti sekte.
Memang kita adalah milik Kristus, tetapi persekutuan kita tidak terbatas pada orang-orang yang berkata, "Kita adalah milik Kristus" itu saja, melainkan seluruh orang yang menjadi milik Kristus. Jadi bukan hanya dengan orang yang berkata, "Aku milik Kristus", melainkan semua orang yang milik Kristus. Walaupun mereka ada yang berkata, "Aku milik Paulus", "Aku milik Kefas", atau "Aku milik Apolos", tetapi pada hakekatnya mereka adalah milik Kristus.
Tak peduli mereka pada lahirnya bersekte atau tidak, kita hanya bertanya: apakah mereka milik Kristus atau bukan. Kalau mereka benar-benar milik Kristus, mereka adalah saudara kita.
Perkataan "aku dari golongan Kristus" tidak salah, tetapi jika perkataan ini dijadikan batasan untuk memisahkan anak-anak Allah, itu keliru. Persekutuan kita harus mencakup seluruh orang Kristen yang ada di satu lokal, bukan sebagian orang Kristen yang "non-sekte" di satu lokal. Semua orang Kristen yang ada di lokal itu adalah orang dalam gereja kita.
Mereka boleh melakukan pembedaan antar sekte, tapi kita tak boleh melakukan pembedaan "non-sekte". Mereka boleh memisahkan anak-anak Allah, tapi mana boleh kita memisahkan mereka karena mereka memisahkan anak-anak Allah? Mereka juga anak-anak Allah!
Mereka keliru, sebab mereka adalah orang pertama yang melakukan pemisahan. Jika kita adalah orang kedua yang melakukan pemisahan, tidakkah kita juga keliru? Kalau mereka memisahkan orang lain itu salah, maka kalau kita memisahkan mereka bukankah kita juga bersalah?
Dasar Allah mendirikan sebuah gereja adalah satu lokal. Maka orang-orang Kristen di satu lokal adalah orang-orang dalam satu gereja, hal ini tak dapat berubah selamanya. Satu "kota" adalah batasan gereja.
Kita tak dapat mengubahnya menjadi: orang-orang Kristen yang non-sekte di satu lokal barulah orang-orang dalam satu gereja. Bila kita tidak menjadikan lokal sebagai batasan gereja, melainkan dengan non-sekte atau meninggalkan sekte sebagai batasan, maka kita sudah kehilangan sifat lokal, dan sudah merupakan satu sekte pula. Jadi yang benar adalah gereja lokal (yang mencakup seluruh orang Kristen di lokal itu), bukan "gereja" sekte/denominasi, pun bukan "gereja" sekte yang non-sekte.
Karena itu, sikap orang Kristen haruslah merangkum bukan membedakan. Kita harus merangkum semua orang Kristen, baik yang bersekte maupun yang non-sekte, bukan membedakan yang tanpa sekte atau yang membuang sekte. Di suatu lokal, barangsiapa membedakan anak-anak Allah, ialah sekte.
Kita harus jelas, bahwa pekerjaan kita adalah mendirikan gereja lokal, bukan mendirikan gereja yang non-sekte. Perbedaan di sini jauhnya tak terukur dengan kilometer. Gereja lokal memang tanpa sekte, tapi gereja yang non-sekte adalah sekte.
Gereja di Korintus itu benar, tetapi di tengah-tengah Korintus orang berkata, "Aku dari golongan Kristus", itu salah. Pekerjaan kita haruslah mendirikan gereja lokal secara positif dan konstruktif, bukan menarik orang keluar dari sekte/denominasi secara negatif dan destruktif.
Kini ada satu hal yang sangat penting: melalui usaha pelayanan sekerja kita di berbagai tempat selama tahun-tahun ini, syukur kepada Allah, tidak sedikit orang yang menerima kesaksian kita. Tetapi karena kita sendiri tanpa sekte, maka mereka yang menerima kesaksian kita dengan sendirinya tidak memasuki sekte, ada pula yang keluar dari sekte. Ini memang benar, tapi di sinilah bahayanya.
Bila hati seseorang tidak mengandung hati Kristus yang mengasihi gereja, ia tidak mungkin memiliki hati yang mengasihi saudara. Dengan spontan ia tidak melihat, bahwa seluruh orang Kristen di lokal itu adalah saudara-saudara kita, tetapi ia hanya nampak orang yang tidak bersekte saja sebagai saudara-saudara kita. Jika demikian, orang akan sangat mudah mengira, bahwa kita mendirikan gereja yang non-sekte, tidak memahami bahwa tujuan kita adalah mendirikan dan membangun gereja lokal.
Kita mutlak bukan mendirikan dan membangun gereja yang non-sekte. Non-sekte (non-denominasi) bukan alasan yang cukup baik yang boleh kita pakai sebagai dasar pendirian gereja. Hanya ada satu alasan yang cukup baik, yakni lokal.
Karena itu, kita harus memperhatikan, agar saudara-saudara di tiap lokal nampak kebenaran gereja lokal, dan jangan memperhatikan masalah sekte. Kita harus menunjukkan kepada mereka, bahwa ruang lingkup persekutuan yang Alkitabiah adalah seluruh kaum imani di lokal itu, bukan kaum imani yang non-sekte di lokal itu. Setiap kali mereka menyebut "kita" haruslah merangkum seluruh saudara di dalam Tuhan, bukan hanya merangkum saudara yang bersidang dengan mereka saja.
Begitu kita menyebut "saudara kita", tapi "kita" nya bukan mengacu kepada seluruh saudara, hanya mengacu kepada saudara-saudara yang bersidang bersama kita, itu berarti kita sendiri adalah sekte. Kita harus belajar mengurangi berkata "saudara kita", tetapi banyak memperhatikan "saudara di dalam Tuhan". Membangun gereja lokal barulah pekerjaan kita.
Saya tidak berkata, bahwa sekte itu benar, saya pun tidak berkata, kita tidak perlu meninggalkan sekte. Tapi saya berkata, bahwa menarik orang keluar dari sekte bukanlah pekerjaan kita. Pekerjaan kita adalah sama seperti yang dilakukan para rasul dulu yakni mendirikan gereja lokal.
Kita perlu membimbing orang mengenal Tuhan, mempersembahkan diri kepada Tuhan, belajar menaati Tuhan dan mohon Tuhan memberi terang agar bisa menempuh jalan di dalam Roh Kudus sambil menolak perbuatan daging. Jika demikian, Anda akan nampak, Anda tak perlu menyinggung masalah sekte, tapi Roh Allah sendiri akan memimpinnya menanggulangi masalah ini. Jika seseorang tidak belajar hidup dalam Roh Kudus, dan taat kepada Allah karena mengenal Dia, walau ia telah meninggalkan denominasi, apakah faedahnya?
Gereja kita harus merangkum lokal tempat kita berada, dan merangkum seluruh orang Kristen di lokal itu. Semua cara pembagian orang Kristen lainnya tidak diijinkan Allah.
Galatia 5:20 mengatakan, ". . .
roh pemecah" (bahasa aslinya: sekte). Dalam ayat ini tercantum banyak perbuatan daging yang tidak diperkenan dan ditolak Allah. Satu di antaranya ialah "sekte" (dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan "roh pemecah").
Dalam bahasa Yunani berarti "berpecah belah menjadi sekte karena berbeda doktrin dengan orang lain". Sedangkan J.N. Darby menerjemahkannya menjadi "berbeda opini".
Istilah ini tidak mesti berarti ajaran-ajaran serong, melainkan mengacu kepada ajaran yang berbeda dengan ajaran orang lain, atau berarti "mencipta perbedaan". Dalam bahasa aslinya belum tentu mengacu kepada kesalahan. Hanya karena aku mempunyai ajaran-ajaran tertentu yang berlainan dengan ajaran orang lain, maka aku berpisah dengan orang lain.
Boleh jadi ajaranku benar atau boleh jadi ajaranku salah; tetapi penekanannya di sini bukan masalah benar atau salah, melainkan berpecah belah dengan orang karena perbedaan ajaran tersebut. Di sini sama sekali tidak terkandung masalah benar atau salah, yang ada hanya perpecahan akibat perbedaan ajaran.
Di sini kita segera menemukan satu pelajaran, yakni Allah juga tidak mengijinkan orang berpecah belah karena perbedaan ajaran. Sebagai contoh: ada anak-anak Allah yang percaya keterangkatan kaum imani terjadi sebelum kesusahan besar, ada pula yang percaya hal itu terjadi sesudah kesusahan besar; ada yang percaya pembaptisan harus diselam ke dalam air, ada pula yang percaya dipercik saja sudah boleh. Kita tidak boleh karena ini lalu berpecah menjadi dua kelompok; itu tidak diijinkan Allah.
Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat dijadikan alasan kaum imani untuk berpecah menjadi dua gereja. Satu-satunya alasan yang Alkitabiah untuk mendirikan sebuah gereja ialah satu lokal baru. Bila kita tiba di satu lokal, tidak boleh ada dua gereja.
Jika lokalnya satu, gerejanya pun satu. Jika kita tinggal di Korintus, ialah gereja di Korintus. Jika kita tinggal di Efesus, ialah gereja di Efesus.
Jika kita tinggal di kota A, ialah gereja di kota A. Jika kita tinggal di kota B, ialah gereja di kota B. Perpecahan karena perbedaan doktrin yang mengakibatkan adanya lebih dari satu gereja di satu lokal, tidak diijinkan Allah.
Bukan hanya ajaran sesat, ajaran sehat pun, tidak diijinkan Allah menjadi batasan perpecahan dan sebagai alasan perpecahan.
Dengan sendirinya, pada aspek pelaksanaannya banyak kesulitan. Betapa banyaknya pergesekan akan terjadi bila banyak orang yang berbeda opini berhimpun di dalam satu gereja. Alamiah/daging manusia memang senang menghimpun orang yang seopini menjadi satu kelompok, dan mengucilkan orang yang berbeda opini di luar pintu.
Namun, Allah tidak setuju demikian. Berkumpulnya orang-orang yang berbeda opini memang membuat daging menderita, tetapi itu berfaedah terhadap hidup rohani. Allah tidak mengatasi kesulitan itu dengan cara memisahkan mereka, melainkan menghendaki anak-anak Allah banyak belajar saling mengasihi, saling tenggang rasa dan sabar.
Dalam situasi demikian, Anda akan nampak, jika tidak ada kasih, tentu akan timbul kegusaran; jika tidak ada tenggang rasa, pasti akan timbul pertikaian; dan jika tidak ada kesabaran, pasti akan bubar berantakan. Boleh jadi apa yang Anda percayai itu benar, tetapi sekarang yang penting adalah benar tidaknya kasih Anda. Boleh jadi pengetahuan Anda tidak salah, tetapi sekarang yang penting adalah kasih Anda salah atau tidak.
Betapa mudahnya satu orang imani dipenuhi oleh ide dan pengetahuan rohani tanpa sikap dan kehidupan rohani sedikit pun. Maka orang-orang yang berbeda opini atas doktrin di dalam gereja lokal akan menelanjangi Anda, apakah kerohanian Anda hanya di atas kepala (otak), atau di dalam hati. Apakah yang Anda hayati dalam kehidupan lebih banyak daripada yang Anda ketahui, atau sebaliknya?
Dalam Roma 14 kita nampak bagaimana sikap kita seharusnya terhadap seorang saudara yang berbeda pandangan terhadap doktrin tertentu. Andaikata hari ini kita melihat orang Kristen yang pantang makan daging, atau yang memelihara hari Sabat, bagaimana reaksi kita? Mungkin kita tak tahan untuk hadir bersamanya dalam satu gereja.
Namun, baginilah perintah Allah: "Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya . . .
siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri .
. . Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!" Inilah sikap kita yang dikehendaki Allah.
Betapa bedanya itu dengan sikap kaum imani hari ini! Oh, inilah kelapangan dada orang Kristen! Inilah toleransi orang Kristen!
Alangkah kasihan, hari ini justru banyak orang yang terlampau gairah terhadap doktrin, asal melihat orang yang imannya berbeda dengannya, segera menganggapnya bidah atau ajaran sesat, dan menjauhinya seolah air bah dan binatang buas. Namun Allah menghendaki anak-anakNya "hidup (bersikap) menurut tuntutan kasih" (ayat 15). Ini sangat mustika!
Tetapi ini tidak berarti, bahwa di dalam sebuah gereja lokal setiap orang imani boleh bertindak menurut kemauannya sendiri, dan percaya kepada apa yang dibenarkan oleh dirinya sendiri. Hanya saja cara penanggulangannya bukan menolak, mengucilkan atau keluar dan mendirikan kelompok lain, melainkan dengan pengajaran yang tekun dan sabar, agar "semua mencapai kesatuan iman" (Ef. 4:13).
Jika tidak terlaksana dalam waktu singkat, haruslah sabar menanti waktu Allah. Pada saat Anda menanti, mungkin Allah akan merahmati orang yang menentang Anda, atau mungkin Anda sendiri akan beroleh rahmat sehingga menyadari, bahwa diri Anda bukan seorang pelayan sebaik itu, seperti yang Anda bayangkan sendiri. Sangat jarang ada satu kasus yang menguji seorang pengajar seperti tentangan orang terhadap ajarannya!
Surat Filipi harus kita baca secara khusus. Jika kaum imani dapat menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, rendah hati, yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri, sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan . .
. niscayalah kita akan memelihara kesatuan gereja di satu lokal tanpa timbul perpecahan.
Masih ada beberapa cara lagi yang juga tidak diijinkan oleh Allah. Mari kita baca I Korintus 12:13, "Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh." Di sini kita nampak gereja juga tidak boleh terpecah belah karena: