Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 6 • Modul 22

Tujuh Kesatuan Ilahi dan Gereja Lokal

Pembacaan Alkitab
"Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:" — Efesus 4:3

TUJUH KESATUAN ILAHI

"Satu tubuh, dan satu roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu. Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua" (Ef.

4:4-6). Di sini ada tujuh "satu" yang semuanya berkaitan dengan kesatuan pemberian Roh Kudus. Setiap orang yang percaya Kristus berada dalam gereja, dan kita dapat menyebutnya saudara, bisa bersekutu dengannya, itu semua karena kesatuan Roh Kudus; dalam ketujuh hal ini kita mutlak sama.

Ketujuh "satu" ini dimiliki oleh setiap orang Kristen. Lebih satu tidak perlu, kurang satu tidak mungkin. Kesamaan ketujuh hal ini adalah tuntutan persekutuan kita dengan orang.

Tidak boleh lebih banyak, pun tidak boleh kurang dari itu. Sebab kalau lebih banyak dari itu, akan ada saudara yang kita tutup di luar pintu, jika kurang dari itu, kita akan memasukkan orang yang bukan saudara ke dalam gereja. Ketujuh "satu" yang dikatakan di sini mutlak harus dipunyai setiap orang yang percaya.

Maka setiap orang yang percaya Tuhan telah memiliki kesatuan Roh Kudus, dan secara maksimum telah memiliki kesamaan tujuh hal tersebut. Orang yang memiliki ketujuh hal tersebut adalah milik Allah, yang tidak memiliki ketujuh hal itu bukan milik Allah. Kalau kita ingin memelihara kesatuan yang dikaruniakan Roh Kudus ini, perlulah kita memperhatikan ketujuh hal tersebut, dan tidak ada masalah dengan anak-anak Allah lainnya dalam ketujuh hal tersebut.

Ketujuh "satu" ini sangat sederhana. Mari kita tinjau satu persatu.

1) Satu Tubuh -- Pertanyaan pertama tentang dapat tidaknya kita bersatu dengan orang lain ialah apakah ia anggota dalam Tubuh Kristus. Tubuh Kristus justru adalah ruang lingkup kesatuan kita dengan orang lain. Orang yang tidak berada di dalam Tubuh, sudah tentu tidak bersangkut paut dengan kita.

Tapi setiap orang yang berada di dalam Tubuh Kristus, mempunyai persekutuan dengan kita. Kita tidak boleh mempunyai persekutuan pilihan di dalam Tubuh Kristus. Apakah Tubuh Kristus itu?

Tubuh Kristus ialah orang-orang yang berbagian di dalam Kristus. Satu lambang terindah bagi Tubuh Kristus ialah seketul roti yang Anda pecah-pecahkan dan makan setiap hari Tuhan itu. Walau roti itu telah masuk ke dalam perut saudara dan saudari, bila digabungkan tetaplah seketul itu.

Itulah Tubuh Kristus, yang terbentuk oleh kesatuan setiap manusia yang memiliki hayat Kristus. Anda memiliki hayat Kristus, aku memiliki hayat Kristus, bila hayat-hayat ini disatukan, itulah keseluruhan Kristus. Kita masing-masing adalah sebagian dari Tubuh Kristus.

Karena itu, ketika kita hendak menerima seseorang, janganlah menghiraukan apa latar belakangnya, apa jenjang statusnya, dan apa doktrin ajarannya. Yang terpenting kita harus bertanya, sudahkah ia berbagian di dalam Tubuh Kristus? Kalau di dalam batinnya ada Kristus, ia adalah saudara kita.

Jika kita dengan berbagai alasan hendak menolak seseorang sebagai saudara, beranikah kita mengatakan ia bukan satu anggota dalam Tubuh Kristus? Jika ia benar-benar anggota Tubuh Kristus, tak peduli bagaimanapun keadaannya (kecuali alasan yang disebutkan dalam Alkitab) kita harus menerimanya. Kita tak boleh menerima beberapa anggota yang ini, menolak beberapa anggota yang itu.

Kita bersama-sama ada di dalam satu Tubuh, tidak mungkin terpisah-pisah. Andaikata kita dengan dia merupakan dua Tubuh, kita punya alasan untuk menolaknya. Tapi kalau kita tak dapat memastikan dia bukan anggota dalam Tubuh yang sama, maka kita harus memelihara kebersatuan kita dengan dia.

Jadi tuntutan kita terhadap setiap orang ialah, jika ia sebagai satu anggota dalam Tubuh Kristus, ia adalah saudara atau saudari kita. Kecuali ini, tidak ada lagi tuntutan lainnya.

2) Satu Roh -- Orang Kristen tidak hanya memiliki hayat Kristus di batinnya. Ketika ia percaya, Roh Kudus juga tinggal di batinnya. Aku telah beroleh Roh Anak, ia pun telah beroleh Roh Anak.

Mungkin seleranya berbeda dengan seleraku, jalan dan caranya juga berbeda. Tetapi Roh Kudus yang ada di batinnya sama dengan Roh Kudus yang ada di batinku, itu sudah cukup.

Benarkah yang diterimanya itu Roh Kudus? Dapatkah kukatakan Roh Kudus tidak berada di batinnya? Dapatkah kukatakan yang diterimanya itu roh jahat?

Boleh jadi ketika ia menerima Roh Kudus, penampilan luarannya agak aneh dan tak lazim dalam pandangan Anda; boleh jadi biasanya Anda sangat menentang keadaan Pentakosta semacam itu. Namun Roh Kudus hanya satu. Alkitab tidak mengatakan, bahwa yang sama sekali tanpa gerakan adalah Roh Kudus, yang berapi-api dan bergairah itu bukan Roh Kudus.

Alkitab tidak mengukur benar tidaknya Roh Kudus dengan penampilan luaran. Alkitab menguji benar tidaknya Roh Kudus dengan "mengaku Yesus adalah Tuhan" (I Kor. 12:3).

Jadi dalam diri Anda, Roh yang memungkinkan Anda mengaku, "Yesus adalah Tuhan," itulah Roh Kudus. Maka jika Roh di dalam dia juga memungkinkannya mengaku, "Yesus adalah Tuhan", itu juga Roh Kudus.

Kalau yang diperolehnya adalah Roh Kudus, yang Anda peroleh juga Roh Kudus, Roh Kudus itu satu, maka kita sekalian di dalam Tuhan adalah satu, dan tidak mungkin terpisah-pisahkan.

3) Satu pengharapan panggilan -- Di sini tidak dikatakan semua pengharapan adalah sama. Di sini hanya ada sebutir, yakni adanya pengharapan yang sama yang dikarenakan panggilan; sebagai orang Kristen, maka ada pengharapan yang sama. Apakah pengharapan kita?

Kita mengharap beserta dengan Kristus dalam kemuliaan sampai selama-lamanya. Tak seorang pun yang menjadi milik Tuhan tanpa pengharapan mulia ini, dan tak seorang pun milik Tuhan yang mengharapkan bumi bukan mengharapkan sorga. Karena menerima panggilan, kita mempunyai satu pengharapan yang mulia.

Tidak ada satu orang Kristen yang selamanya tidak mendambakan sorga dan kemuliaan; jika ada, orang yang demikian pasti bukan milik Tuhan. Kelak di sorga, kita akan tinggal bersama selama-lamanya, dan hari ini kita di bumi mungkin terpisahkan. Kita mempunyai masa depan yang sama, maka kita harus menempuh jalan yang sama.

4)Satu Tuhan -- Hanya satu Tuhan, yakni Yesus. Kita mengaku, bahwa Yesus orang Nazaret telah ditetapkan Allah sebagai Tuhan dan Kristus, karena itu, kita ingin melayani Dia. Tuhan mereka adalah Tuhan kita.

Di antara kita satu sama lain, yang kita akui dan layani adalah satu Tuhan. Karena itu, kita tak mungkin terpecah-belah.

5) Satu iman -- Iman di sini adalah kepercayaan. Jadi arti "satu iman" di sini bukan mengacu kepada keyakinan yang sama terhadap doktrin atau kebenaran Alkitab. Tuntutan demikian tidak ada dalam Alkitab.

Satu iman di sini mengacu kepada kepercayaan yang dimiliki bersama oleh orang Kristen, yaitu percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Ia mati untuk menyelamatkan orang dosa, Ia menanggung segala dosa orang dosa. Tanpa kepercayaan demikian bukanlah milik Kristus.

Semua anak-anak Allah boleh mempunyai pandangan berbeda atas tafsiran kebenaran atau doktrin, tetapi harus sama dalam kepercayaan asasi ini. Siapa yang tidak mempunyai kepercayaan ini, ia tidak ada sangkut pautnya dengan kita; tetapi yang mempunyai iman ini, ialah saudara atau saudari kita. Tuntutan kita tak boleh kurang dari ini.

Jika tidak, kita akan membaurkan orang non Kristen ke tengah-tengah kita. Kita pun tidak boleh menuntut lebih banyak dari ini. Jika tidak, kita akan mengucilkan orang Kristen sejati di luar pintu.

6)Satu Baptisan -- Apakah itu dicelup, dipercik, dicelup sekali, dicelup tiga kali, dengan wajah mendongak atau menunduk . . .

Cara atau corak pembaptisan sangat banyak. Andaikata itu dijadikan titik perbedaan, maka banyak orang Kristen sejati yang akan terkucil di luar. Sebab banyak anak Allah sama sekali tidak dibaptiskan, di antaranya seperti aliran The Quaker dan Bala Keselamatan.

Apakah makna baptisan di sini? Di tempat lain, Paulus telah menerangkan dengan jelas kepada kita tentang baptisan ini. Katanya, "Adakah Kristus terbagi-bagi?

Apakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?" (I Kor. 1:13).

Dari ayat ini kita nampak, bahwa arti satu baptisan ialah dalam nama siapakah kita dibaptiskan? Tak peduli Anda dicelup atau dipercik, atau dicelup sekali, atau dicelup tiga kali, mendongak atau menunduk, dengan cara rohani atau dengan air; yang penting dalam atau demi nama siapa Anda dibaptiskan? Jika Anda menerima baptisan dalam nama Tuhan, cukuplah sudah!

Jadi makna satu baptisan ialah baptisan yang kita terima dalam nama Tuhan. Jika seseorang telah dibaptiskan dalam nama Tuhan, dia sudahlah saudara atau saudari kita. Saya tidak mengatakan, bahwa tidak dibaptis itu benar.

Menurut Alkitab, dibaptis itu dicelup, tidak benar jika bukan dicelup. Namun di sini, bukan ini yang diperhatikan Paulus. Yang diperhatikannya ialah dalam nama siapakah kita dibaptiskan.

Jika orang dibaptis dalam nama Kristus, itu berarti bersatu.

7) Satu Allah -- Apakah Anda percaya kepada Allah? Apakah Allah yang Anda percayai itu Bapa Anda? Yang kita percayai memang satu Allah yang sama, dan sama sebagai satu Bapa.

Allah ini adalah Bapa segala sesuatu, di atas semua, oleh semua dan di dalam semua, pun tinggal di dalam kita semua. Dia berada di atas kita, di tengah-tengah kita, dan di dalam kita. Apakah yang kita percayai ini adalah Allah yang bepersona?

Apakah Allah yang melampaui segalanya? Dan apakah Allah ini Bapa Anda? Kalau yang kita percayai bukan Allah ini, kita bukan orang Kristen.

Jika kita semua percaya kepada Bapa dari semua ini, yaitu Allah yang bepersona ini, tiadalah alasan bagi kita untuk berpecah-belah.

Ketujuh butir di atas adalah tujuh kesatuan ilahi yang merupakan pusaka milik bersama segenap gereja. Dengan inilah kita menguji benar tidaknya seseorang sebagai orang Kristen, dan ini pula dasar kesatuan Kristiani kita. Setiap orang Kristen, tak peduli ia manusia jaman apa dan bangsa apa, pasti ia adalah manusia yang lengkap dengan ketujuh butir ini.

Karena kita semua bersama-sama memiliki ketujuh butir ini, maka kita semua telah terikat menjadi satu dengan erat oleh ketujuh butir ini. Ketujuh butir ini merupakan tali rangkap tujuh yang telah mengikat dengan erat seluruh kaum imani dalam segala jaman dan di segala tempat, sehingga mempersatukan mereka menjadi suatu kelompok yang tak terceraikan. Roh Kudus di dalam mengaruniakan kita satu kesatuan rohani, dan menyatakan pula kesatuan ini dengan ketujuh butir yang sama ini.

Walau di antara orang Kristen terdapat ribuan perkara yang berbeda, tetapi semua itu tidak boleh memecah- belahkan dan membeda-bedakan kita, sebab kita sama atas ketujuh butir ini, kita telah memiliki kesamaan yang tak mungkin terhapuskan. Ketujuh butir kesatuan ini bersifat ilahi, abadi, rohani dan melampaui segala-galanya. Ketujuh butir ini memungkinkan kita menjadi orang Kristen, pun membuat orang yang sama atas ketujuh butir ini bersatu selama-lamanya.

Dunia bisa tamat, waktu bisa berlalu, namun ketujuh butir ini tinggal tetap selama-lamanya. Maka kita yang saling bersatu dengan ketujuh butir ini juga tak dapat terpecah-belah.

Jika kita menuntut atau menghendaki lebih banyak satu hal lagi saja, itu sudah keliru. Kita akan segera menjadi sekte. Jika Anda ingin bersekutu dengan seseorang, tetapi dengan syarat ia harus percaya kepada baptisan celup, atau percaya kepada keterangkatan sebelum malapetaka, atau percaya kepada keharusan pencurahan Roh Kudus, atau percaya kepada doktrin kekudusan tertentu, itu sudah berlebihan.

Allah hanya mengijinkan kita menguji apakah seseorang itu saudara kita dengan ketujuh butir kesatuan ini, maka kita tidak boleh di luar kesatuan tujuh butir ini menambahkan syarat tertentu. Asalkan seseorang memiliki ketujuh kesatuan ini, dengan sendirinya ia adalah orang gereja. Kita wajib nampak satu perkara, yakni semua orang yang memiliki tujuh kesatuan ini adalah orang gereja.

Bila seseorang memiliki tujuh kesatuan ini, tidak peduli ia dari denominasi mana, ia adalah saudara kita. Ia berada dalam denominasi atau tidak, itu urusan pribadinya. Bila ia ada terang, dengan sendirinya ia akan nampak mana yang benar, mana yang salah.

Kita bukan dan tidak seharusnya menjadikan non-denominasi sebagai syarat kesatuan, melainkan menganggap orang yang memiliki ketujuh butir ini sebagai saudara kita, dan harus berupaya memelihara hati yang bersatu terhadap mereka, tanpa menghiraukan mereka berada dalam denominasi atau tidak. Hal ini sangat penting. Kesatuan kita bukan bertumpu di atas kebenaran gereja, bukan pula bertumpu pada perkara meninggalkan sekte dan berdiri di atas posisi yang unggul, melainkan berdasarkan apakah orang memiliki ketujuh kesatuan ilahi ini -- apakah mereka sama dengan kita dalam ketujuh butir ini.

Kalau sama, janganlah hiraukan ketidaksamaannya dalam perkara lain. Yang pasti mereka adalah saudara saudari kita. Jika kita tidak memiliki sikap demikian, mengira walau mereka sudah sama dalam ketujuh butir itu, tapi kita masih mengharap mereka memiliki "kesamaan" yang lain, dan masih menuntut mereka harus memiliki kesamaan lainnya, maka kita adalah sebuah sekte yang paling besar dan paling jahat.

GEREJA LOKAL

Kalau begitu, apakah gereja lokal? Gereja lokal, gereja Allah, adalah kelompok orang-orang milik Tuhan, meliputi segala bangsa dalam segala jaman, yang memiliki kesatuan Roh Kudus dan yang sama sekali sama atas ketujuh butir ini. Karena kesamaan ketujuh butir ini, maka gereja Allah tidak mungkin bercerai.

Namun, demi kemudahan administrasi, organisasi, kesaksian dan pengelolaannya, maka terbagi menjadi banyak gereja lokal menurut tempatnya. Inilah gereja-gereja Allah. Allah menetapkan lokal sebagai satu-satunya alasan yang sah untuk memisahkan gereja menjadi gereja-gereja.

Pada esensinya, gereja-gereja Allah tidak berbeda dengan gereja Allah. Ketidaksamaannya ialah yang satu merangkum semua bangsa dalam segala jaman, sedang yang satu lagi hanya merangkum satu lokal. Pada esensinya, semua memiliki kesatuan Roh Kudus, dan mutlak sama pada ketujuh butir itu.

Perbedaan antara gereja Allah dengan gereja-gereja Allah terletak pada ruang lingkupnya, bukan pada esensinya. Apakah gereja lokal? Gereja lokal ialah kelompok yang terbentuk dari orang Kristen yang tinggal di satu tempat yang memiliki kesamaan dalam ketujuh butir itu.

Setiap orang yang sama dalam ketujuh butir itu adalah orang di dalam gereja Allah. Di suatu lokal, setiap orang yang memiliki kesamaan dalam ketujuh butir itu adalah orang-orang di dalam gereja lokal. Hari ini, tak peduli orang itu siapa, asalkan ia sama dengan kita dalam ketujuh butir itu, dan juga tinggal di lokal yang sama dengan kita, ia adalah saudara kita, yakni orang di dalam gereja tempat kita tinggal.

Mereka dengan kita adalah orang di dalam gereja yang sama. Tak perlu prosedur lain untuk menjadikan mereka saudara atau saudari kita; mereka adalah saudara saudari kita secara spontan. Batasan gereja lokal adalah sebatas lokal itu, namun mencakup semua orang yang sama dalam ketujuh butir itu.

Cara pembagian lokal merupakan cara pembagian yang ditetapkan Allah.

Ada satu hal yang patut kita camkan, yaitu pada esensinya, gereja hanya ada satu. Iman kepercayaannya satu (bukan hanya sama), baptisannya punsatu, mereka menerima satu Roh Kudus, menjadi satu Tubuh, memiliki satu pengharapan, melayani satu Tuhan dan beroleh satu Allah sebagai Bapa mereka. Karena itu, mereka satu sama lain juga telah manunggal.

Maka tak ada apa pun yang bisa menceraikan mereka. Pada esensinya gereja Allah mustahil dipisah-pisahkan. Kecuali jika ketujuh "satu" ini bisa dipisahkan, barulah gereja di dalam Roh Kudus ada kemungkinan kehilangan kesatuannya itu.

Semua pemisahan buatan manusia hanya bisa tidak memelihara kesatuan ini, sehingga ia tak dapat terwujud, namun tak mungkin merusak kesatuan ini, sehingga membuatnya bubar.

Gereja Allah tetap tidak bisa dipecahbelahkan, sekalipun dengan cara pembagian lokal yang diperbolehkan Allah. Perbedaan geografis tak mungkin membuat gereja Allah terpecah belah. Mungkinkah iman kita dipecahbelahkan?

Berbedakah baptisan yang kita terima? Tidak samakah Roh Kudus yang kita terima? Bolehkah Tubuh tempat kita berada dipotong-potong?

Berlainankah pengharapan kita? Bukankah Allah Bapa dan Tuhan kita itu satu? Jika semuanya itu tak mungkin terpisah-pisahkan, gereja pun tak mungkin dipecahbelahkan.

Jika secara geografis tak mungkin memisahkan semuanya itu, niscayalah secara geografis pun tak mungkin memecah belah gereja. Gereja adalah satu, seperti halnya Allah adalah satu, maka geografi mustahil memecahbelahkannya.

Kalau demikian, mengapa Allah memerintahkan kita memakai lokalitas sebagai dasar pemisahan gereja? Mengapa tidak hanya mendirikan satu gereja, melainkan mendirikan banyak gereja lokal? Ini disebabkan hal tersebut bukan mengacu kepada perpecahan pada aspek esensinya.

Secara esensial gereja mustahil terpecah belah, sama seperti Allah tak mungkin terpecah belah. Namun pembagian secara lokal bukanlah pembagian secara esensial, melainkan pada administrasi, manajemen dan organisasinya. Gereja tidak hanya memiliki aspek rohani, tetapi ketika ia masih berada di bumi dan merangkum begitu banyak orang, dengan sendirinya ia perlu ada organisasi, manajemen dan administrasi.

Karena seluruh umat milik Tuhan di dunia mustahil tinggal di satu lokal dan bersidang di satu lokal; pada aspek organisasi, manajemen, dan administrasinya tak dapat tidak terbagi-bagi menjadi gereja-gereja. Itulah gereja-gereja lokal dalam Alkitab. Itulah alasan Allah yang dengan khusus menetapkan lokalitas sebagai batasan gereja-gereja.

Kita harus jelas, bahwa esensi gereja-gereja ini mutlak sama. Bukan di sebuah gereja lokal ada sejenis unsur, sedangkan di gereja lokal lain ada sejenis unsur lain; mereka mutlak sama. Yang berlainanhanya lokal tempat mereka berada.

Selaku orang Kristen, pada esensinya kita telah mendobrak semua batasan sehingga tiada lokal apa pun yang dapat membatasi kesamaan dan kesatuan kita. Tetapi pada aspek lainnya, kita masih sebagai manusia dan tinggal di dalam daging, dan masih hidup di dalam waktu, karena itu kita tak dapat tidak terkendali oleh ruang. Dalam sementara waktu ini, pada aspek urusan, kita tak dapat tidak terbatas oleh geografi.

Jadi, pada aspek esensinya, gereja-gereja lokal mutlak sama dan bersatu, mustahil terpecah belah. Namun pada aspek ruang lingkupnya, mereka saling berbeda, saling mandiri dan dapat dibagi-bagi. Jadi pendirian gereja-gereja lokal bukanlah untuk memecah belah kehidupan gereja Allah, melainkan memisahkan manajemen, organisasi dan administrasinya.

Alangkah mustikanya! Anak-anak Allah di mana-mana sama, tidak ada alasan geografis yang dapat membuat mereka menjadi manusia yang berbeda. Yang kita percayai sama, yang kita peroleh juga sama, dan tujuan kita kelak pun sama.

Mengapa harus dibagi dengan alasan lokalitas, bukan alasan lain? Sebab cara pembagian lain dapat "dielakkan" dan memang tidak seharusnya. Hanya cara pembagian lokalitaslah yang tak mungkin terhindarkan, bahkan seyogianya.

Asalkan kita masih hidup sehari di tempat ini, maka kita tak dapat tidak terkendali oleh batas ruang. Perbedaan geografis ini alamiah, bukan ciptaan manusia. Karena itu, gereja yang bersaksi di dunia ini hanya dapat dibagi menurut lokalitas.

Gereja berunitkan kaum imani, sedangkan kaum imani tidak dapat hidup di luar lokal tempat ia tinggal. Maka gereja yang terbentuk oleh kesatuan kaum imani pun tak mungkin tidak terkendali oleh tempat tinggal. Itulah alasan cara pembagian lokalitas.

Tidak hanya demikian, cara pembagian lokalitas pun sahih, sedangkan cara pembagian lain bersifat kedagingan. Pendukungan terhadap tokoh/pemimpin, kesombongan etnis/suku, membanggakan kebangsaan, mempertahankan doktrin tertentu, berselisih opini, diskriminasi status sosial, kepongahan atas hal-hal adikodrati dan sebagainya, tidak ada satu yang tidak bersifat kedagingan. Karena manusia belum beroleh wahyu Allah, sehingga nampak kedagingan dirinya sendiri, maka ia tidak merasa ganjil terhadap hal-hal tersebut.

Tetapi kalau orang pernah menerima penanggulangan Allah, niscayalah akan mengetahui betapa kejinya semuanya itu. Sebab itu, jika hal-hal itu yang dijadikan cara untuk pembagian gereja Allah, gereja tidak hanya akan terbagi-bagi pada ruang lingkupnya, pada esensinya pun akan terbagi-bagi. Namun pembagian secara lokalitas tidak akan melukai kehidupan gereja, sedangkan cara pembagian lainnya akan melukai kehidupan gereja.

Maka cara pembagian yang lain adalah apa yang disebut Alkitab "bergolong-golongan". Hanya cara pembagian lokalitaslah yang berlaku (diperkenankan) di bumi ini.

Semua cara pembagian lain, tak dapat dihindarkan akan mempengaruhi esensi gereja, paling tidak akan membuat esensi ini tidak tertampil. Tapi cara pembagian lokalitas memenuhi kebutuhan keterkendalian hidup manusia oleh batas ruang, maka ia hanya bisa memisahkan gereja secara regional, tidak bisa mengubah gereja secara esensial. Maka pembagian lokalitas pada hakekatnya tidak berarti terpecah belah, sebab sifatnya tetap sama.

Lain halnya dengan pembagian menurut cara lainnya, itu benar-benar memecah belah, sebab sifatnya telah terpengaruh. Pembagian lokalitas hanya menyentuh masalah regional tanpa ketidaksamaan yang lainnya; ketujuh keidentikan dan kesatuan tetap tidak terpecah belah dan berantakan. Jadi, hanya pembagian ini yang benar-benar bukan perpecahan.

Itulah sebabnya Allah membagi-bagi gerejaNya menjadi gereja-gereja menurut cara ini. Karena itu, selanjutnya kita nampak, walau telah mengalami pembagian sedemikian, gereja tetap gereja, tidak ada perubahan. Mulanya adalah gereja Allah, kini adalah "gereja Allah di Korintus".

Tetap gereja, hanya saja ditambah dengan ruang lingkup tempat ia berada.