DASAR KESATUAN DAN PEMECAHAN/PEMISAHAN
Telah kita katakan, bahwa istilah "gereja" dalam Kitab-kitab Injil hanya dipakai dua kali, dan kedua kali itu terdapat dalam Injil Matius. Istilah tersebut kemudian dipakai terus dalam kitab Kisah Para Rasul. Kitab Kisah Para Rasul tidak memberitahu kita bagaimana gereja itu didirikan.
Pada awal kitab Kisah Para Rasul hanya dikatakan ada tiga ribu dan lima ribu orang beroleh selamat, tidak dijelaskan bahwa mereka itu terbentuk menjadi gereja. Namun, selanjutnya mereka disebut gereja. Kisah Para Rasul 5:11 mengatakan, "Maka sangat ketakutanlah seluruh gereja dan semua orang yang mendengar hal itu." Inilah ayat pertama dalam kitab Kisah Para Rasul yang menggunakan istilah gereja.
Demikianlah orang-orang yang diselamatkan itu dilukiskan secara sederhana dan biasa sebagai "gereja". Dalam pasal 2, 3 dan 4, golongan orang yang beroleh selamat itu tidak disebut gereja, hingga pasal 5 barulah mereka disebut gereja. Dalam pasal 2 ada orang yang mendapatkan hayat, dalam pasal 3 juga ada orang yang mendapatkan hayat, namun baru pada pasal 5 mereka disebut sebagai "gereja".
Ketika terjadi kasus Stefanus, maka istilah ini dipakai lebih nyata. Kisah Para Rasul 8:1 mengatakan, "Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap gereja di Yerusalem pada hakekatnya adalah gereja di Yerusalem. Sejak saat itu kita tahu apakah yang disebut gereja.
Gereja tak lain sebuah kelompok yang terbentuk dari semua orang yang diselamatkan di suatu tempat. Kemudian, Paulus memberitakan Injil di berbagai tempat dan ada orang yang beroleh selamat. Alkitab (Kis.
13 dan 14) tidak mengatakan Paulus mengorganisir mereka menjadi gereja. Tetapi pada 14:23 dengan tegas orang percaya dan yang diselamatkan di tiap lokal disebut gereja. "Di tiap-tiap gereja rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi gereja itu ..." Ketika Paulus kembali, Roh Kudus menyebut orang-orang yang beroleh selamat di tiap-tiap lokal sebagai gereja.
Jadi, sekelompok orang yang beroleh selamat di suatu lokal otomatis menjadi gereja di lokal itu, tanpa melalui rekomendasi atau pernyataan. Maka dalam Alkitab, pendirian gereja tidak memakai prosedur tertentu di luar penginjilan, tak memakai cara tertentu sebagai tambahan. Bila orang telah mendengar Injil, menerima Tuhan sebagai Juruselamat, orang-orang ini adalah gereja, tidak ditambah dengan prosedur tertentu; tidak ada prosedur kedua.
Dengan kata lain, bila seseorang telah mendengar Injil, percaya kepada Tuhan Yesus, otomatis ia menjadi salah satu unsur dalam gereja. Bila ada dua atau tiga orang semacam itu di suatu lokal, dengan sendirinya gereja telah muncul.
Karena itu, kita harus memperhatikan penggunaan istilah ini dalam kitab Kisah Para Rasul. Pendirian gereja tidak ada prosedur tertentu. Gereja dengan otomatis berdiri setelah ada penginjilan dan ada orang yang beroleh selamat.
Herannya, pada pasal 2 dan 3 istilah gereja tidak dipakai, dan pada pasal 5, tanpa penjelasan apa-apa, orang-orang yang diselamatkan itu disebut gereja. Pula tidak dijelaskan, bahwa sebutan itu mengacu kepada mereka; hanya demikian menyebutnya, namun dengan sendirinya para pembaca mengerti gereja itu adalah orang-orang tersebut. Demikian pula, hingga pasal 13 dan 14, yakni ketika kedua rasul itu memberitakan Injil.
Di mana ada orang percaya Tuhan, di sanalah gereja berdiri. Bila di satu tempat ada orang percaya Tuhan, dengan spontan gereja pun muncul di tempat itu. Gereja berdiri karena ada orang yang menerima Injil.
Begitu seseorang menerima Injil, ia segera menjadi salah satu unsur di gereja lokal itu. Masalah berikutnya ialah sejauh mana mereka menempuh hidup gereja itu.
Bila satu orang imani di suatu lokal sudah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya, maka di lokal itu ia adalah satu anggota gereja lokal, tidak perlu melakukan prosedur lain untuk masuk ke dalam gereja. Kalau dia milik Tuhan, dia sudah menjadi orang dalam gereja lokal tersebut, tidak peduli melalui prosedur memasuki atau tidak. Karena itu, setiap orang imani yang bermukim selokal, tidak peduli bagaimana keadaan mereka, mereka adalah orang-orang yang satu gereja dengan kita.
Asalkan mereka telah mendengar dan percaya kepada Injil, mereka sudah merupakan saudara saudari dalam gereja kita, dan tidak seharusnya mereka dituntut untuk menempuh prosedur lain sebagai syarat pengakuan kita. Jangan menuntut mereka harus begini atau begitu, baru terhitung sebagai saudara kita. Kalau demikian, maka "gereja kita" yang kita miliki itu pasti bukan gereja Allah.
Gereja Allah di lokal kita, terdiri dari orang-orang yang mendengar Injil dan menerima Kristus. Mereka sudah dianggap orang dalam, tanpa prosedur lain. Andaikata di "gereja kita" ada prosedur tertentu sebagai syarat, maka "gereja kita" ini pasti bukan gereja Allah, melainkan sejenis kelompok lain.
Maka ingatlah, semua orang yang beroleh selamat, yang tinggal selokal dengan kita, tak peduli mereka mempunyai hubungan lain atau tidak, asalkan mereka sudah benar-benar beroleh selamat, dan kita sendiri benar-benar berada dalam gereja Allah, bukan organisasi manusia, maka mereka sudah satu gereja dengan kita. Mereka adalah anggota gereja kita. Ini disebabkan sebuah gereja lokal mencakup semua anak-anak Allah di lokal itu.
Sebab itu, kita harus senantiasa memperhatikan, bahwa kita menerima orang karena ia sudah diterima Tuhan. Penerimaan kita hanyalah mengakui orang yang diterima Tuhan. Tegasnya, kalau ia milik Tuhan, ia ada di dalam gereja, kalau ia bukan milik Tuhan, ia tidak ada dalam gereja.
Maka, setiap kali kita menerima orang, kita hanya melihat sudahkah ia diterima oleh Tuhan, cukup itu saja. Kalau tidak, kita adalah sebuah sekte. Dalam Alkitab, hanya ada orang yang ditambah ke dalam gereja, tidak ada orang yang masuk ke dalam gereja, karena tidak ada orang bisa masuk ke dalam gereja, tetapi Allah bisa menambah jumlah orang ke dalam gereja.
Bila di suatu tempat ada orang memberitakan Injil, lalu ada yang percaya Tuhan dan beroleh selamat, mereka adalah saudara kita, mereka adalah gereja lokal di situ. Tetapi, masalahnya tidak sesederhana itu. Sebab pada satu aspek, ada sekte yang telah memecah belah anak-anak Allah, dan di aspek lain, ada orang dunia yang menyelundup ke dalam kalangan anak-anak Allah.
Kesulitan pada masa kini adalah banyak yang disebut "gereja" malah menutup di luar pintu, orang-orang yang seharusnya ada di dalam, namun merangkum orang-orang yang seharusnya di luar. Di manakah sebenarnya garis batas dalam dan luar ini? Bagaimana pula agar yang di luar berada di luar dan yang di dalam tetap di dalam?
Orang macam apakah yang dapat dianggap sebagai salah satu unsur gereja? Orang bagaimana yang boleh kita terima? Dengan tuntutan apakah baru kita tidak dapat tercerai dengan mereka?
Dengan kualifikasi apakah kita menentukan siapa anak-anak Allah dan siapa bukan anak-anak Allah? Dengan syarat apakah kita menentukan saudara atau bukan saudara? Jika batasan itu tidak jelas, niscaya orang-orang yang di dalam gereja akan kita kucilkan di luar, dan orang-orang yang di luar akan kita rangkum ke dalam.
Siapakah sebenarnya orang Kristen? Bagaimana baru bisa terhitung sebagai orang Kristen? Mengenai hal ini, Alkitab menunjukkan kepada kita dengan jelas: semua orang milik Allah mempunyai satu titik persamaan, yakni oleh iman mereka kepada Kristus, mereka mempunyai Kristus dalam hati melalui tinggalnya Roh Kudus dalam hati mereka, "Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus" (Roma 8:9).
Inilah titik persamaan mutlak dari setiap orang Kristen. Mereka boleh berlainan dalam ribuan perkara, tetapi dalam perkara ini, mereka sama. Siapa milik Tuhan, ada ini; siapa bukan milik Tuhan, tidak ada ini.
Jika kita ingin mengenal siapa milik Tuhan dan siapa bukan milik Tuhan, cukup melihat apakah ia memiliki Roh Kudus atau tidak. Sebab, kaum imani sejati pasti memiliki Roh Kudus. Jadi, yang memiliki Roh Kudus adalah orang dalam, yang tidak memiliki Roh Kudus adalah orang luar.
Gereja Allah minum dari satu Roh dan juga dibaptis dari satu Roh. Barangsiapa ada bagian dalam Roh Kudus, ia ada bagian dalam gereja ini (Tubuh), barangsiapa tidak ada bagian dalam Roh Kudus, tidak ada bagian dalam gereja ini. Gereja yang universal demikian, gereja-gereja lokal pun demikian.
Orang yang memiliki Roh Kudus barulah milik gereja Allah dan milik gereja-gereja Allah. Titik persamaan mutlak dari kaum imani ialah berhuninya Kristus dalam hati melalui Roh Kudus. Tidak ada seorang milik Tuhan yang sejati yang terkecuali.
"Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam hatimu?" (II Kor. 13:5).
Siapakah orang Kristen? Orang yang telah bersatu dengan Kristus oleh Roh Kudus. Siapakah anak-anak Allah?
Orang yang beroleh Roh Anak sehingga bisa memanggil, "Ya Aba, ya Bapa." Siapakah saudara kita? Orang yang beroleh Roh hayat yang sama dengan kita. Siapakah gereja?
Orang-orang yang oleh Roh Kudus terbentuk menjadi tempat kediaman Allah. Semua orang yang demikian adalah orang yang bersama kita di dalam gereja. Orang yang tidak demikian adalah orang yang di luar gereja.
Jadi, siapa yang kita cakup ke dalam dan siapa yang kita pisahkan di luar, tergantung apakah mereka mempunyai hubungan hayati oleh Roh Kudus dengan Tuhan. Ini adalah yang dimiliki bersama oleh setiap orang yang telah ditebus darah adi; ini tidak mungkin dimiliki oleh orang-orang yang binasa dalam dosa. Antara gereja dan dunia terdapat satu batasan yang subjektif.
Yang ada di dalam semuanya sudah beroleh selamat, yang ada di luar semuanya masih binasa. Garis batasan ini tak lain adalah Roh Kudus yang berhuni dalam batin kita.
Jadi, kita tahu, perbedaan antara kaum imani dan orang dunia ialah pada ada tidaknya Kristus, ada tidaknya Roh Kudus. Yang beroleh Roh Kudus adalah milik Tuhan, yang tidak beroleh Roh Kudus, Tuhan pun tidak dimilikinya. Kita juga tahu, semua orang yang mendengar dan percaya Injil, beroleh selamat serta beroleh Roh Kudus, tanpa melalui prosedur langkah kedua, sudah otomatis menjadi anggota dalam gereja.
Jika mereka tinggal selokal, dengan sendirinya mereka adalah unsur gereja lokal tersebut. Jika tinggal terpencar di berbagai lokal, dengan sendirinya adalah unsur gereja universal. Meskipun jumlahnya banyak, asalkan mereka orang Kristen sejati, semuanya dengan otomatis bersatu menjadi esa.
Mengapa demikian?
Mengapa anak-anak Allah yang jumlahnya sebanyak itu, dan tinggal terpisah di berbagai lokal, serta hidup di dalam waktu yang berbeda, namun di hadapan Tuhan tetap sebagai satu gereja? Bagaimana mungkin banyak orang imani di satu lokal tetap merupakan satu gereja di lokal tersebut? Mengapa mereka bersatu, dan bagaimana orang Kristen yang sebanyak itu menjadi satu?
Latar belakang, suku bangsa, kewarganegaraan, pendidikan, status sosial, dan pengalaman orang-orang itu tidak sama, bagaimana mereka bisa menjadi satu? Berdasarkan apa kekristenan bisa menyatukan orang-orang Kristen yang berbeda latar belakang itu? Ingatlah, kesatuan orang Kristen bukanlah buatan manusia, bukan hasil mufakat satu dengan yang lain.
Kesatuan orang Kristen berasal dari "kesatuan" yang dikaruniakan Allah di dalam batin kita ketika kita percaya kepada Kristus, dan "kesatuan" ini dimiliki bersama oleh setiap orang milik Tuhan. Karena setiap anak-anak Allah beroleh "kesatuan" yang misterius ini, maka mereka bisa bersatu, dan "kesatuan" ini disebut Alkitab "kesatuan Roh Kudus" (Ef. 4:3).
Apakah "kesatuan Roh Kudus" ini? Ini tak lain adalah Roh Kudus yang dimiliki setiap orang Kristen. Roh Kudus yang bersemayam dalam hati kita masing-masing ini adalah satu Roh Kudus.
Karena itu, Ia membuat setiap orang yang dihuni olehNya dapat saling bersatu, seperti Dia sendiri adalah satu. Melalui inilah Allah memisahkan mereka dari dalam dunia; melalui ini pula Allah membuat mereka saling bersatu. Di sinilah letak perbedaan antara kaum imani dengan orang dunia; di sini pula letak persamaan di antara kaum imani.
Titik bersatunya kaum imani justru adalah titik yang membuat mereka berbeda atau terpisah dari orang dunia. Hal inilah yang menentukan apakah seorang milik Kristus atau bukan. Melalui ini pula terjadi kesatuan antar umat Kristen.
Kristus yang di dalam Roh Kudus inilah yang membuat kita berbeda dengan orang dunia, dan membuat kita, kaum imani, saling bersatu.
Umat Kristen menjadi satu kelompok, tidak dapat diceraikan dengan alasan apa pun (kecuali kelainan lokal), justru karena di dalam kita masing-masing ada satu kesamaan yang mendasar ini. Jika seseorang tidak memiliki ini, tidak dapatlah kita menganggapnya sebagai saudara, dia adalah orang luar. Jika ia memiliki ini, dia adalah orang dalam, dan kita sudah menjadi manusia yang bersatu.
Dengannya kita tidak boleh berpisah karena alasan apa pun. Semua orang yang mempunyai Roh Kudus sudah bersatu sedemikian, tak mungkin berpisah lagi, sebab kita sudah bersatu pada dasarnya, yakni bersatu di dalam hayat dan di dalam roh. Karena itu, Paulus berkata, "Sebab itu, aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.
Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera .
. ." (Ef. 4:1-3).
Perlu kita perhatikan, di sini Paulus tidak berkata, "harus saling bersatu," melainkan "harus memelihara kesatuan." Kita tidak mungkin memelihara sesuatu yang tidak kita miliki. Kita hanya dapat memelihara sesuatu yang sudah kita miliki. Paulus menasihati kita untuk memelihara kesatuan yang sudah kita miliki ini, maka sekarang kita wajib memeliharanya.
Tuhan tidak menyuruh kita bersatu dengan kaum imani lain, juga tidak menyuruh kita menciptakan satu kesatuan, melainkan memelihara kesatuan yang telah kita miliki di dalam Tuhan, yaitu yang telah kita peroleh melalui Roh Kudus. Kita telah menerima kesatuan ini ketika kita percaya Tuhan. Kita berpisah dengan dunia oleh karena Roh Kudus, dan kita saling menjadi satu karena Roh Kudus yang bersemayam di batin kita ini.
Sekarang kita tidak perlu menciptakan satu kesatuan antar kaum imani, namun kita harus memahami, melihat dan mengakui, bahwa Roh Kudus yang kita terima itulah kesatuan di antara kaum imani.
Walaupun kita tak dapat menciptakan kesatuan, sebab kita sudah bersatu di dalam Kristus melalui Roh Kudus, tetapi kita bisa merusak fungsi kesatuan ini, sehingga ia tidak dapat dinyatakan di antara anak-anak Allah. Itulah sebabnya perintah yang kita terima ialah: hendaklah kita berusaha memelihara kesatuan ini. Sungguh kasihan, kita sering tidak memelihara kesatuan itu, malah merusaknya.
Jadi, siapakah saudara kita? Kita tidak melihat sama tidaknya mereka dengan kita atas ajaran Alkitab, atau sama tidaknya mereka dengan kita atas pengalaman rohani, atau sama tidaknya selera, adat istiadat, kebiasaan, kehidupan, kegemaran mereka dengan kita. Semua orang yang tertebus oleh darah adi, yang menjadi anak-anak Allah, yang memiliki Roh Kudus berhuni di dalam mereka, itulah saudara kita.
Kita tak dapat menuntut kesatuan daging, kesatuan opini, atau kesatuan lainnya. Kita hanya wajib melihat kesatuan Roh Kudus. Bila ia memiliki kesatuan ini, dialah orang di dalam Tuhan.
Orang-orang yang memiliki kesatuan ini, yang tinggal selokal dengan kita, adalah orang-orang yang satu gereja dengan kita. Kita berpisah dengan orang, hanya dapat dikarenakan ia tidak mempunyai kesatuan ini; kita bersatu dengan orang, juga hanya karena masing-masing memiliki kesatuan ini.
Kerapkali ketika kita bepergian, di kereta api atau di kapal laut, kita bertemu dengan orang yang tenang dan takwa. Kita lalu menduga apakah ia orang Kristen. Setelah berbicara sejenak dengannya, tahulah kita, bahwa ia memang seorang milik Tuhan.
Ia telah ditebus darah, dan ia adalah seorang saudara sejati. Tadinya, Anda tidak mengenalnya sama sekali, tetapi begitu bertemu, seolah sudah kenal lama, dan hati kita merasa sangat sukacita bisa berjumpa dengan seorang saudara. Ketika itu, dalam hati kita dengan spontan timbul kasih terhadapnya.
Ini karena adanya "kesatuan Roh Kudus" di dalam kita dan dia. Perasaan hati kita itulah fungsi kesatuan Roh Kudus. Pada saat itu, kekuatan dalam batin benar-benar telah melampaui perbedaan suku, kewarganegaraan dan status sosial, sehingga membuat kita sama sekali bersatu di dalam Roh Kudus.
Tetapi, ketika kita lebih jauh memperbincangkan soal kebenaran Alkitab, boleh jadi ia sangat berbeda dengan kita dalam menafsirkan nubuat, sehingga kasih kita terhadapnya mulai bocor dan berkurang. Sadarkah Anda, sekarang Anda berada di suatu posisi lain lagi; Anda berusaha menemukan kesatuan, bukannya memelihara kesatuan, lebih-lebih bukan berusaha memelihara kesatuan Roh Kudus ini. Hasilnya, kita akan berpisah dengan rasa tidak gembira.
Berpisahnya anak-anak Allah hari ini, dikarenakan mereka tidak berusaha memelihara kesatuan ini.
Bagaimanakah kita tahu orang lain ada kesatuan ini? Andaikata orang mempunyai kesatuan Roh Kudus ini, secara luaran, bagaimana kita dapat mengetahuinya? Bagaimana kita dapat mengetahui dia juga saudara?
Paulus memberitahu kita, jika orang telah memiliki kesatuan Roh Kudus, ia pasti memiliki tujuh hal lain yang sama dengan kita. Kita tak dapat mengharap dia sama dengan kita dalam segala perkara, tetapi kita dapat mengharap dia sama dengan kita dalam tujuh hal. Ketujuh hal itu membuktikan benar tidaknya seseorang memiliki kesatuan Roh Kudus ini.
Karena ketujuh hal tersebut menyatakan kesatuan Roh Kudus, kita wajib berusaha memeliharanya, mementingkannya. Walau hal-hal lainnya juga penting, tetapi ketujuh hal inilah yang memastikan persekutuan Kristiani kita. Maka tuntutan kita terhadap orang haruslah terbatas pada ketujuh hal tersebut.
Apakah ketujuh hal itu?