Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 5 • Modul 20

Memelihara Sifat Lokal dan Faedahnya

Pembacaan Alkitab
"Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." — Matius 16:18

BAGAIMANA MEMELIHARA SIFAT LOKAL

Berhubung gereja yang didirikan Allah melalui rasul sangat bersifat lokal, maka kita harus memelihara sifat lokalnya itu, yaitu harus memelihara batasan atau ruang lingkup lokalnya. Jika kehilangan ini, sifat lokal gereja akan hilang, dan menjadi "sekte". Sekte adalah "gereja" yang kehilangan sifat, batasan atau ruang lingkup lokal.

Jika sebuah gereja merusak ruang lingkup lokal dan menjadikan Paulus atau Apolos sebagai ruang lingkupnya, ia akan menjadi sekte. Sekte takkan terjadi jika ruang lingkupnya lokal. Maka bila orang selain gereja lokal mendirikan lembaga lain, itu berarti tidak menjadikan lokal sebagai ruang lingkupnya, dan mereka akan segera menjadi sekte.

Jika kita ingin memelihara sifat lokal dalam gereja, ada dua perkara yang harus kita perhatikan dan cegah.

Gereja adalah milik lokal, tidak bersangkut paut dengan pekerja. Pekerja tidak boleh memiliki satu gereja pribadi di tempat mana pun. Jiwa-jiwa yang diselamatkan pekerja di suatu tempat, harus diserahkan kepada gereja lokal itu; pekerjaannya semua harus bagi gereja lokal.

Gereja lokal adalah satu ruang lingkup yang merangkum seluruh umat Tuhan. Asalkan kaum imani bermukim di tempat yang sama, mereka harus tercakup di dalamnya. Rasul tidak cuma satu, rasul juga tidak bisa pergi ke seluruh tempat.

Andaikata ada satu gereja atau beberapa gereja didirikan melalui seorang rasul, lalu mereka menganggap, bahwa mereka boleh menjadi milik rasul tersebut, hal itu berarti memisahkan/membedakan gereja-gereja di tempat lainnya; karena mereka didirikan melalui rasul lain, dan menjadi milik rasul lain. Jika demikian, para rasul akan menjadi dalang berbagai sekte! Berapa luasnya ruang lingkup aktivitas seorang rasul, seluas itu pula ruang lingkup sektenya.

Gereja yang didirikan oleh rasul yang berbeda, akan menjadi unsur sekte yang berbeda. Hal ini sangat tidak diperkenan Tuhan.

Sifat lokal justru untuk mencegah timbulnya dampak buruk ini. Maka untuk memelihara gereja agar tidak menjadi sekte, ada satu hal yang harus khusus diperhatikan: jangan sekali-kali membiarkan seorang pekerja mempengaruhi gereja (mengacu kepada aspek formal/resmi, bukan aspek rohani). Rasul adalah sejenis jabatan yang melampaui lokal.

Allah tidak mengijinkan seorang rasul mengatur sebuah gereja. Begitu rasul mengatur sebuah gereja, maka gereja itu kehilangan sifat lokalnya, dan akan mengenakan warna rasul yang mengaturnya itu. Bila sebuah gereja dimiliki oleh seorang rasul, gereja itu akan berubah menjadi sekte.

Gereja yang dikelola oleh rasul bukanlah gereja lokal lagi. Menurut pengaturan Allah, setelah rasul bekerja dan memperoleh jiwa di berbagai tempat, maka dari antara saudara yang agak lumayan dan agak maju, ia memilih dan melantik beberapa orang sebagai penilik. Sesudah ada penatua di sebuah gereja lokal, rasul harus segera lepas tangan.

Jika rasul tidak lepas tangan, gereja itu pasti akan diwarnai oleh sifat rasul itu, tanpa sifat lokal.

Surat Korintus memberi kita terang yang indah. Pertama kali kasus bergolong-golongan di gereja Korintus ialah adanya orang yang berkata, "Aku dari golongan Paulus, aku dari golongan Apolos, dan aku dari golongan Kefas," sebagai alasan perbedaan. Masing-masing golongan mendukung tokoh yang memberitakan Injil dan menyelamatkan mereka.

Terjadinya kekhilafan ini karena mereka tidak nampak, bahwa gereja adalah milik lokal. Seandainya mereka tahu, bahwa dirinya adalah milik lokal, tentu tidak mungkin mereka berkata, "Aku dari golongan Paulus, aku dari golongan Apolos, atau aku dari golongan Kefas." Jika mereka mengenal dengan tepat ruang lingkup gereja adalah lokal, tentu tidak mungkin terjadi sekte. Sifat lokal dapat memelihara sebuah gereja sehingga tidak mungkin menjadi sekte.

Pada saat Anda mengorbankan sifat lokal, saat itulah sekte mulai muncul. Makna sekte ialah: di luar Tuhan dan di luar lokal, menjadi milik sesuatu yang lain.

Di sinilah letak persoalannya dewasa ini, yakni orang yang bekerja dan lembaga/kelompok yang bekerja, tidak nampak bahwa Allah tidak membenarkan pekerja atau lembaga yang bekerja menahan atau mengelola kaum imani dan mengambil alih mereka ke bawah nama pribadi pekerja atau lembaga tertentu. Jika seorang pekerja mengurus satu gereja, niscaya gereja tersebut menjadi gereja Paulus, atau gereja Apolos, atau gereja Kefas. Orang-orang itu akan menjadi ciri-ciri gereja.

Untuk mencegah gereja menjadi sekte karena kekhilafan pekerja seperti yang dikatakan di atas, maka Allah khusus menetapkan lokal sebagai batasan gereja.

Terbentuknya sekte justru karena ada beberapa orang yang sangat berpengetahuan, sangat berpengalaman, atau sangat terang, dan menarik sebagian orang untuk mengikuti mereka, dan justru orang-orang itulah yang menjadi sekte. Jika mereka nampak, bahwa pekerjaan adalah untuk mendirikan gereja lokal, bukan mendirikan lembaga perorangan atau suatu kelompok orang, tidak mungkinlah sekte terbentuk. Karena itu gereja harus mempertahankan sifat lokalnya, baru tidak sampai menjadi sekte.

Para pekerja Allah harus lepas tangan. Kalau tidak lepas tangan, gereja tidak dapat menjadi gereja lokal. Bila pekerja lepas tangan dan membiarkan saudara setempat yang bertanggung jawab, gereja itu akan menjadi gereja lokal.

Dengan kata lain, sebagai pekerja Allah, kita wajib sekuat tenaga mempertahankan sifat lokal setiap gereja, tidak memberinya warna apa pun, khususnya warna pribadi kita sendiri. Kita adalah hamba semua orang, bukan majikan siapa pun. Tidak ada satu gereja yang bersangkut paut dengan pekerja (kecuali pada aspek rohani).

Pekerjaan kita adalah untuk setiap gereja. Ada orang beroleh selamat, itu milik mereka; ada orang maju kerohaniannya, juga milik mereka. Tidak pada tempatnya sebuah gereja dimiliki pekerja, tidak pada tempatnya pula satu orang imani dimiliki pekerja.

Ingatlah selalu, gereja adalah milik lokal.

Seandainya semua orang yang dipakai Allah dalam sejarah gereja nampak kebenaran lokalitas gereja, (bukan karena setelah mendengar Injil atau menerima bantuan rohani dari seseorang atau lembaga tertentu, lalu menjadi gereja seseorang atau lembaga tertentu), niscaya tidak akan muncul sekte sebanyak hari ini. Begitu mendapatkan jiwa di suatu tempat, para rasul segera mendirikan gereja dan kemudian melantik penatua. Ini justru untuk mencegah pekerja menjadi "majikan" gereja.

Pengaturan Allah yang demikian justru agar gereja tidak kehilangan sifat lokalnya.

Untuk memelihara sifat lokal gereja, masih ada satu perkara lagi yang sangat penting, yakni jangan membiarkan ruang lingkup gereja melampaui ruang lingkup lokal. Praktik yang populer dewasa ini ialah bergabungnya kelompok-kelompok yang sepaham dari beberapa tempat menjadi satu "gereja". Atau dengan satu misi sebagai pusat, dan mendirikan satu "gereja" misi, yang mencakup banyak lembaga/organisasi.

"Gereja" sejenis ini jelas tidak bersifat lokal, sebab mereka sudah melampaui ruang lingkup lokal. Mereka mengambil doktrin atau misi sebagai ruang lingkup mereka. Jadi, ruang lingkup mereka sudah melampaui ruang lingkup yang ditetapkan Alkitab.

Allah tidak mengijinkan kita mendirikan gereja yang menggabungkan kelompok-kelompok kaum imani di berbagai tempat, sebab berbuat demikian bisa merusak prinsip lokal yang ditetapkanNya, dan akan membuat kelompok ini menjadi kelompok yang tak keruan. Hanya sejenis gereja yang sesuai dengan kehendak Allah, yakni gereja yang beruang lingkup lokal. Semua yang melampaui ini tidak dikehendakiNya.

Setiap gereja yang berpusatkan misi, yang mengkoordinir tiap lembaga/organisasi, pasti melampaui ruang lingkup lokal. Kendatipun lembaga-lembaga itu tetap eksis di berbagai lokal, tetapi pusat persatuan mereka adalah misi, maka ruang lingkup mereka adalah misi juga. Sebab adanya satu pusat akan melahirkan satu ruang lingkup.

Di luar lokal, mereka akan memiliki sebuah batasan perbedaan. Tujuan Allah yang semula ialah agar AnakNya, Kristus, menjadi pusat atau inti perhimpunan setiap gereja, sedang setiap gereja itu sendiri ruang lingkupnya adalah batasan perbedaan lokal. Jadi jelas, bahwa gereja-gereja misi semacam itu telah melampaui batasan lokal sehingga kehilangan sifat lokalnya.

Karena itu, jika kita mengkoordinir kelompok-kelompok kaum imani di beberapa lokal dengan dogma, doktrin, atau tokoh apa pun sebagai pusat/inti, sehingga membentuk sebuah gereja "persatuan", itu pasti akan menjadikan pusat itu sebagai ruang lingkup, dan akan kehilangan batasan yang ditentukan Allah. Kita tidak berkata, bahwa mereka telah menolak Kristus, dan sama sekali meninggalkanNya; mereka masih tetap mengakui Kristus. Namun kita harus ingat, inti adalah ruang lingkup.

Bila di luar atau selain Kristus, Anda memiliki suatu inti atau pusat, itulah yang menjadi ruang lingkup Anda; hal ini pasti terjadi demikian. Jika seseorang memiliki dua inti atau pusat, maka ia dapat mengabaikan yang besar, tetapi memperhatikan yang kecil. Lagi pula, sifat alami manusia tidak mau memperhatikan apa yang dimiliki umum, melainkan apa yang dimiliki pribadi.

Akibatnya, inti yang kedualah yang lebih diperhatikannya. Dengan inti ini pula ia menilai siapa orang kita, dan siapa bukan. Sebuah inti pasti akan menjadi batas perbedaan.

Siapa yang berinti ini dianggap orang dalam, siapa yang tak berinti ini dianggap orang luar. Pasti ini yang terjadi! Jika demikian, batasan lokal itu segera rusak, dan terhapuslah batasan lokal tersebut.

Sebab itu, kalau anak-anak Allah ingin mempertahankan sifat lokal gereja, jangan sekali-kali memiliki pusat atau inti (misalkan doktrin, misi) lain kecuali Kristus. Bila anak-anak Allah mempunyai persatuan yang melampaui lokal, apa pun alasannya, mereka bukan lagi bersifat lokal, dan bila mereka bukan bersifat lokal, mereka pun bukan lagi milik gereja, sebab dalam Alkitab hanya ada gereja lokal!

Saya tidak tahu harus bagaimana menjelaskan hal ini. Namun, satu perkara yang saya ketahui, yakni Allah ingin memelihara gerejaNya menjadi gereja lokal. Sebab itu, dalam pekerjaan kita, kita harus selalu memelihara sifat lokal gereja.

Kita harus belajar tidak mengelola gereja, tidak menggabungkan gereja-gereja menjadi suatu lembaga, agar anak-anak Allah tidak dirugikan.

FAEDAH MANDIRI

Allah mendirikan banyak gereja, dan membiarkan masing-masing gereja lokal langsung bertanggung jawab kepada Allah, yaitu membiarkan penilik/penatua mengawasi saudara-saudara setempat melakukan urusan gereja lokal mereka. Hal ini sangat berfaedah.

1) Gereja adalah mandiri, bukan bergabung, karena itu tidak ada kemungkinan bagi rasul palsu yang berambisi untuk memupuk kekuasaannya. Juga membuat segolongan saudara yang bertalenta namun berambisi tidak berdaya menggabungkan beberapa lokal menjadi sebuah lembaga besar untuk membina kekuasaannya sendiri. Bila dalam sebuah gereja lokal segala sesuatunya ditangani oleh penatua lokal, niscaya gereja itu tidak akan jatuh ke tangan pekerja-pekerja semacam itu.

Setelah rasul pergi, kewajiban untuk mengurus gereja berada di tangan penatua. Hal ini akan tidak memberikan kemungkinan kepada para rasul palsu mengurus sebuah gereja lokal secara langsung.

Terbentuknya kekuasaan Roma adalah karena gereja meninggalkan sifat lokalnya. Andaikata tidak ada persatuan/penggabungan dan andaikata semua wewenang gereja dipegang oleh penatua setempat, maka kejahatan/dosa yang timbul, akan berkurang entah berapa banyaknya. Kalau hanya ada gereja lokal, tentu tidak mungkin ada gereja Roma.

Gereja Roma ada karena gereja lokal lenyap. Dalam sejarah masa lalu, manusia dapat memperalat gereja untuk melakukan banyak dosa, bersaing dengan kekuasaan politik, bahkan mengendalikan kekuasaan politik, semuanya itu disebabkan gereja sudah bukan lagi gereja lokal, tetapi "gabungan". Gereja gabungan memang sangat kuat, tetapi itu bukan kekuatan rohani, melainkan kekuatan duniawi.

Tujuan Allah yang semula ialah menghendaki gerejaNya yang di bumi seperti biji sesawi, penuh dengan hayat, kecil tanpa keanehan. Hari ini, gereja bisa menjadi Tiatira adalah akibat penggabungan. Karena itu, oknum-oknum yang ambisius, yang tidak memperoleh kekuasaan di tempat lain, beralih ke gereja untuk memperalat kekuasaan agama ini.

Ini jelas bukan kehendak Allah. Kegagalan besar Protestan ialah tidak kembali ke gereja lokal; mereka dengan gereja yang diorganisir menggantikan gereja Roma. Namun ingatlah, gereja Allah di bumi adalah gereja-gereja Allah.

2) Bukan itu saja, kemandirian gereja juga dapat mencegah menjalarnya berbagai kekeliruan dan bidah. Bila di satu tempat terjadi kekeliruan, maka kekeliruan itu tak akan menular ke tempat-tempat lain. Jika lokal sebagai ruang lingkup gereja, sekalipun di salah satu lokal timbul ajaran-ajaran sesat, maka tempat itu saja yang rugi.

Tidak seperti denominasi dewasa ini, satu tempat keliru, banyak tempat ikut keliru.

Roma adalah satu contoh yang nyata. Karena struktur mereka menyatu, maka kekeliruan mereka pun menyatu secara merata. Lain halnya jika gereja dibatasi oleh lokal, yakni mengurus lokalnya masing-masing; jika terjadi bidah, mudah dikarantinakan.

Tetapi, bila pada sebuah gereja yang terorganisir timbul bidah, tidak mudahlah cabang-cabang mereka tidak terpengaruh. Belakangan ini banyak "gereja-gereja" di Amerika menghadapi masalah, dan semuanya dikarenakan "gereja" mereka bukan gereja lokal, melainkan salah satu cabang dari gereja yang terorganisir itu.

3) Faedah terbesar dari adanya gereja lokal ialah mencegah kemungkinan terjadinya sekte atau denominasi. Mungkin Anda mempunyai pandangan Anda yang khusus, atau ajaran Anda yang istimewa, jika Anda ingin mendirikan sebuah lembaga lain untuk menyebarkan pendapat atau ajaran Anda, itu tidak akan dapat Anda lakukan. Segala-galanya untuk gereja lokal, karena itu Anda tidak dapat mengeluarkan sekelompok orang dari gereja lokal, dan mendirikan sebuah lembaga lain.

Dengan demikian secara otomatis sekte atau denominasi tidak mungkin terjadi. Begitu gereja kehilangan sifat lokalnya, gereja menjurus ke jalan sekte. Tetapi bila gereja mempertahankan sifat lokalnya, kemungkinan untuk menjadi sekte itu tidak ada.

Sekte terjadi karena melampaui batasan lokal. Jika ada orang bekerja di lokal A, lalu jiwa-jiwa yang diselamatkan, semuanya diserahkan ke gereja lokal A, dan ketika ia pergi, ia tidak membawa sekelompok orang itu, niscaya tidak mungkin terbentuk sekte. Gereja itu milik lokal, bukan milik siapa pun.

Kalau ingin mendirikan sekte, harus terlebih dulu mendobrak batasan lokal. Dengan sendirinya, saya akui, secara organisasi, kemungkinan terbentuknya sekte tidaklah ada; tetapi, daging yang secara rohani tidak menerima penanggulangan itu adalah masalah lain lagi. Ya, Roh Allah, kiranya anak-anak Allah menaatiMu!