Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 4 • Modul 16

Faedah Kepengurusan Penatua

Pembacaan Alkitab
"Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu, dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang telah mereka percayai." — Kisah Para Rasul 14:23

FAEDAH KEPENGURUSAN GEREJA OLEH PARA PENATUA

Begitu gereja lokal didirikan, maka semua wewenang dan tugas pekerjaan gereja lokal harus segera diserahkan kepada gereja lokal itu sendiri, dan rasul tidak mempunyai wewenang. Kalaupun rasul kembali dan bekerja lagi di situ, hasilnya tetap diserahkan kepada gereja lokal. Dengan kata lain, tidak ada seorang rasul boleh menguasai seorang saudara.

Tangan rasul selalu kosong. Secara pribadi, rasul adalah hamba Allah, bukan majikan manusia, maka tangan rasul harus selalu kosong.

Mengapa Allah menerapkan pola demikian? Sebab merekrut seorang pelayan dari luar untuk mengurus satu gereja lokal itu adalah tindakan yang idealistis, sedang pengurusan satu gereja lokal oleh beberapa penatua di tempat itu sangat realistis. Target pengurusan gereja lokal oleh seorang pelayan (minister) tentu lebih tinggi, sedang target pengurusan gereja lokal oleh penatua setempat, itu lebih realistis.

Pola kerja pelayan itu spesialis/khusus, tetapi peran penatua di dalam gereja lokal lebih efektif.

Namun, bukan berarti setelah itu rasul sama sekali tidak mau tahu tentang urusan gereja lokal, rasul tetap membantu para penatua gereja lokal, supaya mereka mengetahui bagaimana caranya mengurus gereja lokal mereka, seperti yang dilakukan Paulus terhadap gereja di Efesus. Paulus mengutus orang dari Miletus ke Efesus untuk mengundang para penatua dan membantu mereka bagaimana mengurus gereja di Efesus, agar gereja maju dan bertumbuh. Jadi rasul mengasuh saudara-saudara dengan perantaraan tangan para penatua, sedang yang langsung mengurus gereja adalah para penatua itu.

Andaikata rasul mengetahui kesalahan gereja lokal tertentu, ia tetap boleh menulis surat untuk menasihati mereka. Hanya saja, terhadap mereka rasul hanya ada wewenang rohani, tanpa wewenang resmi; wewenang resmi ada di tangan para penatua. Kita perlu membedakan kedua wewenang ini.

Jika para penatua itu rohani, rendah hati dan lemah lembut, mereka pasti sudi menerima nasihat rasul. Tetapi jika mereka bersikeras, ingin benar sendiri dan sombong, tentu nasihat rasul tidak diacuhkan. Kalaupun demikian, mereka hanya bersalah secara rohani, secara resmi mereka tidak bersalah.

Sebab merekalah yang mengurus gereja secara resmi. Namun, apakah faedahnya jika suatu gereja tidak rohani?

Bila di suatu tempat ada orang diselamatkan, dan di sana sudah ada saudara-saudara, sudah ada satu kelompok (gereja), maka mereka harus puas dengan gereja lokal di tempat mereka berada. Gereja justru adalah sekelompok saudara-saudara itu. Di dalam lembaga ini tentu ada beberapa saudara yang relatif lebih rohani, mereka itulah para penatua.

Para penatua hanyalah beberapa saudara yang lebih baik di antara yang lain. Di sini Roh Allah menghendaki kita nampak, bahwa pengasuhan dan pembinaan di dalam gereja adalah bersifat timbal balik, bersifat saling.