Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 4 • Modul 15

Fungsi dan Pluralitas Penatua

Pembacaan Alkitab
"Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu, dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang telah mereka percayai." — Kisah Para Rasul 14:23

KEWAJIBAN PENATUA

Alkitab menunjukkan kepada kita, setelah seseorang beroleh selamat, ia mempunyai pekerjaannya sendiri; bukan seorang rasul bekerja untuk (menggantikan) semua orang, bukan pula seorang penatua bekerja mewakili semua orang. Penatua adalah penilik (Kis. 20:28; Tit.

1:5,7). Penatua menilik atau mengawasi saudara-saudara bekerja. Seorang pengawas bukan menggantikan orang lain bekerja, melainkan mengawasi pekerja-pekerja yang bekerja.

Dalam Alkitab, saudara-saudaralah yang bekerja, penatua hanya mengawasi. Dalam Alkitab tidak ada saudara yang menganggur, setiap saudara harus bekerja. Sewaktu para saudara bekerja, penatua tampil menilik atau mengawasi mereka bekerja.

Kita harus ingat, penatua bukan memborong atau mewakili melakukan urusan gereja, melainkan mengawasi gereja melakukan urusan. Penatua adalah pemrakarsa, hanya sebagai penilik. Pekerjaan mutlak dilakukan oleh setiap saudara, penatua hanya bertugas sebagai komandan.

Mungkin ada saudara yang nyalinya agak kecil, sehingga tidak berani bekerja dan tidak berani keluar, maka penatua datang memberinya dorongan. Atau di suatu tempat ada kebutuhan yang tidak diketahui saudara-saudara, maka penatua datang mengingatkan. Atau mungkin ada beberapa saudara bertindak terlampau cepat, maka penatua datang mengeremnya.

Penatua bukan menggantikan mereka bekerja atau memonopoli, melainkan mengawasi mereka bekerja dari samping. Penatua dalam Alkitab adalah penilik, bukan perwakilan atau pemborong.

Dalam Alkitab kita nampak, bahwa tugas kewajiban penatua mempunyai dua aspek khusus: pertama yang bersifat urusan; kedua yang bersifat rohani. Bila disimpulkan: mengurus, menggembalakan dan mengajar. Jadi, tugas utama penatua adalah "mengurus gereja Allah" (I Tim.

3:5) Penatualah yang harus bertanggung jawab atas semua rencana dan pelaksanaan administrasi, urusan, personalia dan lain-lain dalam suatu gereja lokal. Tetapi, gereja menurut Alkitab, bukanlah sekelompok orang yang secara pasif dikomando seseorang (atau beberapa orang), atau membiarkan orang ini mewakili sekelompok orang melakukan segala hal, sedang sekelompok orang itu hanya menjadi orang-orang yang menikmati semata; itu bukanlah gereja. Segala yang ada di dalam gereja selalu bersifat "saling", atau "timbal-balik", atau "seorang dengan yang lain".

Karena sifat gereja adalah "masing-masing adalah anggota seorang terhadap yang lain" (Rm. 12:5), dan tanpa siapa sebagai kepala (hanya Kristus sebagai Kepala), maka pengurusan penatua dalam Alkitab bukan "memerintah" melainkan "menjadi teladan" (I Ptr. 5:3).

Yang dimaksud dengan memerintah ialah: hanya Anda sendiri bekerja, orang lain tidak bekerja, atau orang hanya bekerja secara pasif, sedang Anda sendiri hanya mengeluarkan perintah saja tanpa bekerja. Yang dimaksud dengan teladan ialah: Anda sendiri bekerja sebagai contoh dan mengajak orang lain bekerja bersama. Orang lain bekerja, Anda sendiri juga bekerja, bahkan Anda bekerja lebih banyak dan lebih baik, menjadi teladan bagi orang lain.

Itulah gereja. Itulah prinsip dan cara pengurusan gereja yang Alkitabiah. Maka praktik seorang atau beberapa orang pendeta melakukan segala urusan gereja dan membiarkan saudara-saudara menjadi pasif, seperti di kalangan kekristenan hari ini, tidak sesuai dengan prinsip "menjadi teladan".

Yang selalu memerintah orang lain bekerja namun ia sendiri tidak menggerakkan satu jari pun, tidak dapat "menjadi teladan". Jadi yang dimaksud "menjadi teladan" adalah Anda sendiri harus bekerja, dan juga memimpin orang lain bekerja. Semuanya bekerja, Anda sendiri juga bekerja, itulah yang berarti "menjadi teladan".

Tetapi, kewajiban penatua bukan hanya mengurus atau mengatur gereja. Jika ia berkarunia, ia juga harus mengemban kewajiban pada aspek rohani. "Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar" (I Tim.

5:17). Kewajiban para penatua pada umumnya adalah mengurus atau mengatur gereja. Tetapi ada beberapa penatua yang berkarunia lain, mereka juga nabi dan pengajar, maka mereka juga bisa berkhotbah dan mengajar orang.

Sebab itu, Paulus berkata kepada Titus, bahwa penatua wajib "berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya" (Tit. 1:9). Jadi, pengajaran atau pengkhotbahan dalam gereja lokal bukan tugas rasul, melainkan tugas saudara yang berministri di tempat itu, khususnya para penatua yang berministri.

Dengan kata lain, pengkhotbahan dan pengajaran adalah urusan lokal, sama dengan pengurusan. Fungsi rasul sama sekali bukan untuk satu lokal. Terhadap ministri (pelayanan) setempat, terutama para penatua yang berministri, seyogyanya lebih banyak bertanggung jawab.

Penggembalaan juga khusus sebagai tugas para penatua. Tidak hanya Paulus yang berpesan kepada para penatua di Efesus, bahwa mereka harus "menjaga seluruh kawanan . .

. menggembalakan gereja Allah . .

." (Kis. 20:28), Petrus pun berpesan kepada para penatua kaum imani Yahudi yang tersebar di berbagai tempat, "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu" (I Ptr. 5:2).

Allah tidak mengabaikan pekerjaan penggembalaan, tetapi orang-orang (gembala-gembala) yang ditetapkan Allah itu jauh berbeda dengan para gembala dalam konsepsi kita. Cara Allah adalah memilih orang yang relatif maju dari antara orang-orang setempat untuk tugas penggembalaan, bukan menghendaki para pemberita Injil, yang juga mendirikan gereja, yang datang dari luar, menetap di situ untuk pekerjaan penggembalaan. Dengan kata lain, gembala adalah milik lokal itu sendiri, yakni dari antara saudara setempat, bukan kiriman atau pindahan/pengaturan dari tempat lain, dan kemudian menetap.

Salah satu penyebab kegagalan pekerjaan hari ini ialah kekurang-jelasan kita dalam membedakan tugas kewajiban rasul dan penatua.

PARA PENATUA

Namun, petugas yang menangani penggembalaan demikian itu bukan hanya seorang dalam satu lokal, seperti "pendeta" hari ini. Sistem kepengurusan gereja yang monopolistik itu tidak Alkitabiah. Dalam Alkitab tidak ada contoh satu orang memonopoli segala urusan, atau satu orang menangani semua kewajiban rohani dalam sebuah gereja lokal, sebagaimana yang dipraktikkan "gereja" hari ini.

Eksistensi penggembala (pendeta) memang Alkitabiah, tetapi sistem kependetaan - kepengurusan yang dimonopoli oleh satu orang - itu adalah penemuan kedagingan manusia.

Dalam Alkitab, penatua atau penilik satu gereja lokal selamanya tidak pernah berbilangan tunggal, melainkan jamak. Allah tidak suka memakai seorang saudara untuk berdiri pada satu posisi istimewa, dan menyuruh saudara-saudara lain tunduk kepadanya. Allah senang memakai beberapa saudara untuk mengelola satu gereja.

Kepengurusan yang monopolistik oleh satu orang sangat mudah membuat orang tinggi diri, menganggap dirinya sangat penting dan menekan saudara-saudara lain (III Yoh. 9-10). Cara Allah justru hendak melindungi gereja lokal agar tidak dikendali oleh satu orang kuat, membuat suatu gereja menjadi milik pribadi, dan membuat gereja mengenakan warna orang tersebut.

Maka perlu ada beberapa penatua yang bertanggung jawab atas satu gereja lokal, agar tidak ada orang tertentu bertindak sekehendak dirinya sendiri, dan membuat gereja Allah sebagai pusakanya sendiri. Dengan kepengurusan yang "non-monopolistik" baru semuanya bisa belajar memperhatikan pendapat saudara lain, dan supaya semuanya ingat, bahwa kawanan domba itu adalah kawanan domba Allah, bukan kawanan domba seseorang. Semuanya adalah anggota Tubuh, tak seorang pun dapat menjadi kepala orang lain.

Gereja bersifat saling (timbal balik); yang tidak timbal balik itu bukanlah gereja.