Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 4 • Modul 14

Pelantikan dan Tanggung Jawab Penatua

Pembacaan Alkitab
"Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu, dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang telah mereka percayai." — Kisah Para Rasul 14:23

PENATUA YANG DILANTIK RASUL

Sebutan penatua berasal dari Perjanjian Lama. Pada jaman Perjanjian Lama, orang Israel mempunyai penatua, dan ada penatua di tiap kota. Dalam keempat kitab Injil Perjanjian Baru juga sering disebut adanya penatua, tetapi itu juga penatua orang Israel.

Bagian depan kitab Kisah Para Rasul juga membahas penatua, (4:5,8; 6:12) tetapi itu tetap para penatua bangsa Israel.

Mulai kapankah ada penatua dalam gereja? Alkitab mencatat, bahwa di Yerusalem ada penatua, tetapi tidak dicatat bagaimana pelantikan mereka. Alkitab juga tidak membicarakan bagaimana gereja di Yerusalem diatur, sebab Allah tidak bermaksud menjadikan gereja di Yerusalem sebagai contoh atau teladan gereja lokal.

Karena murid-murid itu baru disebut orang "Kristen" ketika gereja di Antiokhia berdiri; Kekristenan resmi dimulai dari Antiokhia. Walau ada penatua di Yerusalem, tetapi Alkitab tidak mencatat bagaimana para penatua tersebut dilantik; hanya eksistensi mereka saja yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul. Dalam pasal 11:30 tercatat, bahwa Barnabas dan Paulus mengantarkan uang bantuan gereja kepada para penatua di sana.

Ini merupakan catatan kali pertama tentang penatua gereja dalam Perjanjian Baru. Tetapi di sini kita tidak diberitahu siapakah penatua-penatua itu, dan siapa pula yang melantik mereka? Kemudian, dalam lima belas pasal terakhir, meski berkali-kali disinggung tentang para penatua di Yerusalem, tetapi tidak pula diperlihatkan kepada kita siapa mereka itu?

Bagaimana mereka dilantik? Hanya dalam Kisah Para Rasul 14:23, ketika mengisahkan untuk kali pertama rasul keluar memberitakan Injil, dikatakan, "Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu, dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan." Ini merupakan ayat pertama yang mencatat pelantikan penatua. Kedua rasul itu memberitakan Injil, ada orang yang diselamatkan, maka gereja berdiri, dan kemudian para penatua dilantik.

Dari sini kita nampak, teladan pelantikan para penatua baru berawal ketika para rasul pergi bekerja dari Antiokhia.

PELANTIKAN PENATUA

Setelah para rasul memberitakan Injil di suatu tempat dan ada orang beroleh selamat, maka berdirilah gereja di tempat itu. Setelah ada gereja, perlu ada orang-orang yang menjadi penilik mereka; sebab mereka perlu pengurusan, pembinaan dan penggembalaan. Kendatipun kaum imani dalam Alkitab tidak seperti "anggota gereja" hari ini, yang hampir semuanya pasif, dan meskipun mereka sendiri bisa mengemban kewajiban gereja, tetapi mereka memerlukan orang-orang yang menaruh perhatian atas kerohanian mereka di dalam Tuhan.

Mereka memang dapat bekerja dengan spontan, tetapi mereka juga memerlukan orang yang memimpin mereka. Siapakah yang bertanggung jawab mengurus dan membina gereja? Para penatua yang dilantik rasul!

Menurut Alkitab, pengurusan dan pembinaan gereja adalah kewajiban para penatua. Urusan gereja ada di tangan para penatua, bukan di tangan para rasul. Allah tidak pernah memanggil seorang rasul untuk bertanggung jawab mengurus gereja lokal, ataupun membina sebuah gereja lokal.

Walau Paulus di Korintus bermukim selama lebih dari setahun, bermukim di Roma dua tahun, dan di Efesus tiga tahun, tetapi ia hanya bertanggung jawab atas pekerjaan ministrinya sendiri, bukan pekerjaan gereja lokal. Yang bertanggung jawab atas tugas gereja lokal adalah para penatua, bukan para rasul. Dalam Alkitab ada penatua di Efesus, tidak ada rasul di Efesus.

Alkitab tidak mencantumkan adanya rasul di Filipi, hanya ada penilik di Filipi. Rasul hanya mengemban kewajiban pekerjaan utusan, tidak mengemban kewajiban pekerjaan gereja lokal. Jiwa-jiwa sebagai hasil pekerjaan rasul semua diserahkan kepada para penatua.

Karena itu, kehendak Allah bukan tanpa "gembala", bukan tanpa orang yang memperhatikan dan membina gereja setempat, melainkan harus ada kerja sama antara rasul dengan para penatua. Tugas rasul adalah khusus berkeliling ke setiap lokal, sedang penatua hanya bertugas di satu lokal. Ciri-ciri rasul adalah pergi, sedang ciri-ciri penatua adalah tinggal.

Rasul selamanya tidak tinggal di satu gereja lokal sebagai gembala, itu adalah tugas penatua. Pekerjaan yang dikerjakan oleh apa yang disebut "pendeta" dalam sistem "kependetaan" hari ini sebenarnya adalah pekerjaan yang seharusnya dikerjakan para penatua. Pekerjaan rasul utusan Tuhan tidak seharusnya berhenti di satu lokal.

Para penatua tidak tentu mengemban pekerjaan (pelayanan) sebagai pekerjaan (dalam arti profesi, mata pencarian) mereka. Sebaliknya, mereka justru adalah saudara-saudara yang berpekerjaan di lokal itu, hanya saja mereka sekaligus sebagai pewajib gereja lokal. Walau adakalanya, karena banyaknya urusan gereja lokal, mereka boleh melayani dengan sepenuh waktu, namun ciri-ciri mereka ialah mengemban tugas gereja lokal berdasarkan kualifikasi mereka sebagai saudara di lokal itu.

Firman Allah memperlihatkan kepada kita bahwa Allah tidak pernah melantik rasul untuk mengurus satu gereja lokal. Rasul adalah untuk pekerjaan tiap-tiap lokal. Gereja dalam Alkitab semua berbatas lokalitas dan terbagi atas lokalitas.

Demi menjaga kemandirian administrasinya dan kemanunggalan kerohaniannya, maka kecuali perbedaan lokal, Allah tidak mengijinkan adanya perbedaan lain. Maka, semua penatua yang menilik gereja dijabat oleh saudara-saudara yang senior, bukan oleh orang-orang yang dikirim dari tempat lain. Dengan demikian barulah sifat lokalitas gereja bisa terpelihara.

Jika tidak, akan ada beberapa gereja yang khusus dikelola oleh seorang pekerja, dan segera akan muncul sekta atau denominasi.

Bagaimanakah terlahirnya para penatua? Setelah rasul menyelamatkan orang di tiap lokal dan mendirikan gereja lokal, di gereja-gereja itu dengan sendirinya ada sebagian orang yang rohaninya lebih maju. Mereka itulah yang dilantik rasul sebagai penatua.

Dulu kita mengira, terlahirnya penatua di sebuah gereja harus memakan waktu tujuh atau delapan tahun, karena jika tidak ada orang-orang yang lebih "tua" (dalam hal rohani), bagaimana mungkin ada penatua? Namun, kita harus ingat Kisah Para Rasul 14 yang mencatat pelantikan para penatua. Sudah tentu itu bukan terjadi ketika pemberitaan Injil yang pertama, melainkan ketika rasul kembali untuk kedua kalinya.

Sewaktu pergi adalah memberitakan Injil, dan sewaktu kembali barulah melantik para penatua. Sangatlah cepat, boleh jadi di suatu tempat hanya beberapa bulan, dan boleh jadi ada yang hanya beberapa minggu. Pelantikan para penatua tidak harus menunggu berapa lama.

(Kepergian rasul yang pertama hingga kembali tidak lebih dari dua tahun).

Lagi pula, pelantikan itu dilakukan "di setiap gereja". Dengan kata lain, sewaktu rasul kembali, tidak hanya melantik para penatua di dua atau tiga gereja, melainkan di setiap gereja. Bukan karena ada satu gereja tidak begitu maju, maka di situ tidak diadakan pelantikan penatua, dan di suatu gereja lain nampaknya lebih maju, maka di situ ada pelantikan penatua.

Pelantikan itu dilakukan rasul di setiap gereja. Mungkin ada yang bertanya: Jika ada sebuah gereja tidak begitu beres, saudarinya sedikit, saudaranya pun sangat dangkal, bagaimana mungkin di situ penatua terlantik? Ada satu perkara yang perlu Anda perhatikan dengan khusus: Dalam Alkitab masalah kepenatuaan selalu terbatas pada satu lokal.

Orang yang layak menjadi penatua di lokal A, belum tentu layak menjadi penatua di lokal B. Misalkan di suatu tempat ada lima sampai delapan orang saudara. Meskipun mereka sangat hijau, tetapi di antara mereka pasti ada orang yang relatif tidak hijau.

Penatua tidak mempunyai kualifikasi mutlak. Barangsiapa lebih maju daripada orang lain di tempat itu, mereka adalah penatua. Sudah tentu jika mereka dipindah ke tempat lain, mereka bukan penatua.

Tetapi di tempat itu mereka adalah penatua. Demikian pula sebuah keluarga. Ada keluarga yang berjumlah tujuh puluh sampai delapan puluh jiwa, di dalamnya ada paman kecil dan paman besar.

Dalam keluarga besar ini, Anda tidak bisa dengan semaunya sendiri menjadi kakak terbesar. Tetapi ada pula keluarga yang hanya beranggotakan lima jiwa. Walau Anda masih berusia dua puluhan, Anda sudah menjadi kakak terbesar.

Anda bukan menjadi kakak terbesar di rumah orang lain, melainkan di rumah Anda yang kecil itu. Begitu pula dalam gereja. Mungkin kerohanian semua orang di suatu gereja lokal lumayan bertumbuh, di situ tentu ada beberapa orang yang lebih maju daripada yang lain.

Mereka itu bisa menjadi penatua, Anda tidak bisa menjadi penatua. Jika Anda pergi dan menetap di suatu tempat yang saudara-saudaranya sangat hijau, di situ Anda bisa menjadi penatua. Ini disebabkan ada masalah lokalitas.

Lain halnya dengan para rasul. Mereka melayani tiap gereja lokal berdasarkan berbagai karunia yang diperoleh dari Tuhan, karena itu mereka tidak terbatas oleh lokalitas. Ke mana pun mereka pergi, di luar jabatannya, mereka dapat menerapkan semua karunianya.

Ingatlah, bahwa penatua hanya bisa mengemban kewajiban di satu tempat.

Jadi, teladan Alkitab tentang pelantikan para penatua ialah ketika rasul kembali menjenguk saudara-saudara setelah lewat beberapa saat, dan mereka dipilih dari antara saudara-saudara yang telah diselamatkan itu. Pada waktu rasul tidak ada di situ, dengan sendirinya ada orang yang lebih maju, lebih rela bertanggung jawab, lebih stabil dan serius, mereka itulah yang dilantik menjadi penatua. Bukan harus menunggu gereja bertumbuh sampai ke tingkat yang bagaimana, baru kemudian melantik para penatua.

Walaupun kadang-kadang tidak dapat dilantik segera oleh rasul, tugas pelantikan tersebut tetap harus diserahkan kepada orang lain, misalnya Titus. Tugas tersebut paling penting, karenanya hal ini disinggung paling depan dalam surat Titus. Di situ dipesankan, bahwa di Kreta, "Engkau (Titus) menetapkan penatua-penatua di tiap kota" (Titus 1:5).

Para rasul meninggalkan teladan bagi kita, yakni begitu mereka kembali, pelantikan itu segera dilaksanakan. Dari antara orang-orang yang beroleh selamat itu dipilih beberapa yang agak bertumbuh, stabil, rohani dan bertanggung jawab, untuk menjadi penatua. Tatkala rasul pergi, orang-orang tersebut bangkit mengemban kewajiban gereja setempat, dan mereka adalah penatua.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu rasul bukan melantik orang-orang yang mereka sukai, melainkan melantik yang telah dilantik Allah. Karena itu, ia dapat berkata kepada para penatua gereja di Efesus, "Karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah" (Kis. 20:28).

Jadi rasul melantik mereka yang telah ditetapkan Roh Kudus. Kita harus ingat, jabatan-jabatan dalam gereja diperoleh seseorang bukan karena ia dilantik oleh manusia. Semua bersifat rohani.

Roh Kudus terlebih dulu melantik seseorang, kemudian, setelah rasul mengetahui kehendak Roh Kudus, rasul melantiknya lagi. Jika Roh Kudus tidak melantiknya, bagaimanapun rasul melantiknya, ia tak mungkin menjadi penatua. Segala sesuatu dalam gereja dituani oleh Roh Kudus, manusia tak dapat berbuat apa-apa.

Semua yang berasal dari Roh Kudus baru dapat bertahan di dalam gereja. Jika tidak, semua akan tak bernilai sama sekali. Karena itu, seseorang menjadi penatua bukan karena ia sendiri mengira dirinya layak atau karena rasul mau melantik, melainkan dilantik oleh Roh Kudus berdasarkan kemajuan kerohaniannya dan pemberian karunia oleh Roh Kudus yang relatif memadai.

Sebelum ia dilantik, ia sudah dengan rendah hati mengasuh saudara-saudara. Karena posisi kerohaniannya itulah, meskipun belum dilantik sebagai penatua oleh rasul, namun ia sudah sejak dini menyatakan dirinya sebagai penatua di dalam gereja. Rasul bukan tiba-tiba dari "barisan belakang" mengundang seseorang maju ke depan untuk menjadi penatua, melainkan Roh Kudus sudah menyatakan kedudukannya secara rohani.

Para penatua ini adalah oknum setempat. Mereka menjabat sebagai penatua untuk mengurus urusan gereja lokal. Mereka terbatas oleh lokalitas.

Orang yang menjadi penatua di Smirna, bukanlah penatua di Efesus; orang yang menjadi penatua di Efesus, bukanlah penatua di Smirna. Dalam Alkitab, tidak ada rasul lokal, demikian pula tidak ada penatua "superlokal" (melampaui lokal). Semua penatua adalah milik lokal; semua rasul adalah milik "superlokal".

Tidak ada rasul yang mengurus sebuah gereja lokal, tidak ada pula penatua yang mengurus beberapa lokal. Semua rasul mengurus pekerjaan di tiap-tiap lokal, dan tugas rasul ialah mendirikan gereja. Setelah suatu gereja didirikan, tugas untuk mengurus gereja itu diserahkan rasul kepada para penatua setempat; rasul segera lepas tangan, dan sama sekali tidak bertanggung jawab atas gereja lokal.

Kewajiban gereja lokal sepenuhnya di tangan para penatua. Bila rasul kembali ke tempat itu, jika para penatua senang, boleh menerimanya, bila tidak senang, boleh menolaknya. Andaikata rasul sampai ditolak oleh penatua gereja lokal, apa boleh buat, ia hanya bisa meninggalkan lokal tersebut dan pergi ke tempat lain.

Rasul tidak ada wewenang untuk memaksa para penatua, sebab wewenang gereja lokal ada di tangan mereka, bukan di tangan rasul.

Bagaimana cara Paulus menanggulangi kaum imani yang melakukan perzinahan di Korintus? Andaikata kita adalah Paulus hari ini, kita akan menulis surat kepada gereja di Korintus dan berkata, "Orang itu sudah kupecat, demikianlah hal ini kuberitahukan kepada kalian." Tetapi Paulus hanya bisa menasihati gereja di Korintus untuk mengucilkan orang tersebut. Jika mereka rohani, tentulah mereka menerima nasihat rasul.

Jika mereka menolak nasihat Paulus, Pauluspun tidak dapat berbuat apa-apa. Kalau mereka menolak nasihat Paulus, mereka memang keliru secara rohani, tetapi menurut prosedurnya mereka tidak salah. Sebab mereka adalah gereja lokal yang sangat otonom dan independen.

Bila mereka tidak menerima nasihat Paulus, paling-paling Paulus hanya bisa menerapkan wewenang rohani, yakni demi nama dan kuasa Tuhan Yesus menyerahkan orang itu kepada setan, untuk membinasakan tubuhnya. Maksud Paulus, "Aku tidak ada wewenang memecat atau mengucilkan orang tersebut. Aku hanya berdoa, mohon Tuhan saja yang menanggulanginya." Perkara gereja lokal memang sama sekali independen, tidak ada yang bisa campur tangan.

Dalam Alkitab, semua kewajiban lokal diserahkan kepada para penatua setempat.

Mungkin ada yang akan bertanya: Mengapa Petrus dan Yohanes juga menjadi penatua di Yerusalem? (I Ptr. 5:1; II Yoh.

1; III Yoh. 1). Itu karena mereka tidak saja mengemban kewajiban pekerjaan di tiap-tiap lokal, juga mengemban kewajiban pekerjaan di satu tempat.

Waktu mereka keluar, mereka mengemban kewajiban pekerjaan sebagai rasul, sedang waktu mereka pulang, mereka mengemban kewajiban gereja sebagai penatua. Persoalannya di sini, di gereja lokal tempat rasul menetap, jika si rasul jarang bepergian, ia boleh merangkap sebagai penatua setempat. Maka Yohanes adalah rasul bila ia bepergian, dan penatua bila ia pulang kembali ke lokalnya.

Tetapi, mereka menjadi penatua di Yerusalem bukanlah berdasarkan status kerasulan mereka, melainkan berdasarkan status saudara. Jadi kepenatuaan Petrus dan Yohanes di Yerusalem adalah karena mereka memang tinggal di tempat tersebut. Alkitab tidak memberi contoh sebuah gereja yang didirikan oleh rasul dari luar, lalu mengijinkan rasul tersebut di samping sebagai rasul, juga sebagai penatua gereja yang didirikannya sendiri.

Ia hanya bisa menjadi rasul, tidak bisa menjadi penatua. Namun, jika di tempat tinggalnya sendiri, di gereja lokalnya itu, ia adalah seorang saudara, ia boleh menjadi penatua. Tetapi, di gereja yang didirikannya, demi memelihara sifat lokal gereja itu, dan demi memelihara sifat ke-"superlokal”-an rasul, ia tidak diijinkan menjadi penatua.

Paulus berasal dari Tarsus, ia memberitakan Injil di Efesus dan mendirikan gereja. Walau Paulus tinggal di Efesus selama tiga tahun, ia hanya melakukan pekerjaan rasul, tanpa mengemban tugas sebagai penatua; karena Paulus bekerja di Efesus berdasarkan status kerasulan dan telah mendirikan gereja di Efesus, ia tidak dapat merangkap menjadi penatua di Efesus. Kalaupun Paulus tinggal lebih lama beberapa tahun lagi di Efesus, ia tetap hanya layak melakukan pekerjaan rasul, tak dapat mengemban tugas sebagai penatua.

Lain halnya dengan Petrus atau Yohanes, yang memang rasul, tetapi juga sebagai penatua di Yerusalem. Paulus sendiri senantiasa menjadi rasul, tak pernah menjadi salah satu penatua gereja lokal. Ada satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu di dalam gereja Allah yang universal, selamanya tak pernah ada penatua, sebaliknya, di dalam gereja lokal selamanya tak pernah ada rasul.