Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 3 • Modul 12

Perjalanan Penginjilan dan Pengulangan

Pembacaan Alkitab
"Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." — Kisah Para Rasul 13:2

PERJALANAN PENGINJILAN

Bagaimanakah tindak lanjut para rasul setelah mereka menerima panggilan Roh Kudus dan simpati dari rekan sekerja? Ingatlah, orang-orang yang mengutus mereka hanya meletakkan tangan dan menyatakan simpati belaka, mereka tidak berkuasa mengendalikan para rasul itu. Puasa, doa dan peletakan tangan mereka hanya menyatakan simpati saja, tetapi tidak bertanggung jawab apapun atas aktivitas, tunjangan dan keperluan para utusan tersebut.

Dalam Alkitab tidak pernah ada catatan tentang seorang rasul yang dikendalikan oleh manusia. Mereka dipanggil Roh Kudus, dan rekan sekerja hanya menyatakan simpati saja. Mereka tidak punya peraturan dan atasan.

Mereka hanya memiliki Roh Kudus sebagai komandan mereka, dan mereka maju ke depan hanya menurut pimpinan Roh Kudus.

Untuk kali pertama Roh Kudus mengutus dua rasul terlihat dalam Kisah Para Rasul 13 dan 14. Setelah membaca kedua pasal itu, kita nampak bagaimana seharusnya jejak perjalanan para rasul. Kedua pasal itu merupakan catatan penginjilan rasul yang pertama kalinya, juga pengalaman penginjilan mereka yang pertama kalinya, supaya kita sebagai rasul hari ini tahu harus bagaimana berbuat.

Meskipun kita hari ini tidak mungkin menuju Seleukia, Derbe atau Listra, namun pengalaman perjalanan mereka boleh menjadi teladan kita. Walau dari segi luaran pimpinan Roh Kudus pada kita mungkin tidak sama dengan mereka, tetapi pada prinsipnya, jejak perjalanan mereka adalah teladan kita.

"Oleh karena disuruh (diutus) Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setiba di Salamis, mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi . .

. Mereka mengelilingi seluruh pulau itu sampai ke Pafos . .." (13:4-6).

Dari beberapa ayat ini kita nampak, bahwa jejak rasul adalah bergerak terus. Anda tidak akan melihat mereka tinggal menetap di suatu tempat. Dengan kata lain, seorang rasul adalah seorang yang bergerak, bukan seorang yang bercokol/terpaku di satu tempat.

"Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; . . .

Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia . . .

(Antiokhia lain)" (ayat 13-14). Setelah rasul meninggalkan Antiokhia dan sebelum tiba di Antiokhia Pisidia, mereka sudah memberitakan Injil di tempat-tempat yang disinggahi, tetapi mungkin hasilnya tidak seberapa. Setelah rasul tiba di Antiokhia Pisidia berbedalah keadaannya.

Silakan baca ayat-ayat di bawah ini:

"Setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi dan penganut-penganut agama Yahudi yang takut akan Allah, mengikuti Paulus dan Barnabas . . ." (ayat 43).

Itulah hasil penginjilan mereka di Antiokhia Pisidia. Mereka menarik banyak orang berpaling ke dalam nama Tuhan. Berselang seminggu, rasul berkhotbah lagi kepada mereka dan nyaris orang seisi kota datang berhimpun untuk mendengar firman Allah.

Hasilnya, ada beberapa orang Yahudi iri hati, lalu membantah perkataan Paulus, bahkan memfitnahnya. Paulus dan Barnabas kemudian beralih ke kalangan orang kafir dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya (ayat 43-48). Pada hari Sabat pertama ada orang-orang Yahudi diselamatkan, dan pada hari Sabat ini ada orang-orang kafir diselamatkan, jadi, banyak orang yang beroleh selamat.

Karenanya muncullah gereja di Antiokhia Pisidia.

Tetapi, pekerjaan rasul tidak berhenti di Antiokhia Pisidia. Rasul tidak berkata, "Aku sudah bekerja di sini, dan gereja sudah mulai berdiri, maka kita harus menetap di sini untuk membina atau menggembala mereka." Setelah mendirikan gereja lokal, rasul tidak menetap terus di situ untuk melakukan pembinaan, melainkan "firman Tuhan disiarkan di seluruh daerah itu" (13:49). Rasul tidak mementingkan satu lokal saja, melainkan seluruh daerah itu.

Alkitab tidak memberi teladan seorang utusan menetap terus di suatu lokal untuk menjaga kawanan domba, seperti yang kita lihat hari ini, melainkan memperhatikan "seluruh daerah itu".

Mereka memberitakan Injil dan mendapatkan beberapa orang, tetapi orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah dan pembesar-pembesar di kota itu, lalu menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas serta mengusir mereka dari daerah itu. Bagaimana reaksi rasul? "Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka .

. . lalu pergi ke Ikonium" (ayat 51).

Mereka bukan orang-orang yang bercokol di rumah, bukan orang-orang yang tinggal di "gereja" menjadi penjaga domba, melainkan orang-orang yang "menjelajahi jalan". Satu ciri seorang penginjil ialah kaki mereka berdebu. Bila Anda tanpa debu, Anda sudah kehilangan ciri seorang penginjil, kehilangan ciri seorang rasul.

Apakah rasul? Rasul adalah utusan. Tidakkah sangat bertentangan jika seorang utusan tidak sering bepergian?

Semua utusan harus pergi, harus berdebu, itulah yang diperlihatkan Alkitab kepada kita. Kita tidak boleh menetap seenaknya, tidak boleh menjadi penjaga pintu, melainkan harus pergi keluar. Kaki Anda harus berdebu, baru Anda bisa mengibasnya.

Maka ciri-ciri orang-orang yang diutus Tuhan ialah: tidak menetap di satu lokal sebagai penggembala, melainkan sebagai perintis "semi" Injil. Hal ini harus kita perhatikan secara khusus.

Bagaimana keadaan gereja lokal sepeninggal rasul? "Murid-murid di Antiokhia penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus" (ayat 52). Ini benar-benar ajaib!

Menurut pikiran kita, orang-orang itu baru saja menerima Injil dan beroleh selamat, bagaimana dengan mereka jika ditinggal para rasul? Mereka tidak berkata kepada para rasul, "Mengapa kalian begitu takut teraniaya dan ingin buru-buru pergi? Mengapa tidak tinggal beberapa hari lagi untuk membina kami?

Jika kalian pergi, kami akan menjadi domba yang tanpa gembala. Sedikitnya seorang di antara kalian harus tinggal sesaat di sini." Atau berkata, "Bukankah kami seperti bayi-bayi yang baru lahir? Bagaimana kami bisa menghadapi aniaya yang sedahsyat itu kalau kalian meninggalkan kami?" Tidak, mereka tidak berkata demikian.

Di sini kita harus memperhatikan satu perkara: Roh Kudus di sini telah memancangkan suatu teladan, yakni rasul tidak bercokol terus untuk pekerjaan peneguhan. Mereka bukan meninggalkan orang-orang yang beroleh selamat itu setelah mereka agak bertumbuh. Malahan setelah mereka pergi, murid-murid itu penuh dengan sukacita.

Murid-murid tersebut memang berniat menjadi orang Kristen yang sesuai dengan Alkitab. Secara pribadi saya yakin, bahwa di dalam gereja semula tidak ada orang Kristen seperti hari ini. Dalam gereja semula, masing-masing orang menganggap gereja adalah kewajiban mereka sendiri, dan urusan dalam gereja adalah urusan mereka sendiri.

Lain dengan hari ini, orang menjadi Kristen hanya ikut "kebaktian Minggu" dan mendengarkan khotbah belaka. Sebenarnya, dalam Perjanjian Baru tidak ada orang Kristen model ini. Orang Kristen model ini sebenarnya adalah ciptaan agama Katholik yang muncul di kemudian.

Dalam Alkitab, bila seseorang menjadi milik Tuhan, maka dia sendirilah menjadi orang Kristen, dan dia sendiri pula yang menjalin hubungan yang wajar dengan gereja.

Walau para rasul pergi, murid-murid penuh dengan sukacita. Penuh dengan sukacita, karena mereka sudah beroleh selamat. Penuh dengan sukacita, karena mereka sekarang melayani Allah.

Penuh dengan sukacita, karena mereka telah menerima terang dari Allah. Penuh dengan sukacita, karena sejak kini orang-orang Ikonium berkesempatan mendengar Injil. Mereka tidak seperti orang Kristen hari ini, yakni selalu menaruh harapan pada seorang gembala/pendeta yang terus-menerus memelihara mereka.

Sejarah, latar belakang dan kebiasaan gereja hari ini ialah selalu menaruh harapan kepada seorang pendeta tetap. Namun, dalam gereja yang semula sama sekali tidak ada konsepsi yang demikian, bahkan sama sekali tidak dikenal konsepsi ini.

Mereka tidak hanya penuh dengan sukacita, mereka juga "penuh dengan Roh Kudus". Para rasul sudah pergi, tetapi Roh Kudus masih hadir. Para rasul teraniaya dan meninggalkan mereka, namun Roh Kudus tak mungkin meninggalkan mereka.

Setelah para rasul pergi, kehadiran Roh Kudus malah lebih diperlukan. Andaikan di sana ada seorang pendeta, mungkin mereka tidak begitu merasa penting terhadap hal dipenuhi dengan Roh Kudus. Jika ada seorang pendeta di sana, dipenuhi Roh Kudus pun dirasa tidak berguna, tidak dipenuhi Roh Kudus pun tidak dirasa rugi.

Karena ada seorang gembala yang khusus mengurusi urusan rohani bagi mereka, maka mereka tidak merasa perlu dipenuhi oleh Roh Kudus. Dalam Alkitab tidak ada konsepsi seorang rasul menetap lama dan menjadi pendeta di suatu lokal. Yang ada dalam Alkitab ialah seorang gembala yang Allah bangkitkan di gereja lokal itu untuk menggembalakan saudara-saudara lainnya di lokal tersebut.

Mereka adalah saudara yang berkarunia dari antara orang-orang yang diselamatkan di lokal itu juga, bukanlah seorang rasul yang menetap terus di sana untuk menjaga sebuah gereja. Tetapi, bila rasul pergi namun di sana tidak dipenuhi Roh Kudus, tentu akan sulit. Karena itu, Allah harus memenuhi mereka dengan Roh Kudus.

Hari ini orang-orang tidak dipenuhi Roh Kudus, ini dikhawatirkan, karena ada manusia yang bekerja menggantikan Allah!

Dalam 14:1 dikatakan, "Di Ikonium kedua rasul itu masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya." Untung ada aniaya di Antiokhia yang membuat mereka menghindar ke Ikonium. Jika tidak, di Ikonium tentu tidak begitu banyak yang diselamatkan. Pekerjaan rasul selalu maju ke depan; terus menyelamatkan jiwa dan terus mendirikan gereja.

Setelah beberapa hari tinggal di sana, "Orang banyak di kota itu terbelah menjadi dua: ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada kedua rasul itu" (ayat 4). Lihatlah, orang yang percaya bertambah banyak, sehingga muncullah gereja di Ikonium. "Maka mulailah orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul itu dengan batu" (ayat 5) Aniaya bertambah hebat, kali ini mereka menggunakan kekerasan.

"Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe, dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil" (ayat 6-7). Mereka pergi lagi.

Mereka tidak berkata, "Aniaya yang diderita kaum imani di Ikonium sangat besar, maka kita harus menanggungnya bersama-sama, dan kita harus melindungi mereka, serta menolong mereka." Tidak, mereka malah menyingkir ke Listra dan Derbe. Mereka pergi, baik dengan damai sejahtera oleh pimpinan Roh Kudus maupun dengan sengsara oleh aniaya atau penghinaan manusia. Bagaimanapun, mereka selalu berjalan, pergi.

Apakah yang mereka lakukan di Listra dan Derbe? Mereka memberitakan Injil di sana dan di sekitarnya.

Bagaimana akibat penginjilan mereka di sana? "Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati.

Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota . . ." (ayat 19-20).

Kini aniaya lebih dahsyat daripada dua kali sebelumnya. Kita tak tahu ada berapa orang yang beroleh selamat, namun dengan adanya murid-murid berdiri mengelilingi Paulus, boleh jadi ketika itu ada delapan atau sembilan orang, atau mungkin ada dua tiga puluh orang, bahkan mungkin seratus atau dua ratus orang. Maka sebuah gereja lagi muncul di Listra.

Keesokan harinya Paulus "berangkat bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe . . .

memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid . . ." (ayat 20-21).

Di Derbe mereka memperoleh sekelompok orang lagi. Perjalanan penginjilan Paulus yang pertama berakhir di Derbe.

Dari ayat-ayat Alkitab di atas, kita nampak satu prinsip terbesar dalam jejak perjalanan rasul, yakni mereka menginjil dan mendirikan gereja dari satu lokal ke lokal lain. Mereka tidak bercokol terus di satu lokal. Tidak ada rasul utusan yang duduk santai di rumah.

Dalam Alkitab tidak ada rasul yang tidak bepergian. Teladan jelas telah diperlihatkan Alkitab kepada kita, bahwa tugas rasul adalah memberitakan Injil dari satu lokal ke lokal lain; mereka tidak bertugas menetap dan menggembalakan kaum imani di suatu lokal tertentu.

PEKERJAAN PENGULANGAN

Tetapi, kini ada satu pertanyaan, yakni: siapakah yang menggembala orang-orang yang telah diselamatkan itu? Siapa yang mengurus mereka? Bagaimanakah gereja disusun?

Jika rasul tidak tinggal di antara mereka, siapakah yang akan melakukan pekerjaan itu di antara mereka? Selanjutnya, kita melihat bahwa pekerjaan rasul selalu berpola pergi dan pulang. Setelah mereka pergi, mereka masih akan kembali lagi.

Ketika mereka kembali lagi, masalah-masalah itu dibereskan. Meskipun mereka sendiri tidak tinggal menetap, tetapi ketika mereka kembali, semua masalah itu diatasi. Mari kita lihat perkara apa yang terlebih dulu mereka lakukan.

"Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan menyatakan bahwa untuk masuk ke dalam kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara" (ayat 21-22). Mereka sekarang kembali melakukan tugas perawatan atau pembinaan.

Tetapi mereka bukan menetap terus di situ untuk membina. Pekerjaan penginjilan oleh rasul dilakukan dari satu lokal ke lokal lain, pekerjaan pembinaan oleh rasul juga dilakukan dari satu lokal ke lokal lain. Jadi, rasul tidak tinggal di satu lokal terus, baik untuk menginjil maupun membina.

Perjalanan rasul yang pertama adalah mendirikan gereja, dan dalam perjalanan kembalinya adalah membina atau meneguhkan gereja. Perjalanan pergi dan pulang rasul kali ini memakan waktu lebih dari setahun. Dalam jangka lebih dari setahun ini Paulus telah mendirikan banyak gereja, dan telah membina banyak gereja pula.

Kali pertama rasul melakukan pekerjaan pendirian, dan kali kedua rasul melakukan pekerjaan pembinaan. Ketika rasul pergi ke suatu lokal, mereka mendirikan gereja lokal; ketika mereka kembali di suatu lokal, mereka melakukan pembinaan. Dalam Alkitab tidak ada contoh seorang rasul menetap terus di satu lokal untuk memelihara satu gereja, atau menggembala satu gereja, melainkan mereka pergi mendirikan gereja, dan pulang membina gereja.