PENGUTUSAN DAN JEJAK PARA RASUL
-- Kisah Para Rasul 13-14 --
Rasul pertama, Tuhan Yesus, adalah utusan Bapa sendiri. Kedua belas rasul itu adalah utusan Anak di bumi. Pekerjaan rasul pertama secara jasmani telah berlalu, demikian pula pekerjaan kedua belas rasul itu.
Rasul utusan Bapa dan Anak sudah berlalu, yang ada sekarang tinggal para rasul utusan Roh Kudus (wakil Tuhan yang telah naik ke sorga) di bumi. Bagaimana Bapa mengutus Anak, dan bagaimana Anak mengutus Roh Kudus, semuanya itu sudah kita ketahui. Sekarang kita akan melihat bagaimana Roh Kudus mengutus kita.
Dalam Kisah Para Rasul 13, kita nampak awal mula Roh Kudus mengutus orang secara resmi. Hal tersebut tak pernah terjadi sebelumnya.
Gereja di Antiokhia adalah satu "contoh" (teladan) gereja yang tercantum dalam Alkitab, sebab gereja ini baru terbangun setelah gereja-gereja di kalangan orang Yahudi dan orang kafir terbangun. Dalam Kisah Para Rasul 2, tercatat terbangunnya gereja bagi kalangan orang Yahudi di Yerusalem; sedang dalam Kisah Para Rasul 10, tercatat terbangunnya gereja bagi orang-orang kafir di rumah Kornelius. Gereja di Antiokhia baru didirikan setelah ada gereja-gereja di Yudea dan di tanah kafir.
Karena itu, gereja di Antiokhia merupakan contoh/teladan gereja. Gereja di Yerusalem berada pada masa transisi dan sudah tentu masih berbau agama Yahudi; lain halnya dengan gereja di Antiokhia yang berdiri pada kedudukan gereja secara tuntas dan riil. Di Antiokhialah untuk pertama kalinya murid-murid disebut "Kristen" (Kis.
11:26). Sifat Kristiani dan karakteristik kekristenan secara khusus terekspresi di Antiokhia; seolah-olah Yerusalem pun kurang memadai. Sebab itu, gereja di Antiokhia adalah sebuah contoh gereja; para nabi dan pengajar di sana adalah "contoh"; begitu pula rasul-rasul yang dipilih di sana.
Pengutusan para rasul yang dilakukan di Antiokhia bertumpu pada kedudukan gereja, dan merupakan kali pertama Roh Kudus memilih rasul secara resmi. Maka pengutusan rasul oleh gereja "contoh" di Antiokhia kali ini merupakan teladan pengutusan yang sangat penting.
Sejak rampungnya Perjanjian Baru, dalam sejarah, banyak orang yang diutus Roh Kudus pergi ke seluruh dunia demi melaksanakan pekerjaan yang diperintahkan Tuhan. Tetapi secara serius boleh dikatakan, semua itu tidak dapat menjadi teladan kita. Kita harus mengamati bagaimana Roh Kudus berbuat untuk pertama kali, itulah yang patut menjadi teladan kita.
Sekarang, mari kita kaji bagaimana seluk beluk Roh Kudus pada mulanya memilih dan memanggil orang. Untuk ini, kita perlu kembali kepada ayat-ayat Alkitab yang bersangkutan. Kisah Para Rasul 13 adalah sejarah Roh Kudus pertama kali mengutus orang, maka sekarang kita ingin memeriksa Kisah Para Rasul 13 dengan seksama.
Kisah Para Rasul 13:1-3 mengatakan, "Pada waktu itu dalam gereja di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi."
Hal pertama yang harus kita perhatikan di sini ialah ada satu gereja di Antiokhia, gereja lokal, dan di gereja ini ada beberapa nabi dan pengajar. Kemudian dari orang-orang itu Roh Kudus memilih dua orang untuk pergi melakukan pekerjaanNya. Roh Kudus tidak mungkin memilih orang yang tidak mempunyai karunia atau yang tak pernah melakukan pekerjaanNya.
Sebelum terpanggil, para rasul itu sudah mempunyai karunia, mereka sudah menjadi nabi dan pengajar, yakni sudah sebagai minister dalam "ministri" itu. Jadi mereka sudah berkarunia sebelum menjadi rasul. Seperti kata Spurgeon kepada seorang pelajar, "Allah tidak mungkin memanggil orang yang bisu untuk memberitakan Injil." Jika Allah memanggil seseorang untuk menjadi mulut, orang itu pasti diberiNya peta lidah.
Ini jelas mengacu kepada aspek alamiah. Demikian pula, Allah tak mungkin memilih orang yang tidak mempunyai karunia untuk bekerja; Roh Kudus pun tak mungkin memilih orang yang menyembunyikan karunia atau yang tanpa beban rohani untuk melakukan pekerjaan utusan. Mereka itu sudah merupakan kader "pekerjaan ministri itu" di lokal mereka sendiri, sudah merupakan petugas pekerjaan rohani yang memperhatikan serta melaksanakan pekerjaan Tuhan di situ.
Mereka bukan orang-orang yang menetap dan tidak mau bergerak dari satu lokal, yang baru aktif setelah ada panggilan Roh Kudus untuk pergi ke berbagai tempat. Justru ketika mereka sedang menunaikan tugas lokal, datanglah suara dari Roh Kudus yang mengutus mereka pergi melakukan pekerjaan di setiap lokal. Roh Kudus memilih dua orang di antara beberapa nabi dan pengajar.
Saya tidak dapat memastikan apakah mereka itu nabi atau pengajar, atau kedua-duanya. Yang berani saya pastikan ialah, bahwa mereka adalah orang-orang berkarunia dan yang sudah bekerja di lokal mereka sendiri.
Siapakah mereka? Barnabas adalah orang yang baik. Simeon mungkin dulunya bukan orang yang terpandang, sebab "niger" berarti "hitam".
Lukius, orang Kirene adalah Negroid dari benua Afrika. Menahem adalah seorang bangsawan, sebab ia pernah diasuh bersama raja wilayah Herodes. Saulus adalah seorang pemikir cerdas yang sarat pengetahuan.
Ditinjau dari segi mental, pengetahuan atau status sosial, mustahil kelima oknum itu bisa hidup bersama, sebab perbedaan mereka satu dengan yang lain besar sekali. Latar belakang dan sejarah satu dengan yang lain sangat jauh berbeda. Tetapi di hadapan Allah, mereka sama-sama menerima kasih karunia sebagai nabi dan pengajar.
"Ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus." Mereka sering mendekati Tuhan, melayani Tuhan, sehingga Tuhan mempunyai kesempatan berbicara dengan mereka. Begitu tekunnya mereka melayani Tuhan, sehingga menghentikan perkara yang paling wajar -- makan -- untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Dengan demikian, Roh Kudus mempunyai kesempatan berbicara serta memanggil dua orang di antara mereka untuk pergi bekerja.
Di sini kita harus memperhatikan satu hal: setiap pengutusan pekerja bertolak dari Roh Kudus, bukan karena ada kebutuhan atau kesenangan, atau pengaturan lingkungan. Tujuan kelima orang itu ialah melayani Tuhan, karena itu, Roh Kudus baru dapat mengutus mereka untuk melakukan pekerjaan Allah. Belum tentu setiap orang yang melakukan pekerjaan Allah itu melayani Allah.
Tetapi mereka berlima datang ke hadapan Allah bukan ingin bekerja bagi Allah, melainkan melayani Allah. Ketika mereka sedang melayani Allah, Roh Kudus memanggil mereka.
"Berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Setiap pekerjaan yang resmi harus bertitik tolak pada kalimat tersebut. Walau idenya sudah sempurna, alasannya sudah cukup, orangnya sudah memenuhi syarat, dan kebutuhannya pun sangat mendesak, tetapi jika Roh Kudus tidak berkata, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka", maka tidak layaklah orang itu menjadi rasul. Mereka layak menjadi nabi atau pengajar, tetapi mereka tidak layak menjadi rasul.
Seorang rasul harus diutus oleh Roh Kudus. Rasul jaman itu harus diutus oleh Roh Kudus, rasul jaman kini juga harus diutus oleh Roh Kudus. Orang yang belum beroleh panggilan Roh Kudus tidak layak pergi melakukan pekerjaan rasul.
Memang Allah ingin manusia melayani Dia, melakukan pekerjaanNya, namun Allah tidak ingin manusia melakukan pekerjaanNya menurut kemauan manusia itu sendiri. Maka motivasi untuk membantu gereja, membina kaum imani atau menyelamatkan orang dosa, itu masih bukan kualifikasi seseorang untuk keluar bekerja. Hanya ada satu kualifikasi, yakni pengutusan Allah.
Jadi bukan "wajib militer" dengan kerelaannya sendiri, melainkan menerima undangan/panggilan Allah. Allah tidak mau memakai orang yang masuk tentara dengan tekad dan kegairahannya sendiri; hanya orang yang dipanggil Allah baru bisa dipakai olehNya.
Roh Kuduslah yang berkata, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Ia terlebih dulu memanggil orang menjadi murid, kemudian dari antara murid-murid itu, memanggil orang menjadi rasul. Tanpa panggilan, tak mungkin menjadi murid. Demikian pula, tanpa panggilan tak mungkin menjadi rasul.
Sebab itu, semua rasul wajib menerima panggilan Roh Kudus. Melayani Allah adalah motivasi mereka, berpuasa adalah penyataan sikap mereka, sedang yang berbicara dengan mereka adalah Roh Kudus; ini mutlak perlu. Kualifikasi kerasulan diperoleh melalui menerima panggilan Roh Kudus.
Tanpa surat tugas, tak mungkin orang bekerja pada instansi pemerintah; demikian pula, tanpa panggilan Roh Kudus, tak mungkin ada jabatan rasul. Masalahnya hari ini ialah ada orang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai rasul, tanpa panggilan Roh Kudus. Para rasul dalam Alkitab adalah orang yang dipanggil Roh Kudus.
Jika tidak mengakui panggilan Roh Kudus, berarti tidak mengakui penyertaan Roh Kudus. Di sini ada satu hal yang harus khusus diperhatikan, yaitu bagi setiap orang yang ingin menjadi rasul, perkara yang terpenting ialah menerima panggilan atau tidak. Nasihat orang, pengaturan lingkungan, desakan kebutuhan, dorongan saudara senior, .
. . , semuanya tidak berguna.
Di sini, pertama-tama Roh Kudus memanggil dan mengutus Barnabas dan Saulus untuk melakukan pekerjaanNya, kemudian kita nampak saudara-saudara melepas mereka pergi. Boleh jadi saudara-saudara berkata, "Pada diri Anda ada panggilan," lingkungan sekitar dan orang-orang selokalpun berkata, "Anda ada panggilan". Tetapi persoalannya, Anda sendiri ada panggilan atau tidak?
Kalau Anda sendiri tidak ada panggilan, meski adakalanya opini saudara itu sangat mustika, namun itu tak mungkin mewakili wahyu Anda di hadapan Allah. Meski pengutusan lembaga (kelompok) adakalanya sangat membantu, namun itu tidak dapat menggantikan terang Anda di hadapan Allah. Opini saudara maupun utusan lembaga memang berharga, tetapi itu bukan Perjanjian Baru.
Kita harus menerima wahyu dari Allah sendiri, itu barulah Perjanjian Baru.
Panggilan adalah awal mula segala pekerjaan. Manusia tidak mungkin dengan tekad atau keberaniannya sendiri berjuang bagi kerajaan Allah. Orang yang demikian tidak terpakai olehNya.
Jika Allah ingin melakukan sesuatu, Ia sendiri akan memanggil dan mengutus orang melakukannya. Ia tidak memakai manusia menjadi penasihatNya. Semua kegairahan yang diprakarsai darah daging manusia tidak ada faedahnya.
Perkara utama bagi pekerja Allah ialah mengerti panggilan Allah; tanpa itu, tidak ada pekerja dan pekerjaan. Itulah titik tolak segala-galanya, sebab panggilan menunjukkan Allah yang memulai, bukan manusia yang memulai. Panggilan juga meletakkan Allah pada nomor satu dalam pekerjaanNya.
Panggilan Allah adalah melalui "Roh Kudus berkata". Terpanggilnya seseorang boleh jadi melalui manusia, atau Alkitab, atau lingkungan, atau khotbah. Bagaimanapun Roh Kudus harus berkata; Roh Kudus harus berbicara di balik segala perkara itu.
Roh Kudus bisa langsung berkata kepada manusia, Iapun bisa berkata melalui manusia, perkara atau benda. Adakalanya Ia bisa berkata melalui visi dan mimpi. Hanya mimpi, tanpa ayat Alkitab atau lingkungan, itu tidak berguna.
Yang terpenting adalah Roh Kudus berbicara; bagaimanapun Roh Kudus harus berbicara. Semua orang dalam Perjanjian Baru bisa mengetahui Roh Kudus berbicara kepada dirinya atau tidak. Bukan orang mengatakan, "Pergi", baru Anda pergi, juga bukan karena Anda diundang orang, baru Anda pergi, atau karena keadaan sekitar menghimpit Anda, ataupun karena terdesak oleh kebutuhan.
Bukan diutus oleh sebuah misi atau seseorang, melainkan mutlak diutus oleh Roh Kudus. Memang manusia kemudian bisa "membiarkan" Anda pergi, tetapi manusia hanya dapat membiarkan orang yang telah diutus oleh Roh Kudus. Kehidupan Tubuh memang sangat penting, tetapi itu sekali-kali tidak dapat menggantikan perintah Roh Kudus.
Kita wajib saling menaati, namun itu tidak seharusnya membuat kita kehilangan kemandirian di dalam Roh Kudus. Dengan dalih kehendak Tuhan lalu mengabaikan petunjuk rekan sekerja, itu memang tidak benar. Tetapi hanya menghiraukan perkataan rekan sekerja, tanpa mendengar perintah Roh Kudus, itu juga tidak benar.
Pada aspek lainnya, ini tidak berarti kita boleh mandiri, tidak seorang pun boleh menilai aku sebagai rasul atau bukan rasul. Roh Kudus melarang orang berbicara sembarangan. Ya, memang Roh Kudus memanggil Barnabas dan Saulus, tetapi Roh Kudus juga berkata kepada para nabi dan pengajar yang tinggal bersama mereka, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus (Paulus) bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Roh Kudus tidak hanya berbicara kepada Barnabas dan Saulus, juga berbicara kepada para nabi dan pengajar yang tinggal bersama mereka.
Roh Kudus bukan berkata kepada gereja di Antiokhia, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus", melainkan berkata kepada beberapa nabi dan pengajar di gereja Antiokhia. Roh Kudus tak mungkin berbicara kepada seluruh gereja di Antiokhia, sebab orang-orang di dalam gereja itu ada yang dewasa, ada pula yang hijau. Banyak yang tanpa tuntutan dan selera rohani, mustahil mereka dapat mendengar suara Allah.
Maka tidak mungkin gereja lokal mengetahui perihal Allah mengutus seseorang. Roh Kudus berbicara kepada beberapa nabi dan pengajar saja, karena mereka adalah orang-orang yang mempertahankan "pekerjaan ministri itu" di lokal itu. Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman rohani, berbeban rohani, dan yang berminat terhadap kehendak Allah; mereka tidak mau melewatkan hari-hari mereka dengan sembarangan.
Karena itu, Roh Kudus berbicara kepada mereka saja. Semua yang menjadi rasul wajiblah beroleh wahyu dari Roh Kudus secara langsung, ini adalah dasar mutlak dan satu-satunya bagi seorang rasul. Tetapi, hanya ada itu saja tidak cukup, masih perlu ada simpati/dukungan para sekerja yang mempunyai wahyu Allah, selera rohani dan mengenal kehendak Allah.
Dalam hal ini kita nampak dua fakta yang mustika: pertama, kita tidak boleh menuruti perkataan orang lain, termasuk perkataan nabi atau pengajar. Kedua, kita harus mempunyai pembuktian dan simpati nabi dan pengajar, mereka dan kita sama-sama beroleh wahyu dari Roh Kudus.
Sebagai hasilnya, mereka "berpuasa dan berdoa, meletakkan tangan ke atas kedua orang itu dan membiarkan keduanya pergi" (Kis. 13:3). Setelah ada panggilan Roh Kudus, harus pula ada pelepasan nabi dan pengajar.
Kedua hal tersebut dapat mencegah orang dari tindakan individual. Terpanggil adalah masalah individual, tetapi pelepasan adalah masalah korporat. Tetapi korporat ini bukan mengacu kepada seluruh gereja lokal, melainkan beberapa orang berkarunia dalam gereja lokal, dan yang mempunyai beban rohani sama.
Tak sedikit saudara yang berkarunia, namun tanpa sikap rohani, sehingga masalah mereka sendiri saja tidak sempat mereka atasi, maka tak mungkinlah mereka mengetahui tentang terpanggilnya orang lain. Jika Anda bertanya kepada mereka tentang panggilan, mereka tidak bisa memberi penjelasan apa-apa, sekalipun mereka menjelaskan sesuatu, tetap tidak bisa diandalkan. Mereka mungkin ada karunia, tetapi tidak mempunyai sikap rohani yang wajar.
Namun, lain halnya dengan beberapa nabi dan pengajar ini, mereka adalah orang-orang yang bersama-sama melayani Tuhan, dan bersama-sama berdoa, maka mereka bisa menganggap urusan orang lain seperti urusan sendiri; mereka mempunyai sikap yang senang membawakan urusan orang lain ke hadapan Allah, dan mereka mempunyai sikap yang memungkinkan Allah bersabda kepada mereka. Karena itu, mereka dapat mengetahui apakah Allah telah memanggil orang, juga memungkinkan Roh Kudus berkata, "Khususkanlah si Anu dan si Anu bagiKu".
Di sini ada satu teladan yang patut kita perhatikan: bahwa puasa merupakan titik awal dan titik akhir pelepasan rasul. Titik awal pelepasan rasul adalah berpuasa, beribadah kepada Tuhan, dan titik akhir pelepasan rasul juga berpuasa dan berdoa. Orang yang tidak berpuasa, melayani Tuhan, tidak mungkin mendengar suara Allah.
Bila tidak berpuasa dan berdoa, pembuktian mereka bisa keliru. Karena itu, orang-orang yang melepas utusan, haruslah orang-orang yang berpuasa, berdoa dan melayani Tuhan.
Terpanggil adalah perkara yang langsung, sedang diutus adalah perkara yang tidak langsung. Panggilan merupakan perkataan Roh Kudus langsung terhadap orang yang dipanggil, sedangkan pengutusan/pelepasan merupakan perkataan Roh Kudus melalui sekerja kepada orang yang terpanggil itu. Sebab itu, bila saudara-saudara yang berkarunia hendak mengutus saudara lain sebagai rasul, mereka harus bertanya kepada diri sendiri apakah hal tersebut bisa mewakili perbuatan Roh Kudus atau tidak.
Kalau Anda tidak yakin dan agak memaksa, itu tak bernilai sama sekali. Andaikan Anda mengutus orang sebagai rasul, Anda harus berani berkata bahwa Roh Kudus sudah mengutusnya. Kalau tidak, maka tindakan Anda tidak ada nilai rohaninya.
Memang ia rasul, tetapi rasul siapa? Jika ia rasul manusia, manusia boleh mengutusnya; tetapi jika ia rasul Allah, ia harus diutus Allah. Setelah manusia terpanggil oleh Roh Kudus, barulah ia diutus oleh para nabi dan pengajar setelah mereka berpuasa dan berdoa.
Tujuan berpuasa di sini tidak hanya untuk mengenal kehendak Allah, juga untuk kesukaran di depan, dan berdoa di sini bukan hanya untuk melaksanakan kehendak Allah, juga untuk kasih karunia di hari depan. Peletakan tangan di sini sama dengan peletakan tangan dalam Perjanjian Lama, yakni sebagai pernyataan simpati, bersatu dan pengharapan kelancaran masa depan. Mereka tidak hanya berpuasa, berdoa, juga meletakkan tangan.
Peletakan tangan bukan tanda pelantikan, sebab mereka sudah dilantik oleh Roh Kudus, jadi mereka hanya menyatakan simpati semata. Maksudnya: kalian pergi berarti kami pergi; kalian memberitakan Injil, berarti kami memberitakan Injil. Jika ada orang yang memberi Anda peletakan tangan, berarti ada orang yang mendoakan Anda dari belakang, ada yang memperhatikan, bersehati, berharap, serta ada yang menantikan kabar berita Anda.
Setelah mereka menerima peletakan tangan, barulah mereka berangkat.
Setiap utusan Allah wajib memperhatikan kedua aspek ini: pertama, harus ada panggilan pribadi, harus tahu keadaan terpanggilnya diri sendiri. Kedua, harus ada pembuktian dari rekan sekerja, yakni pembuktian dari orang-orang yang sama-sama menjadi nabi dan pengajar. Sudah tentu para nabi dan pengajar ini haruslah orang yang membuka hati, yang bisa menerima wahyu Roh Kudus dan yang dapat bersimpati terhadap rekan sekerja di hadapan Allah.
Prinsip pengutusan rasul oleh Roh Kudus hari inipun sama dengan yang diterapkanNya pada kali pertama itu. Gereja lokal hanya menangani urusan gereja lokal; nabi dan pengajar menangani pekerjaan gereja lokal, maka mereka harus menyatakan simpati.