Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 2 • Modul 9

Makna dan Bukti Kerasulan

Pembacaan Alkitab
"Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil" — Markus 3:14

MAKNA RASUL

Apa dan siapakah orang-orang utusan Allah hari ini? Dalam bahasa Yunani arti kata "rasul" tidak lebih dari "utusan", sama sekali tak perlu ditambah tafsiran apa-apa. Rasul adalah utusan, kecuali itu tidak ada makna lain.

Bagaimanakah segolongan orang ini? Mereka bukan orang-orang yang berkarunia istimewa, melainkan utusan Allah semata. Jadi, setiap utusan Allah adalah rasul.

Istilah ini mengacu kepada utusan biasa, bukan orang yang punya karunia khusus. Hari ini orang mengira harus berbuat ini atau berbuat itu, baru bisa menjadi rasul. Ketahuilah, "bisa atau tidak bisa" itu masalah karunia, tetapi "rasul atau bukan rasul" itu masalah utusan.

Dalam gereja ada suatu konsepsi, yakni mengira rasul adalah satu orang yang luar biasa; padahal siapa saja yang diutus, dialah rasul. Banyak orang memiliki karunia yang tidak sebesar karunia Paulus, tetapi jika mereka diutus, maka samalah jabatan mereka dengan Paulus. Rasul tidak tergantung pada besar kecilnya karunia, melainkan tergantung pada utusan.

Siapa yang diutus, dialah rasul; besar kecilnya karunia tidaklah menjadi soal. Rasul bukan mewakili orang berkarunia sangat besar, melainkan mewakili orang yang khusus diutus Allah untuk bekerja.

Lukas 11:49 mengatakan, "Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya . . ." Setiap utusan yang pergi ke bani Israel disebut rasul.

Siapakah nabi-nabi dan rasul-rasul itu? Apakah mereka rasul dalam Perjanjian Baru? Bukan.

Di sini dikatakan, bahwa Allah terlebih dulu mengutus nabi dan rasul kepada bani Israel, tetapi mereka tidak menerima, kemudian barulah Ia mengutus AnakNya. Jadi, nabi-nabi dan rasul-rasul itu semua adalah yang diutus kepada bani Israel sebelum kedatangan Tuhan Yesus. Karena itu, mereka adalah rasul-rasul Perjanjian Lama.

Tetapi dari kitab Kejadian hingga Maleakhi, dapatkah Anda temukan seorang rasul? Satu pun tidak. Mengapa Tuhan Yesus berkata demikian?

Itu tak lain karena rasul adalah suatu sebutan yang umum dan biasa, bukan mengacu kepada orang berkarunia istimewa. Rasul adalah utusan Allah semata, satu sebutan biasa. Maka Tuhan berkata semua orang yang diutus kepada bani Israel dalam Perjanjian Lama adalah rasul.

Bagaimana Tuhan menyebut orang-orang yang diutusNya pada zaman Perjanjian Baru? Kata Tuhan, "Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, atau seorang utusan daripada dia yang mengutusnya" (Yoh. 13:16).

"Utusan" di sini, dalam bahasa Yunani sama dengan "rasul". Tuhan menyinggung rasul di sini tidak mengandung arti lain, mereka hanyalah seorang utusan, bukan orang-orang "bergengsi" yang berkedudukan luar biasa.

Bagaimana tentang pekerjaan rasul? ". .

. jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima. Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang daripada rasul-rasul yang tidak ada taranya (besar) itu" (II Kor.

11:4-5) Dari ayat ini kita nampak, bagaimana pekerjaan seorang rasul. Mereka diutus untuk pergi memberitakan Injil, memberitakan Tuhan Yesus, agar orang beroleh selamat dan beroleh Roh Kudus. Orang-orang yang demikian dulu disebut rasul, hari ini tetap disebut rasul.

Dulu, sekelompok orang yang diutus Roh Kudus adalah rasul-rasul, hari ini, orang-orang yang diutus Roh Kudus juga disebut rasul.

Dalam II Petrus 3:2 dikatakan, "Supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu." Di sini ternyata, bahwa pekerjaan rasul adalah pekerjaan menyampaikan perkataan. Para rasul menyampaikan sabda Tuhan kepada anak-anakNya. Kalau dulu yang menyampaikan sabda Allah kepada anak-anak Allah adalah rasul, demikian pula hari ini, orang-orang seperti itu juga disebut rasul.

Hari ini, orang-orang yang diutus Tuhan keluar memberitakan Injil tidak menyebut dirinya sendiri rasul, tetapi mengaku dirinya sebagai "misionaris". Ketahuilah, istilah ini adalah bahasa Latin, artinya "utusan", sama persis dengan "apostolos" dalam bahasa Yunani. Kedua istilah ini sinonim.

Saya tidak tahu mengapa para penginjil hari ini tidak langsung saja menyebut dirinya "rasul", melainkan "misionaris". Tetapi istilah ini sudah menunjukkan, bahwa para penginjil hari ini mengakui mereka adalah utusan Allah, seperti halnya orang-orang utusan Allah pada masa lampau.

Rasul tidak ditentukan oleh ada tidaknya pekerjaan (mata pencarian) di dunia. Bukan berarti orang yang mempunyai pekerjaan tidak bisa menjadi rasul, yang tanpa pekerjaan baru bisa menjadi rasul. Paulus adalah seorang yang mempunyai pekerjaan.

Mungkin hanya rasul-rasul lainnya tanpa pekerjaan. Hanya saja pekerjaan Paulus itu bersifat tidak menetap, yakni dapat dipindah-pindahkan sewaktu-waktu. Seseorang menjadi rasul ditentukan oleh ada tidaknya panggilan dan pengutusan terhadap dirinya.

Itulah pokok masalahnya. Ada ini, ia adalah rasul, tanpa ini, ia bukan rasul. Rasul atau bukan rasul tidak ditentukan oleh ada tidaknya pekerjaan.

Maka anggapan hari ini, yang menganggap rasul harus tanpa pekerjaan duniawi, adalah opini manusia, bukan pikiran Allah. Namun, saya percaya, seorang rasul tidak boleh memiliki pekerjaan yang tidak dapat dipindah-pindahkan.

BUKTI KERASULAN

Apakah yang menjadi bukti dari sekelompok orang yang menjadi rasul ini? Orang macam apakah baru bisa menjadi rasul? Dalam I Korintus 9:1-2 dikatakan, "Bukankah aku rasul?

Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?

Sekalipun bagi orang lain aku bukan rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai (bukti) dari kerasulanku." Dari ayat ini kita nampak, bahwa seorang rasul ada buktinya. Tuhan tidak mengutus seseorang bekerja tanpa bukti.

Dalam suratnya kepada kaum imani di Korintus, Paulus pernah memperdebatkan masalah ini. Kaum imani di Korintus ada yang tidak mengakui kerasulan Paulus. Paulus berkata, bahwa ia adalah rasul, dan ia punya bukti kerasulannya.

Katanya, "Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai (bukti) dari kerasulanku." Tanpa aku, kalian tidak akan beroleh selamat, di Korintus pun tidak akan ada gereja. Kalau bukan Allah mengutus aku datang ke Korintus, maka di Korintus tidak akan ada kalian. Benar tidaknya Allah mengutus seseorang menjadi rasul, terbukti dari ada tidaknya buah dari pekerjaannya di tempat itu.

Di mana ada perintah Allah, di situ ada wewenang Allah. Di mana ada wewenang Allah, di situ ada kekuatan Allah. Di mana ada kekuatan Allah, di situ ada buah-buah rohani.

Wewenang berasal dari perintah Allah, kekuatan berasal dari wewenang Allah, buah berasal dari kekuatan Allah. Jadi buah pekerjaan kita itulah bukti posisi pekerjaan kita.

Mungkin ada yang bertanya, Paulus berkata, "Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita." Apakah berarti orang yang telah melihat Tuhan yang bangkit layak menjadi rasul? Kita harus tahu, dalam I Korintus 9:1 itu, Paulus menyinggung empat perkara: 1) bukankah aku orang bebas; 2) bukankah aku rasul; 3) bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita; 4) bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan. Pada ayat 2 Paulus merangkaikan dua fakta di antaranya, dan dua fakta lainnya dihapuskan.

Fakta dia sebagai rasul dan orang-orang Korintus sebagai buah pekerjaannya dalam Tuhan dirangkaikannya, sedang fakta dirinya sebagai orang bebas dan telah melihat Yesus dihapusnya. Maka kita tahu, bahwa yang Paulus jadikan bukti kerasulannya adalah buah pekerjaannya, bukan karena ia pernah melihat Yesus atau menjadi orang bebas. Jika tidak demikian, bukankah orang-orang yang bebas semuanya menjadi rasul?

Paulus tak pernah jadi budak. Di sini Paulus hanya mengungkapkan tiga jenis kualifikasinya, tidak berarti harus memiliki ketiga syarat itu baru terbukti sebagai rasul.

Ada satu bukti lagi, yaitu I Korintus 15:5-9, "Bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas rasulNya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus, kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang . .

. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku .

. . karena aku adalah yang paling hina (kecil) dari semua rasul .

. ." Apakah dalam ayat-ayat ini hal menjadi rasul dan hal melihat Tuhan yang bangkit disejajarkan oleh Paulus? Tidak.

Di sini kita nampak sangat jelas, rasul Paulus tidak mengatakan melihat Tuhan sebagai syarat menjadi rasul. Judul pasal ini adalah menyaksikan kebangkitan Tuhan, dan yang disaksikan di sini bukan tentang bukti menjadi rasul, melainkan bukti kebangkitan Tuhan Yesus. Lagi pula, Tuhan tidak hanya menyatakan diri kepada Kefas, kedua belas rasul, Yakobus dan lima ratus saudara.

Jadi rasul yang melihat kebangkitan Tuhan adalah rasul, rasul yang tidak melihat kebangkitan Tuhan juga adalah rasul. Kelima ratus saudara itu bukan rasul, meski telah melihat Tuhan yang bangkit, mereka tetap bukan rasul. Maka mengatakan, melihat Tuhan yang bangkit, barulah bukti kerasulan, itu hanyalah anggapan manusia.

Alkitab tidak mengatakan begitu, dan kita harus menyingkirkan kesalahpahaman ini.

Benar, rasul harus ada buktinya. Surat II Korintus 12:11-12 mengatakan, ". .

. Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu. Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mijuzat dan kuasa-kuasa." Bukti sebagai rasul ada pada Paulus.

Satu perkara yang pasti, jika seseorang dipanggil oleh Allah menjadi rasul, pada dirinya pasti ada tanda-tanda kerasulan, sehingga begitu orang melihatnya, segera mengetahui, bahwa ia adalah rasul. Tanda kerasulan Paulus di sini terlihat dengan adanya dua jenis kekuatan: kekuatan rohani dan kekuatan adikodrati. Kekuatan rohani yang terbesar ialah kesabaran.

Penyataan terbesar dari kekuatan rohani ialah kemampuan bersabar hati dan lapang dada dengan sukacita (Kol. 1:11) Kesabaran paling memerlukan kekuatan, maka kesabaranlah kekuatan rohani yang terbesar. Dapat tidaknya Anda bersabar hati, membuktikan besar kecilnya kekuatan rohani Anda.

Ketika I Korintus 13 membahas penyataan kasih, kalimat pertama adalah: "kasih itu sabar", dan kalimat terakhir adalah: "sabar menanggung segala sesuatu". Kesabaran adalah tanda kerasulan, yakni suatu semangat yang pantang mundur dan tak terpatahkan. Orang yang mudah lepas tangan, tanpa daya sabar, tentu tidak pernah nampak Allah, dan tidak memiliki realitas rohani.

Mungkinkah orang semacam itu menerima panggilan Allah? Boleh jadi mereka adalah rasul, tetapi tanpa tanda kerasulan; mereka tidak mirip rasul. Seorang rasul tidak hanya memiliki kekuatan rohani sebagai tanda kerasulannya, juga ada kekuatan adikodrati di belakangnya.

Allah mengabulkan doa mereka, dan dengan mujizat-mujizat Allah membuktikan bahwa mereka adalah rasul utusanNya. Betapa perlunya hal ini bagi mereka ketika mereka bekerja di kalangan orang kafir.

Namun harus kita perhatikan: bukan semua orang yang dapat melakukan mujizat adalah rasul. Ingatlah, bahwa dalam I Korintus 12:28, di luar rasul masih ada orang yang dapat melakukan mujizat dan dapat menyembuhkan. Ada orang yang dapat melakukan mujizat dan bersamaan dengan itu ia memang adalah rasul, ada juga orang yang dapat melakukan mujizat tetapi ia bukan rasul, ia hanyalah orang yang berkarunia melakukan mujizat semata.

Surat I Korintus 12 memperlihatkan kepada kita perbedaan antara orang yang dapat melakukan mujizat dengan rasul. Hanya saja, ada rasul yang dapat melakukan mujizat, ada pula pelaku mujizat yang bukan rasul.