Masih ada satu hal lagi yang dianggap amat penting oleh orang-orang dalam gereja hari ini, yaitu sebuah tempat sidang, atau apa yang disebut "gedung kebaktian" (padahal ini tidak seberapa nilainya). Kebanyakan orang mengira, sebuah gereja lokal harus memiliki pekerja alias pendeta, ditambah kebaktian pengkhotbahan, ditambah sebuah gedung kebaktian atau yang biasa disebut orang "gereja", baru layak disebut gereja. Orang berkonsepsi, jika tidak ada tempat sidang, seolah-olah gereja pun tidak ada.
Maka orang bisa menggantung merek yang bertuliskan kata-kata "gereja anu" di atas dinding sebuah rumah, padahal itu sama sekali tidak tepat, tidak sesuai dengan Alkitab. Rumah hanya merupakan tempat sidang gereja anu, bukan gereja anu itu sendiri. Memang balai sidang kita mempunyai alamat, tapi gereja kita tanpa alamat.
Ketika saya hendak meninggalkan Shanghai, seorang saudara bertanya kepada saya, bagaimana kita menulis alamat gereja kita? Saya berkata, bahwa gereja hanya mempunyai alamat untuk surat menyurat, gereja tidak memiliki alamat. Misalkan jalan anu, nomor anu, itu hanya merupakan alamat untuk surat menyurat, tidak dapat dikatakan alamat gereja.
Gereja di bumi hanya mempunyai alamat untuk surat menyurat, tanpa alamat. Gereja dalam Alkitab sepenuhnya mengacu kepada kaum imani, bukan mengacu kepada balai sidangnya.
Bagaimana Alkitab menampilkan istilah gereja untuk pertama kali setelah hari Pentakosta? Ketika Ananias dan istrinya Safira mati karena mendustai Roh Kudus, Alkitab mengatakan, "Maka sangat ketakutanlah seluruh gereja dan semua orang yang mendengar hal itu" (Kis. 5:11).
Dengan jelas di sini kita melihat, apa itu gereja. Gereja itu hidup, sebuah kelompok, yakni orang-orang yang percaya. Dalam Matius 18:17 Tuhan berkata, "Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada gereja.
Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan gereja, pandanglah ia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah (kafir) atau seorang pemungut cukai." Ayat ini juga dengan jelas menunjukkan kepada kita, apa itu gereja? Gereja adalah sebuah kelompok yang hidup, yakni manusia-manusia yang percaya itu. Gereja bukanlah sebuah balai sidang atau gedung kebaktian.
Di mana saja ada sebuah kelompok kaum imani, di situ ada gereja. Gereja adalah sekelompok manusia hidup, bukan sebuah balai sidang. Di mana ada kaum imani, di situ ada gereja.
Ada atau tidak ada balai sidang, itu tidak menjadi masalah.
Lagi pula, dalam Alkitab tidak ada petunjuk, bahwa kaum imani harus memiliki balai sidang. Orang Yahudi mempunyai sinagoge (rumah ibadah) untuk mendengarkan hukum Taurat mereka. Pada waktu itu sinagoge-sinagoge itu terdapat di mana-mana, dan di tempat yang ada warga Yahudinya pasti ada sinagoge.
Andaikata sinagoge juga dibutuhkan dalam kekristenan, maka pasti rasul pun mendirikannya di mana-mana. Para rasul sendiri adalah bangsa Yahudi. Menurut kebiasaan mereka, mereka perlu mendirikan sinagoge.
Tetapi mereka selamanya tak pernah membangun sinagoge macam apa pun bagi umat Kristen. Dalam Alkitab, Anda tidak akan menemukan rasul menguduskan sebidang tanah untuk keperluan balai sidang. Kalau orang-orang Yahudi tidak memiliki tradisi/peraturan mendirikan sinagoge, bisa jadi para rasul tidak memikirkan masalah mendirikan sinagoge.
Namun mereka berada di bawah pengaruh tradisi/peraturan itu, tapi mengapa mereka mengabaikan hal itu dan tidak mendirikan sebuah balai sidang untuk orang Kristen? Hal ini patut kita perhatikan secara khusus!
Pada aspek lain, mereka tidak saja tidak mendirikan balai sidang di mana-mana bagi orang Kristen, mereka juga seolah-olah sengaja tidak menghiraukan masalah tersebut. Yang menganggap harus ada satu tempat yang dikuduskan untuk menyembah Allah adalah agama Yahudi. Kekristenan tidak memiliki tempat suci.
Bait suci dalam Perjanjian Baru bukan berbentuk rumah, melainkan orang-orang yang hidup itu; mereka adalah rumah/bait Allah yang rohani. Karena bait suci Perjanjian Baru bersifat rohani, maka balai sidang gereja hari ini tidak menjadi masalah penting. Balai sidang itu asal cocok dipergunakan sudah boleh.
Sekarang mari kita tinjau apa kata Alkitab tentang balai sidang.
Ketika Tuhan Yesus masih berada di dunia, tempat sidangNya sering diadakan di atas bukit. Tiga kali khotbahNya yang terpenting justru diadakan di atas bukit. Suatu kali Ia membicarakan realitas kerajaan sorga di atas bukit (yang sering disebut bukit "delapan bahagia"); satu kali tentang nubuatan, di atas bukit Zaitun; satu kali lagi Ia membicarakan penampilan luaran kerajaan sorga, di tepi laut, permulaannya di atas perahu, kemudian masuk ke dalam rumah.
Pada malam terakhir, Tuhan berkumpul di rumah orang, yaitu di atas loteng yang luas. Di sini pula untuk pertama kali gereja mengadakan jamuan malam. Setelah kebangkitanNya, di dalam rumah pula Ia menyatakan diri dua kali kepada murid-murid (Yoh.
20:19, 26). Itulah tempat sidang mereka.
Sepuluh hari sebelum hari Pentakosta, para murid berkumpul (bersidang) di ruang atas sebuah rumah, tempat mereka tinggal. Baik menyelenggarakan jamuan malam maupun menerima pencurahan Roh Kudus semua dilakukan di atas loteng. Kemudian terjadi tiga ribu jiwa beroleh selamat.
Adakalanya mereka berpencar-pencar di rumah orang, adakalanya bersidang bersama di bait suci orang Yahudi. "Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati" (Kis.
2:46). Di sini kita temukan satu cara: karena jumlah mereka banyak, maka biasanya, mereka bersidang di rumah masing-masing secara bergilir, dan bila ingin berkumpul bersama, mereka lalu berkumpul di lapangan luas yang terdekat atau di bait Allah, bait suci orang Yahudi. Hari ini, jika kita di suatu lokal yang tidak banyak kaum imaninya, kita boleh bersidang di satu tempat; jika orangnya agak banyak, kita pun boleh bersidang di beberapa "rumah"secara terpisah.
Ini tidak berarti, gereja tidak boleh berhimpun bersama di satu tempat. Jika hal itu dirasa perlu, boleh saja berhimpun bersama di satu tempat. Jika orangnya banyak dan perlu bersidang secara khusus, itu boleh menyewa "bait" atau tempat umum lainnya.
Akan tetapi pada waktu-waktu biasa, boleh bersidang terpisah di banyak rumah.
Sesudah hari Pentakosta, ketika para rasul dibebaskan, mereka pergi ke tempat "teman-teman" (anggota gereja) mereka (Kis. 4:23). Apa yang mereka lakukan bersama anggota gereja itu?
Mereka berdoa, dan "ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Tuhan dengan berani" (Kis. 4:31). Tempat mereka bersidang justru adalah rumah anggota gereja, bukan gedung kebaktian, atau balai penginjilan.
Mereka bersidang justru di rumah-rumah anggota gereja. Bukan sebuah bangunan resmi, baru layak menjadi tempat bersidang, melainkan rumah-rumah anggota gereja sudah layak menjadi tempat bersidang.
Di jaman para rasul, bila orangnya banyak, adakalanya mereka berkumpul di Serambi Salomo (Kis. 5:12), itulah tempat mereka mengadakan sidang seluruh gereja. Di dekat bait suci pada masa itu terdapat sebidang pelataran atau lapangan luas.
Ketika jumlah anggota gereja sangat banyak, mereka sering bersidang di tempat tersebut. Pada waktu itu tidak ada gedung kebaktian yang atapnya lancip dan megah. Bila orangnya banyak, mereka lalu mencari sebuah tempat luas yang disebut Serambi Salomo sebagai tempat sidang mereka.
Tiap hari mereka "melanjutkan pengajaran mereka di bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias" (Kis. 5:42). Persidangan mereka yang biasa diadakan di rumah-rumah anggota gereja, bila orangnya banyak, mereka menyewa atau meminjam tempat umum.
Ketika Petrus ditahan dalam penjara, gereja dengan tekun mendoakannya kepada Allah (Kis. 12:5). Di sini Anda nampak, seluruh gereja di Yerusalem mendoakannya kepada Allah.
Kita tahu, jumlah anggota gereja di Yerusalem tidak sedikit, sekali dibaptis tiga ribu orang, sekali lagi lima ribu orang, seluruhnya mungkin sepuluh ribu orang. Mereka tidak berkumpul di satu tempat, melainkan terpisah di rumah-rumah, namun Alkitab menyebut mereka gereja. Di manakah buktinya mereka bersidang terpisah di rumah-rumah?
Alkitab mengatakan, setelah Petrus keluar dari penjara, ia berpikir sebentar, lalu pergilah ia ke rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut juga Markus. Di situ banyak orang berkumpul dan berdoa (Kis. 12:12).
Jadi, bukan seluruh gereja berhimpun di satu tempat. Mereka tidak punya sebuah balai sidang yang material. Jika perlu membangun balai sidang, tentunya para rasul sudah sejak dini membangun sebuah balai sidang untuk mereka, sebab ketika itu jumlah mereka sangat banyak.
Namun mereka tidak ada kebutuhan itu, sebab ada sebagian orang berdoa di rumah ini, dan ada sebagian lagi di rumah itu. Ketika itu, Petrus harus berpikir sebentar, mau ke rumah mana, dan akhirnya ia memutuskan ke rumah Maria, ibu Markus. Itu adalah salah satu tempat sidang gereja pada waktu itu.
Maka bila anggota gereja di satu lokal tidak banyak dan tempatnya cukup besar, mereka bersidang di situ; jika jumlahnya sangat banyak, sedangkan tempatnya kurang memadai, mereka harus bersidang secara terpisah di rumah-rumah, kadang-kadang menyewa tempat umum untuk bersidang bersama seluruh gereja. Demikianlah cara bersidang secara terpisah atau bergabung yang kita nampak dalam Alkitab.
Sampai Kisah Para Rasul 13 hingga 14, ada satu permulaan lain dari Antiokhia. (Yang terdahulu adalah garis Yerusalem). Bagaimanakah praktik para rasul?
Bersidang di manakah Paulus ketika ia dari luar kota kembali ke Antiokhia? "Setibanya di situ, mereka (Paulus dan kawan-kawannya) memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain karena iman." (Kis. 14:27).
Yang dipentingkan di sini adalah jemaat, bukan balai sidang. Jadi balai sidang itu mungkin pinjaman, mungkin pula rumah salah seorang saudara, itu bukan masalah yang penting.
Waktu Paulus tiba di Troas, "Pada hari pertama pada minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara . . .
Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Di ruang atas di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela.
Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.
Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan ribut, sebab ia masih hidup ... Sementara itu mereka mengantarkan orang muda itu hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur" (Kis.
20:7-12). Di sini kita lihat, tempat mereka bersidang adalah di ruang atas tingkat ketiga! Lagi pula ada orang (pemuda tadi) duduk di jendela.
Sidang mereka di Troas nampaknya sangat informal! Tidak seperti hari ini, setiap gedung kebaktian gereja begitu indah dan megah, sehingga sangat menarik perhatian orang dan seolah memasang iklan bagi orang-orang kaya. Namun ketika kaum imani di Troas bersidang, tempat mereka adalah di ruang atas tingkat ketiga, dan ada yang duduk di jendela!
Ini lebih tidak mirip balai sidang. Balai sidang dalam Alkitab sangat sederhana. Peserta-pesertanya ada yang duduk di jendela seperti Eutikhus, duduk di lantai seperti Maria pun boleh.
Persidangan kekristenan hari ini sungguh terlalu formal! Kita harus memulihkan sistem di ruang atas (loteng). Ruang bawah adalah tempat jual beli, tempat orang berlalu lalang, sedang ruang atas agak lebih mirip kekeluargaan.
Jamuan malam terakhir diadakan di ruang atas, turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta juga di ruang atas; sidang di sini juga di ruang atas. Pada prinsipnya, Allah menghendaki tempat sidang kita "di ruang atas", yang tidak begitu formal, yang di dalamnya kita bisa saling menikmati suasana kekeluargaan lebih banyak.
Allah berkenan anak-anakNya bersidang bersama dan di dalamnya mengandung suasana kekeluargaan. Karena itu dalam Alkitab tidak ada catatan tentang tempat atau balai sidang resmi. Bagaimanakah bentuk balai sidang dalam Alkitab?
Bentuknya ialah, gereja tidak mempunyai balai sidang resmi, gereja sering bersidang di rumah-rumah anggotanya. Alkitab mencatat beberapa kali, bahwa gereja bersidang di rumah orang. Misalnya "Salam juga kepada jemaat (gereja) di rumah mereka - Priska dan Akwila." (Roma 16:5; I Kor.
16:19). "Sampaikan salam kami kepada saudara-saudara di Laodikia; juga kepada Nimfa dan jemaat (gereja) yang ada di rumahnya" (Kol. 4:15).
". . .
kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami . . dan kepada jemaat (gereja) di rumahmu” (Flm.2).
Perjanjian Baru setidak-tidaknya ada tiga "gereja di rumah". Apa artinya gereja di rumah? Itu berarti jumlah orang di gereja itu tidak banyak dan rumah seorang saudara cukup luas, maka mereka bersidang di rumahnya; maka gereja semacam itu disebut gereja di rumah si anu.
Pada masa rasul, tempat sidang gereja tidak harus sebuah balai sidang atau gedung resmi yang besar. Lain halnya dengan tempat penginjilan yang diperlukan pekerjaan.
Maka segala perkara harus dimulai dari awal. Bila Anda tiba di suatu tempat dan menginjil dan ada orang beroleh selamat, Anda harus menjelaskan kepada mereka, tidak saja masalah mendengarkan khotbah, beroleh selamat, dan kemenangan itu sangat penting, bersidang pun penting. Bukan pekerja yang menyelenggarakan sidang bagi mereka, melainkan mereka sendiri harus bangkit mengadakan sidang.
Misalkan sidang pemahaman Alkitab, sidang doa, sidang pemecahan roti dan sidang penggunaan karunia; . . .
semua itu harus mereka tanggung sendiri. Sebagai gereja lokal, mereka harus menentukan tempat sidang mereka sendiri. Paling baik di rumah-rumah saudara.
Tempat sidang itu di sebuah rumah atau di beberapa rumah, harus mereka sendiri yang mencari dan menetapkannya.
Kekeliruan hari ini ialah, tempat atau balai sidang gereja adalah tempat yang disewa atau dibeli oleh pekerja. Ketika ada orang beroleh selamat, pekerja bukan menyuruh mereka sendiri yang mencari tempat untuk bersidang, melainkan mengundang mereka mengikuti sidang di balai sidang yang telah disewa atau dibeli oleh pekerja itu. Akibatnya gereja lokal tidak memiliki sidang mereka sendiri, yang ada hanya sidang pekerja.
Di samping itu, hal itu pun akan membuat saudara-saudara menyalahpahami sifat kekristenan yang sesungguhnya, dan membuat mereka dari awal tidak belajar menanggung kewajiban gereja dan kewajiban rohani. Padahal pada gereja lokal, keperluan balai sidang sangat sedikit. Pada umumnya rumah-rumah saudara sudah boleh digunakan untuk bersidang.
Balai sidang diperlukan untuk pekerjaan, sebab pekerjaan perlu sebuah tempat untuk bekerja. Karena itu, dari permulaannya kita sudah harus menjelaskan kepada saudara-saudara yang baru percaya, bahwa tempat yang kita sewa atau beli adalah untuk pekerjaan, dan hal itu tidak boleh dicampur aduk dengan gereja yang mereka dirikan sekarang. Lain halnya dengan pekerjaan.
Sering kali pekerjaan memang harus memiliki sebuah tempat yang resmi. Namun kalian lebih baik bersidang di rumah. Karena itu mereka harus dari antara orang percaya, mencari rumah siapa yang lebih memadai untuk bersidang.
Bila orangnya banyak dan lingkungannya luas, boleh saja ditambah dengan dua atau tiga rumah lagi. Kalian sendiri harus bertanggung jawab dalam mencari dan menetapkan tempat-tempat sidang itu. Diwaktu-waktu biasa kalian boleh bersidang secara terpisah di rumah.
Bila perlu, sebulan sekali mengadakan sidang gabungan kaum imani sekota; untuk memudahkan persekutuan atau pembinaan, bolehlah meminjam atau menyewa tempat umum. Bila kekuatan keuangan mengijinkan, boleh juga menyediakan tempat yang permanen. Bila ingin mengadakan sidang istimewa, atau mengadakan suatu sidang untuk seluruh kaum imani dengan waktu yang agak panjang, tidak ada salahnya menyewa atau meminjam tempat tertentu.
Namun sidang gereja yang rutin lazimnya diadakan di rumah-rumah.
Sidang gereja di rumah-rumah saudara adalah metode yang tepat dari gereja. Gedung kebaktian yang besar dan megah seperti terlihat hari ini, sebenarnya merupakan kemuliaan duniawi dan kebanggaan daging. Kita harus memiliki sidang di rumah-rumah, karena sidang di rumah-rumah banyak faedahnya.
Di sini suasananya jauh lebih bebas. Kita dapat berbincang-bincang tentang masalah rohani bersama-sama tanpa ada suatu tekanan atau batasan. Jika orang yang sama dibawa ke balai sidang, ia akan duduk dengan disiplin, seperti orang yang tidak punya perasaan.
Akibatnya, ia akan menjadi orang pasif, membiarkan orang lain saja yang berkhotbah. Ini bukan sidang gereja. Sidang gereja selalu penuh dengan suasana kekeluargaan.
Semua yang hadir, selain terkendali oleh Roh Kudus, tidak terikat oleh apa pun. Karena itu, bila ada saudara ingin mengajukan pertanyaan dalam sidang pun tidak dilarang (I Kor. 15:35).
Lagi pula, sidang rumahan seperti ini akan membuat saudara-saudara merasa, bahwa perkara-perkara gereja adalah milik mereka, juga dekat dengan mereka. Tidak sedikit orang imani yang merasa urusan gereja itu agung dan besar dan dengan mereka terpaut entah berapa jauhnya. Hal itu disebabkan adanya sebuah balai sidang yang megah, yang segala urusannya ditanggung hanya oleh para pekerja.
Tapi jika tempat sidang ada di rumah, di dalam keluarga, tidak akan ada perasaan yang demikian. Kaum imani akan merasa gereja itu sangat dekat dan menyadari kewajiban rohani mereka.
Sidang rumahan juga akan membuat para tetangga kita mengetahui, bahwa keluarga kita adalah orang Kristen. Hal ini besar sekali manfaatnya bagi kesaksian dan pemberitakan Injil. Berapa banyak orang enggan pergi ke "gereja" (gedung kebaktian atau balai sidang), namun mau datang ke rumah.
Sidang rumahan pun dapat menghindari kerugian material. Orang Kristen pada abad ketiga bisa tahan penganiayaan Roma justru karena gereja pada masa itu bersidang di ruang bawah tanah dan digua-gua di pegunungan. Tempat-tempat sidang seperti itu tidak mungkin ditemukan oleh lawan, kecuali ada orang yang menunjukkan.
"Gedung kebaktian" model bangunan besar dan megah seperti hari ini terlalu mudah ditemukan! Apakah sebenarnya kekristenan? Tempat sidang rutin orang Kristen jaman dulu tidak sebesar itu, dan tidak demikian menarik perhatian orang, pun tidak begitu boros.
Gedung kebaktian hari ini adalah buatan manusia, bukan kehendak Allah yang semula. (Balai sidang pekerjaan lain masalahnya.)
Ingatlah, kita tidak mengatakan gereja tidak boleh memiliki sebuah tempat sidang. Yang saya tekankan ialah, bagaimanapun kita harus menjadikan sidang keluarga sebagai sidang standar gereja. Sebuah tempat sidang umum bukanlah tempat persidangan yang rutin.
Satu Korintus 14:23 belum tentu merupakan satu tempat umum. Andaikata ada sebuah tempat umum, itu pun tidak dapat dijadikan alasan untuk meniadakan sidang rumahan.
Tercatat dalam I Korintus 14:23, "Kalau seluruh gereja berkumpul bersama-sama . . ." Jelas, gereja ada saatnya berkumpul bersama-sama.
Pada hari Pentakosta, murid-murid berkumpul bersama-sama (Kis. 2:1), kemudian ada kalanya mereka pun berkumpul di Serambi Salomo (Kis. 5:12).
Sering kali gereja boleh mencari satu tempat untuk bersidang bersama-sama. Namun juga tidak boleh kehilangan cita rasa kekeluargaan. Kita harus sering bersidang.
Dalam Alkitab, tidak pernah ada sebuah balai sidang resmi seperti hari ini.
Karena itu, keputusan kita sangat sederhana, yakni bila di suatu lokal ada orang beroleh selamat, segeralah mengadakan sidang rumahan. Bila orangnya sedikit, diadakan di satu rumah, jika orangnya banyak, dibagi di beberapa rumah. Ketika seluruh gereja ingin berkumpul bersama-sama, sebulan atau setengah bulan sekali, bolehlah menyewa sebuah tempat yang agak luas.
Ini adalah sidang gereja. Pola sidang pekerjaan lain lagi, itu ditanggung oleh para pekerja, bukan oleh gereja. Jadi balai sidang ada dua macam, yang satu untuk sidang gereja lokal dan balai sidangnya mengutamakan keluarga/rumah; satu lagi untuk pekerjaan para pekerja, ini bukan untuk sidang gereja, melainkan untuk pekerjaan pekerja.
Itulah prinsip Paulus menyewa rumah di Roma.
Kita telah nampak bahwa gereja di Roma sudah didirikan sejak dulu, dan sejak dulu sudah ada saudara bersidang di situ. Tetapi ketika Paulus tiba di Roma, ia tidak menggunakan tempat gereja lokal untuk pekerjaannya, melainkan menyewa sebuah rumah lain untuk bekerja. Ini adalah teladan baik yang ditinggalkan Paulus untuk kita ikuti.
Jika seorang pekerja tiba di suatu lokal untuk tinggal di situ dalam jangka waktu yang pendek, ia boleh menerima akomodasi gereja lokal. Misalkan Paulus tinggal di Troas hanya delapan hari, tak perlulah ia menyewa rumah untuk bersidang. Setelah Paulus pergi, walau sidang pekerjaan berakhir, saudara-saudara di Troas tetap memiliki sidang mereka sendiri.
Karena Paulus di Roma akan menetap cukup lama, ia harus menyewa rumah sendiri untuk menerima banyak orang yang datang mengunjunginya, guna mengajarkan kebenaran tentang kerajaan Allah. Bila seorang pekerja berencana bekerja agak lama di suatu lokal, ia harus menyewa sebuah rumah atau membangun sebuah rumah untuk keperluan pekerjaannya. Metode ini boleh diterapkan oleh pekerjaan, tetapi sebaliknya, gereja tidak perlu/harus memiliki balai sidang resmi.
Misalkan untuk panti asuhan George Muller, mereka malah perlu mendirikan beberapa rumah, sebab itu bersifat pekerjaan. Tetapi, dalam Alkitab, bagaimanapun gereja mempunyai lebih banyak sidang-sidang yang bersifat kekeluargaan.
Tiga masalah ini sekarang sudah dapat kita bereskan.
(1) Menurut Alkitab dalam gereja hanya ada saudara yang maju, yang bangkit menjadi penilik, tidak ada pekerja dari luar yang menetap di situ untuk mengelola gereja itu. Begitu ada gereja, pekerja sudah boleh dari antara saudara-saudara setempat memilih penatua untuk bertanggung jawab. Pekerja sendiri boleh pergi ke tempat lain menurut pimpinan Tuhan.
Saudara-saudara lokal harus nampak perihal penatua mengelola gereja adalah metode yang tepat dalam Alkitab. Mereka tidak boleh mengharap ada orang dari luar lokal itu yang diundang ke tempat mereka untuk khusus menanggung kewajiban gereja.
(2) Sidang-sidang gereja bukan menjadi tanggung jawab pekerja, melainkan saudara-saudara lokal itu sendiri melayani sesama saudara menurut karunia dari Allah kepada masing-masing, dan bersifat saling dan timbal balik; bukan aktif sepihak. Bila ada saudara pekerja singgah ke tempat itu, boleh mengadakan sidang istimewa selama beberapa hari atau, sepuluh hari, atau dua pekan. Pada waktu-waktu biasa ketika saudara-saudara bersidang, harus saling membina, menasihati satu sama lain dengan mazmur, penyataan, pengajaran, bahasa roh dan lain sebagainya.
Tetapi untuk mengadakan sidang semacam ini, setiap pekerja harus sekuatnya memimpin orang mengalami pencurahan Roh Kudus. Jika tidak, maka sidang I Korintus 14 itu tidak mungkin terlaksana.
(3) Tempat sidang tidak harus resmi, melainkan bersifat kekeluargaan. Jika orangnya sedikit, bersidang di satu rumah; jika orangnya banyak, dibagi dalam beberapa rumah. Bila ingin mengadakan sidang bersama (bergabung), boleh mencari tempat umum lainnya.
Dengan pola kerja demikian, maka persoalan berdiri sendiri, memelihara sendiri dan memberitakan sendiri tidak akan timbul dalam gereja. Lagi pula, gereja dapat menghemat banyak pengeluaran, pengeluaran lokal tidak seberapa dan dapat memanfaatkan semua persembahan untuk membantu kebutuhan kaum imani yang miskin, seperti di Korintus; atau membantu keperluan pekerjaan dan pekerja, seperti di Filipi. Hasilnya, setiap aspek akan berkembang dengan leluasa tanpa mengalami hambatan.