ORGANISASI GEREJA LOKAL
- "PENDETA", "KEBAKTIAN", "GEDUNG" -
Dalam struktur organisasi gereja hari ini, benarkah dapat tidaknya sebuah gereja didirikan di suatu lokal, selain ditentukan oleh saudara-saudara, juga harus ada pendeta, kebaktian dan gedung kebaktian? Menurut tradisi hari ini, ketiga hal tersebut adalah tiga unsur besar gereja. Coba pikir, dapatkah sebuah gereja disebut gereja jika tidak memiliki "pendeta" atau tidak memiliki "kebaktian" atau tidak memiliki "gedung kebaktian"?
Jangankan tidak memiliki tiga perkara itu, tidak memiliki satu di antaranya pun akan tidak mirip sebuah gereja. Maka ketika di sebuah lokal ingin didirikan gereja, yang diperhatikan kaum imani pertama kali adalah ketiga perkara itu. Jika ada ketiga hal itu, gereja baru dapat didirikan; jika tidak ada, gereja tak mungkin didirikan.
Akan tetapi, apakah itu sesuai dengan Alkitab? Pada mulanya, apakah manusia harus memiliki ketiga hal itu baru bisa mendirikan gereja?
Hari ini, di mana saja, jika orang ingin mendirikan gereja, maka:
1) harus ada seorang "pendeta", atau "penginjil", atau seorang "pekerja", tak peduli Anda menamainya apa, pokoknya harus ada orang sejenis itu. Orang itu adalah orang yang khusus dipisahkan dari orang lain dan yang khusus ditugaskan untuk mengelola semua pekerjaan gereja. Boleh jadi orang itu pernah menerima latihan khusus, boleh jadi ia didatangkan dari tempat lain.
Orang itulah yang khusus bertanggung jawab atas kewajiban rohani dan urusan sebuah gereja, dan ia pula yang mengatur perkara-perkara gereja serta mewakili saudara-saudara menangani urusan gereja. Kalau saudara-saudara lainnya bekerja menurut ministri mereka masing-masing, maka orang itu memborong pekerjaan gereja.
2) Harus ada kebaktian, yakni mengadakan persidangan atau kebaktian paling tidak sekali pada hari Minggu. Sidang-sidang lainnya, seperti sidang doa, sidang pemahaman Alkitab dan sebagainya dalam seminggu boleh ada, boleh tidak ada, karena hal itu tidak mempengaruhi eksistensi gereja. Tapi tiap hari Minggu harus ada suatu "kebaktian Minggu", yang tujuannya agar kaum imani pergi ke gedung kebaktian dengan taat, untuk mendengarkan khotbah sang pendeta.
Pekerjaan seorang "pendeta" yang paling penting pun menasihati "anggota" untuk mengikuti "kebaktian Minggu". Hal itu juga dianggap sebagai kewajiban paling penting oleh orang Kristen. Jika seorang "anggota" bisa hadir tanpa absen dalam "kebaktian Minggu" setahun 52 kali, maka ia akan merasa sangat baik, oleh pendetanya pun ia dianggap sangat baik.
Lagi pula gereja tidak terbilang sebagai gereja jika pada hari Minggu tidak ada kebaktian mendengarkan khotbah. Sidang semacam itu boleh Anda namakan kebaktian atau mendengar khotbah, namun sidang itu merupakan tumpuan nyawa gereja.
3) Harus ada sebuah gedung kebaktian, sebuah tempat yang khusus dipakai untuk bersidang, bukan untuk keperluan lain. Anda boleh menyebutnya gedung kebaktian atau balai sidang. Apa pun namanya, pokoknya harus ada sebuah tempat seperti itu untuk mewakili kelompok itu.
Ketika orang datang ke situ, orang bisa mengatakan, bahwa mereka datang ke gereja. Jika ingin ada sebuah gereja, maka harus ada sebuah balai sidang. Tak peduli Anda menamakannya apa, yang jelas tempat itu harus ada.
Hari ini banyak lokal telah diinjili dan telah banyak orang beroleh selamat. Tapi karena tidak ada pekerja yang bisa memikul kewajiban berkhotbah, dan tidak punya balai sidang resmi, atau kurang satu dari tiga perkara itu, maka di tempat itu dianggap tidak dapat didirikan gereja. Jadi menurut kebiasaan hari ini, gereja tak mungkin didirikan tanpa pekerja (pendeta), kebaktian (pengkhotbahan) dan balai sidang (gedung kebaktian).
Pertanyaan kita ialah: bagaimanakah pandangan Alkitab terhadap ketiga perkara tersebut? Apakah konsepsi manusia yang demikian sesuai dengan Alkitab? Apakah harus ada ketiga hal itu, baru gereja dapat didirikan?
Mari kita kaji ajaran Alkitab.
Apakah dalam Alkitab ada seorang "pendeta" yang mengelola gereja? Apakah ada seorang pekerja yang memikul tanggung jawab seluruh gereja, yakni membina dan menggembalakan mereka? Tidak ada!
Organisasi personalia gereja lokal ialah sebuah gereja diawasi oleh penatua, bukan dikelola oleh pekerja. Dalam gereja yang sesuai dengan teladan Alkitab, tidak pernah ada seorang pendeta atau yang sejenis itu seperti hari ini. Kita telah nampak, bukan seorang pendeta mengelola sebuah gereja seperti yang berlaku dewasa ini, melainkan beberapa penatua bersama-sama menanggung kewajiban sebuah gereja.
Dalam gereja yang tercatat dalam Alkitab, hanya ada penatua yang memelihara gereja, tidak ada kedudukan lainnya.
Dalam Filipi 1:1 tercantum, ". . .
kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik gereja dan diaken." Tidak ada ayat yang mengungkapkan organisasi gereja yang lebih baik dari ayat ini: semua orang kudus dalam Kristus, para penilik dan para diaken. Inilah sebuah gereja lokal. Gereja lokal dibentuk oleh semua orang kudus, ditambah para penilik, ditambah para diaken.
Diaken adalah orang yang melayani orang lain, atau boleh disebut hamba. Mereka bertugas membantu saudara-saudara dalam urusan-urusan biasa. Kita tidak memperhatikan mereka sekarang.
Dalam gereja masih ada penilik, siapakah penilik? Penilik adalah penatua. Hal ini cukup jelas terwahyu dalam Kisah Para Rasul 20:17,28 dan Titus 1:5,7.
Penatua mengacu kepada orangnya sedang penilik mengacu kepada pekerjaannya. Allah menugaskan penatua menunaikan pekerjaan menilik gereja lokal, agar gereja dapat melangsungkan eksistensinya dan dapat maju bertumbuh. Mereka bukan orang-orang yang menangani urusan-urusan biasa, melainkan yang memimpin dan mengawasi.
Selain diaken dan penilik, ada orang-orang kudus. Tidak ada lagi orang lain selain mereka. Maka menurut ajaran Alkitab, personalia dalam gereja hanya ada: orang-orang kudus, para penilik, dan para diaken.
Mustahil memasukkan orang lain ke dalamnya, sebab di dalam gereja hanya ada ketiga jenis orang itu.
Kita perlu memperhatikan beberapa poin tentang penatua dan diaken agar kita memahami ketetapan dan cara Allah. Para penatua bukan segolongan manusia yang khusus diutus Allah untuk bekerja. Dalam pekerjaan Allah mereka tidak ada jabatan.
Mereka bukan yang diutus Allah dari satu lokal ke lokal lain. Penatua sebenarnya adalah salah seorang saudara lokalyang beroleh selamat karena penginjilan rasul. Tetapi setelah beroleh selamat, mereka sangat berminat sehingga lebih maju daripada orang lain, dan karena mengasihi Tuhan mereka pun dengan spontan senang merawat orang-orang yang sama-sama dirahmati Tuhan.
Ketika rasul tiba untuk kedua kalinya maka orang-orang itulah yang dilantik rasul sebagai penatua, yang bertugas menilik semua orang kudus dan memimpin para diaken melayani gereja.
Karena itu, mengenai penatua ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, penatua dipilih dari saudara-saudara biasa. Mereka asalnya bukan "pekerja", bukan orang yang khusus diutus Allah untuk bekerja, melainkan orang imani biasa yang mempunyai pekerjaan(mata pencaharian), keluarga dan mempunyai reputasi.
Kedua, penatua adalah saudara setempat yang dipilih untuk menanggung kewajiban gereja. Mereka bukan orang yang dimutasikan dari tempat lain, melainkan yang dipilih dari saudara yang sudah ada di lokal itu (Kis. 14:23; Titus 1:5).
Maka sebagaimana seluruh kaum saleh dalam gereja lokal adalah orang-orang lokal, demikian pulalah para penatua yang dipilih dari antaranya. Sebagaimana gereja tidak mempunyai "transmigran" di tempat lain untuk mendirikan gereja, begitu pula gereja tidak memutasikan saudara ke tempat lain untuk menjabat sebagai penatua. Bila kita ingat kedua sifat dari kepenatuaan ini, niscaya kita tidak akan melakukan kekeliruan dalam hal organisasi gereja lokal.
Karena penatua asalnya adalah seorang saudara biasa, bukan utusan Allah, maka di dalam sebuah gereja lokal sama sekali tidak ada kedudukan rasul. Dalam sebuah gereja lokal hanya ada orang-orang kudus, para penilik dan para diaken, tanpa rasul. Tugas kewajiban rasul adalah pergi mendirikan gereja lokal, dan mereka melampaui gereja.
Paulus selamanya tak pernah menjadi rasul sebuah gereja lokal. Di setiap lokal, bila ada gereja tentu ada penatua, dan segera itu pula mereka sendiri bertanggung jawab melayani dan mengelola urusan gereja.
Dalam gereja lokal hanya ada kedudukan penatua, tidak ada kedudukan rasul. Dalam Alkitab tidak ada contoh rasul di suatu lokal mengelola sebuah gereja. Kedudukan rasul tidak dapat diletakkan dalam gereja lokal, sebab dalam organisasi gereja lokal tidak ada kedudukan bagi mereka.
Walaupun gereja lokal didirikan oleh rasul, tetapi rasul berada di luar gereja lokal. Dalam organisasi gereja lokal hanya ada penilik dan diaken, tanpa rasul. Jika rasul tinggal di suatu lokal yang ada gereja, maka kehadiran mereka dalam sidang adalah dengan status saudara.
Karena penatua adalah saudara setempat, maka semua cara pemutasian orang dari lokal lain untuk mengelola sebuah gereja tidaklah sesuai dengan Alkitab. Tak peduli orang itu telah menerima latihan khusus untuk melakukan pekerjaan khusus, atau ia diutus manusia atau diutus Allah, jika ia diundang dari tempat lain ke tempat ini untuk mengelola gereja, hal itu tidak diperbolehkan. Kita harus ingat baik-baik, bahwa gereja ditanggung oleh penatua, dan penatua adalah saudara setempat.
Jadi, memutasikan semua orang dari luar ke suatu gereja untuk bertanggung jawab, bukanlah cara Allah. Namun, saudara yang pindah ke lokal tersebut adalah masalah lain lagi.
Di sini kita nampak lagi perbedaan pekerjaan dengan gereja. Apa yang tidak boleh dilakukan di dalam gereja tidak hanya boleh dilakukan dalam pekerjaan, bahkan sering kali harus dilakukan. Misalkan dalam pekerjaan seorang saudara boleh menerima utusan untuk menanggung kewajiban pekerjaan di lokal lain, atau menerima utusan untuk menangani suatu pekerjaan, tapi gereja adalah milik lokal dan di bawah penilikan penatua.
Penatua adalah saudara setempat.
Gereja lokal tidak dikelola oleh rasul yang tinggal di lokal itu. Bukan seorang utusan Tuhan memberitakan Injil di suatu lokal dan mendirikan gereja, lalu tinggal menetap untuk melakukan penggembalaan. Kalau demikian, di lokal itu hanya ada pekerjaan, tidak ada gereja.
Misalkan kita hari ini menginjil di daerah perbatasan dan memenangkan 50 atau 100 jiwa. Jika kita meninggalkan seorang pekerja untuk menetap terus di situ untuk menggembalakan mereka, maka di tempat tersebut belum ada gereja, paling-paling hanya ada suatu pekerjaan. Sebab segalanya masih berada di tangan pekerja, belum di tangan saudara-saudara setempat.
Yang ada di tangan pekerja adalah pekerjaan, sedangkan gereja harus ada di tangan saudara-saudara setempat. Dalam Alkitab, tidak ada contoh seorang pekerja ditetapkan di suatu lokal untuk menggembalakan atau menangani gereja, yaitu sebagai "pendeta". Menurut Alkitab, penatua adalah orang yang dipilih dari saudara-saudara yang agak maju, dan mereka ditugaskan untuk menilik gereja.
Dalam Alkitab hanya ada pelantikan penatua setempat, tidak ada penggembalaan oleh pekerja dari luar.
Paulus pernah meninggalkan Titus di Kreta, tapi bukan menyuruhnya mengurus gereja secara langsung, melainkan menyuruhnya menetapkan penatua di tiap lokal, agar penatua-penatua itu menanggung kewajiban gereja. Tugas pekerja adalah mendirikan gereja dan melantik penatua. Mereka selamanya tidak memikul kewajiban gereja secara langsung.
Andaikata seorang rasul memikul kewajiban gereja, ia akan merendahkan status kerasulannya, jika tidak menghilangkan sifat gereja. Sebab rasul telah menjadi "penatua"! Rasul dari luar tidak layak menjadi penatua sebuah gereja lokal.
Sebab Alkitab hanya membenarkan saudara setempat dipilih menjadi penatua. Dalam Alkitab, setelah rasul mendirikan gereja, ia tidak bercokol di situ untuk menjadi penatua, melainkan melantik saudara setempat yang agak maju untuk menjadi penatua, dan ia sendiri meninggalkan tempat itu, lalu bekerja di tempat lain.
Sebab itu, ketika melakukan pekerjaan, kita harus menunjukkan kepada kaum imani di berbagai lokal, bahwa Allah tidak menyuruh kita tinggal di mana pun untuk menjadi "pendeta" mereka. Allah tidak menghendaki pekerja utusanNya menetap di suatu lokal untuk menanggung kewajiban gereja itu secara langsung. Maka mereka tidak seharusnya menaruh harapan seperti itu.
Pekerja boleh kembali mengunjungi mereka, kadang-kadang boleh juga menjenguk mereka sambil membina mereka dua atau tiga kali. Namun untuk tinggal menetap sebagai gembala, itu tidak pada tempatnya. Karena hal itu selain tidak tercantum dalam Alkitab, juga tidak disetujui Alkitab.
Mereka harus bertanggung jawab sendiri; saudara-saudara setempat harus memikul kewajiban gereja setempatnya sendiri. Mereka harus puas dengan penatua yang dilantik rasul untuk lokal mereka. Mereka harus belajar patuh dan menghargai penatua setempat, tanpa mendambakan seorang pekerja dari luar untuk menangani urusan gereja secara langsung.
Kedambaan yang demikian adalah karena ketidaktahuan dan ketidaktaatan atas firman Allah. Dalam Alkitab, tak pernah ada contoh sebuah gereja mendambakan pemerintahan rasul dan menolak kepengurusan penatua. Sudah tentu, untuk belajar menaati seorang saudara yang sudah kita kenal setiap hari itu memerlukan kasih karunia Allah!
Jika demikian, hubungan antara gereja dan pekerjaan menjadi sangat sederhana. Bila rasul keluar menginjil dan memperoleh sekelompok orang, maka dari orang-orang itulah dipilih beberapa yang agak rohani dan maju, serta menyuruh mereka bertanggung jawab mengelola urusan gereja lokal mereka sendiri. Dengan demikian, terbentuklah sebuah gereja lokal.
Kemudian rasul sendiri, menurut pimpinan Roh Kudus, pergi ke tempat lain. Hanya dengan cara demikianlah gereja baru dapat maju dan bertumbuh (sebab mereka bertanggung jawab sendiri); Injil dapat disebar luaskan (sebab para rasul boleh beroperasi ke mana-mana); sifat lokal gereja akan terpelihara, dan sifat "timbal balik" saudara pun dapat diwujudkan. Alangkah baiknya hal ini!
Manusia sering mengira, bila tidak ada seorang "penunjang" dalam sebuah gereja, gereja itu mustahil berdiri. Maka bila seseorang datang ke suatu gereja, ia akan bertanya, "Siapakah penunjangnya?" Jika tidak ada seorang "penginjil" atau seorang "pekerja" atau seorang "pendeta" yang mengelolanya, maka seolah-olah gereja itu mustahil terbentuk. Namun, perkara demikian tidak kita jumpai dalam Alkitab!
Semua anak Allah yang tinggal di sebuah lokal adalah saudara, dan merekalah yang bertanggung jawab atas urusan gereja lokal itu. Walaupun sudah ada penatua, mereka tetap saling membantu dan bekerja sama. Penatua hanya mengawasi saudara-saudara yang bekerja.
Dalam Alkitab, bukan pula seorang atau sekelompok penatua yang memikul kewajiban seluruh gereja. Semuanya adalah saudara. Walau ada penatua, mereka bukan pengganti atau wakil, mereka hanyalah penilik.
Karena itu, di dalam gereja sama sekali tidak ada masalah pasif. Jika hanya pekerja atau pendeta yang bergerak, itu bukan gereja, melainkan misi, instansi penginjilan atau lembaga pekerjaan. Dalam gereja, seluruh saudara bekerja dan para penatua melakukan pengawasan.
Bukan saudara-saudara tidak bekerja, juga bukan para penatua mewakili mereka bekerja, melainkan saudara-saudara bekerja dan para penatua mengawasi mereka bekerja.
Jadi, organisasi gereja dalam Alkitab sangat sederhana. Pertama-tama rasul diutus Allah menginjil di suatu tempat. Setelah ada orang beroleh selamat, maka mereka sudah sebagai gereja di lokal tersebut.
Pekerja lalu memberitahu mereka berbagai kewajiban orang Kristen, di antaranya ialah mereka berkewajiban menanggung urusan-urusan gereja setempat mereka. Mereka wajib saling membantu dan membina di antara sesama saudara. Tidak seharusnya mendambakan seorang rasul Allah datang menjadi "pendeta" mereka untuk menangani berbagai urusan mereka.
Saudara-saudara yang maju di antara mereka akan dilantik Allah menjadi penatua, untuk mengawasi semua saudara. Mereka harus bersyukur kepada Allah, karena pemimpin yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Mereka sendiri harus bekerja dan harus merasa puas, dengan adanya penatua setempat sebagai pemimpin mereka.