Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 1 • Modul 5

Dinamika Kerasulan dan Ruang Lingkup

Pembacaan Alkitab
"sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, mencapai kedewasaan penuh, dan mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan perawakan kepenuhan Kristus" — Efesus 4:13

GEREJA UNIVERSAL DAN GEREJA LOKAL

Ada satu hal yang ajaib di sini. Menurut I Korintus 12:28 Allah dalam gereja menetapkan: pertama rasul; kedua, nabi; ketiga, pengajar . .

. Gereja apa yang disebut di sini? Gereja yang disebut di sini adalah gereja universal, yaitu gereja yang merangkum segenap anak Allah dari segala bangsa dan sepanjang jaman.

Di dalam gereja ini rasul adalah yang pertama, nabi adalah yang kedua, dan pengajar adalah yang ketiga. Sampai pasal 14, tertampaklah seluruh gereja berhimpun bersama. Lalu, gereja apa lagi yang dimaksud di situ?

Jelas itu bukan gereja universal, melainkan gereja lokal. Sebab hanya gereja lokal baru bisa berhimpun bersama. Jika itu gereja universal, mungkinkah anak-anak Allah dari segala bangsa dan sepanjang jaman berhimpun bersama?

Sekarang kita akan meneliti perbedaan yang terkandung di dalamnya. Pada I Korintus 14 kita nampak keadaan atau pola persidangan gereja lokal, di sana saudara-saudara menerapkan karunia-karunia mereka masing-masing. Ketika bersidang ada yang bermazmur, ada yang memberikan pengajaran, ada yang memberikan wahyu, ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, ada yang menerjemahkan bahasa roh, dan lain-lain.

Tetapi yang mereka utamakan adalah nabi yang berkhotbah.

Dari sini kita segera menemukan satu hal yang ajaib. Kalau pada I Korintus 12 rasul nomor satu, tapi pada I Korintus 14 nabilah yang pertama. Dengan kata lain, di dalam gereja universal, yang pertama adalah rasul, sedang dalam gereja lokal, yang pertama adalah nabi.

Mengapa nabi, yang kedua dalam gereja universal itu, berubah jadi yang pertama dalam gereja lokal? Sebab dalam gereja universal yang berperan adalah orang yang Allah berikan, maka posisi nabi tidak setinggi rasul. Tetapi dalam gereja lokal, yang berperan adalah karunia, maka karunia nabilah yang paling besar.

Kita wajib ingat, nabi dalam 12:28 adalah nabi sebagai jabatan, sedang nabi dalam pasal 14 adalah nabi dalam karunia. Ditinjau dari segi karunia, nabilah yang terpenting, tetapi ditinjau dari segi jabatan, rasul lebih besar daripada nabi.

Dalam pasal 14, rasul tidak muncul, sebab ia sama sekali bukan suatu karunia. Ketika gereja lokal menerapkan karunia-karunia rohani, peranan nabilah yang terbesar. Jabatan rasul adalah yang terbesar dalam jajaran pekerja Allah, sedangkan nabi adalah yang terbesar dalam jajaran karunia.

Andaikata rasul itu karunia, pastilah rasul itu karunia yang lebih besar daripada nabi. Namun dalam I Korintus 14 tidak ada kedudukan rasul, karunia apapun harus mengalah terhadap nabi, sebab karunia nabi adalah yang terbesar daripada yang lainnya. Demikian pula jabatan apapun harus mengalah terhadap rasul, sebab jabatan rasullah yang paling besar.

Jabatan nabi tidak lebih besar daripada rasul, karena itu, nabi hanya ada pada urutan kedua. Tetapi dalam persidangan gereja lokal, karunia terbesar adalah nabi. Nabilah yang mengungkapkan kehendak Allah, baik untuk hari ini maupun untuk masa akan datang.

Rasul hanyalah jabatan yang terbesar dalam gereja universal.

KARUNIA PRIBADI RASUL

Siapakah rasul? Rasul adalah bejana yang cocok dipakai Allah sendiri, yang dipilihNya dari antara orang-orang yang berkarunia, yang diutus memberitakan Injil dan mendirikan gereja bagiNya. Rasul adalah sebuah jabatan lain yang Allah berikan kepada orang-orang yang berkarunia, lalu menyuruh mereka berkeliling melakukan pekerjaan khusus yang ditetapkanNya bagi mereka.

Memang rasul merupakan sebuah jabatan, tetapi orang yang sebagai rasul, tentu mempunyai karunia pribadi. Boleh jadi karunianya adalah bernubuat, atau mengajar, atau mengadakan mujizat, atau karunia lainnya, namun ia tidak sekadar nabi, pengajar, atau orang yang mengadakan mujizat; ia bahkan seorang rasul. Karena ia telah menerima jabatan pengutusan Allah yang tidak dimiliki orang berkarunia lainnya.

Sebagai contoh, "Pada waktu itu dalam gereja di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu mereka membiarkan keduanya pergi" (Kis.

13:1-3). Kelima orang ini adalah nabi dan pengajar yang memiliki karunia nabi dan pengajar, yakni karunia adikodrati dan karunia anugerah. Kini Roh Kudus berkata, "Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka." Roh Kudus mengutus dua orang dari antara lima orang itu, yang tiga tetap tinggal di Antiokhia.

Kedua orang yang diutus ini pada ayat-ayat selanjutnya disebut "rasul" (14:4,14). Apakah mereka menerima karunia rasul? Tidak.

Mereka tidak beroleh karunia lain, yang mereka terima hanyalah suatu pengutusan. Karunia mereka melayakkan mereka menjadi nabi dan pengajar, tetapi mereka diutus Roh Kudus untuk bekerja, maka jabatan lain yang ditambahkan kepada mereka itulah "rasul". Tiga orang yang tetap tinggal di Antiokhia: Simeon, Lukius dan Menahem, tetap sebagai nabi dan pengajar; mereka bukan rasul.

Mereka tidak diutus Roh Kudus, sebab itu, mereka bukan rasul. Paulus dan Barnabas tidak hanya berkarunia nabi dan pengajar, mereka pun mempunyai jabatan rasuli, sebab mereka adalah orang-orang utusan Roh Kudus. Sebenarnya kelima orang itu memiliki karunia yang sama, tetapi karena yang dua menerima utusan khusus, maka mereka menjadilah rasul, sedangkan tiga lainnya tanpa pengutusan, maka tetap sebagai nabi dan pengajar.

Jadi, rasul sebenarnya bukan suatu karunia istimewa, rasul hanyalah suatu jabatan.

Pada mulanya Tuhan memanggil dua belas murid dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala kelemahan. Selanjutnya, mereka yang diutus Tuhan ini disebut "rasul-rasul" (Matius 10:1-2). Karunia yang mereka terima adalah karunia mengadakan mujizat, sedang jabatan mereka adalah rasul.

Bukan setelah mereka menjadi rasul, baru khusus memiliki karunia rasul. Karunia apapun yang mereka punyai di luar jabatan mereka, itu perkara lain. Misalkan, seorang pakar matematika, ia belum tentu juga sebagai dosen ilmu matematika.

Bila ia diminta memberi kuliah di sebuah universitas, barulah ia menjadi dosen. Mengerti ilmu matematika itu sejenis ketrampilan, sedang dosen ilmu matematika itu suatu kedudukan. Karunia itu sejenis ketrampilan rohani, tetapi rasul itu suatu kedudukan.

Mungkin seseorang memiliki karunia, tetapi jika ia tidak diutus Allah, ia bukanlah rasul. Seperti halnya seorang pakar ilmu matematika, jika ia tidak diminta menjadi dosen, ia bukan dosen. Maka rasul bukan mewakili suatu ketrampilan istimewa, melainkan mewakili sejenis kedudukan khusus.

Menjadi dosen harus mempunyai ketrampilan, namun mempunyai ketrampilan belum tentu memiliki kedudukan. Karunia Paulus dan Barnabas bisa jadi sama dengan karunia Lukius, atau Simeon, atau Menahem, tetapi karena Paulus dan Barnabas menerima pengutusan Allah, mereka segera mempunyai kedudukan khusus, yaitu sebagai rasul, sedangkan yang lainnya bukan rasul. Boleh jadi mereka di kemudian hari beroleh karunia khusus lain lagi, tetapi karunia-karunia itu tidak bersangkut-paut dengan kerasulan mereka.

RUANG LINGKUP PEKERJAAN

Perlu kita perhatikan bahwa dalam ministri itu, ruang lingkup pekerjaan rasul sama sekali berlainan dengan ketiga jenis orang lainnya. Mengenai nabi dan pengajar, kita tahu bahwa fungsi mereka bersifat lokal. Sebab itu firman Tuhan mengatakan, "Pada waktu itu dalam gereja di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar." Nabi dan pengajar adalah orang-orang dalam gereja lokal, tetapi dalam gereja lokal tidak terdapat rasul.

Ini disebabkan rasul adalah untuk tiap-tiap lokal, bukan untuk satu lokal. Amanat rasul adalah diutus Allah bekerja di setiap lokal, memberitakan Injil atau mendirikan gereja. Ruang lingkup pekerjaan mereka adalah untuk tiap-tiap lokal.

Namun pengajaran pengajar dan pengkhotbahan nabi adalah untuk gereja lokal ( I Korintus 14:26, 29).

Mengenai pemberita Injil, karena Alkitab jarang membicarakannya kita tidak tahu bagaimana ruang lingkupnya. Tetapi dari "Filipus, si pemberita Injil" itu kita dapat mengerti sedikit. Ia adalah pemberita Injil.

Ketika ia meninggalkan tempat asalnya (Yerusalem) menuju Samaria, dengan sendirinya ia tak dapat tidak bersaksi bagi Tuhan, dan Tuhanpun memberkati pekerjaannya. Tetapi Roh Kudus tidak turun ke atas pendengar-pendengarnya yang telah beroleh selamat, masih perlu para rasul datang dari Yerusalem untuk menumpangkan tangan ke atas mereka, barulah mereka beroleh pencurahan Roh Kudus (bukan Roh Kudus yang berhuni di batin). Kasus ini seakan-akan menunjukkan kepada kita, bahwa pemberitaan Injil di satu lokal adalah tugas para pemberita Injil, sedangkan tugas pemberitaan Injil di tiap-tiap lokal adalah bagian para rasul.

Namun, itu tidak berarti hanya para rasul yang boleh menginjil di tiap lokal, pemberita Injil pun boleh, hanya saja biasanya ruang lingkup tugas mereka bersifat lokal. Nabi Agabus juga pernah menerapkan karunianya di lokal lain. Ruang lingkup pekerjaan mereka, biasanya pada satu lokal.

Kisah Para Rasul 8 menyiratkan hal ini, ditambah dengan penumpangan tangan para rasul menyatakan, bahwa pekerjaan tersebut sepenuhnya satu.

PROSEDUR MEMPEROLEH JABATAN

Kita tahu, bahwa seseorang menjadi nabi atau pengajar karena ia mempunyai karunia bernubuat atau mengajar; tetapi karunia apa yang dimiliki pemberita Injil, sehingga ia menjadi pemberita Injil, itu tidak kita ketahui. Rasul mutlak adalah jabatan, bukan karunia. Seseorang bisa menjadi rasul karena menerima panggilan dan diutus Allah secara khusus.

Seorang nabi atau pengajar (termasuk gembala) syaratnya cukup dengan memiliki karunia saja, demikian pula pemberita Injil. Kita tidak nampak mereka harus melalui prosedur apa lagi baru layak menjadi nabi, pengajar dan pemberita Injil. Ketiga jenis orang dalam ministri itu dengan sendirinya menjadi orang-orang demikian karena karunia yang mereka miliki.

Misalkan seorang nabi, karena ia memiliki karunia bernubuat, maka dengan sendirinya ia menjadi nabi, tanpa melalui prosedur pelantikan/pentahbisan tertentu. Ia adalah seorang nabi, karena ia memiliki karunia itu.

Namun rasul sama sekali berlainan dengan ketiga jenis orang itu. Seseorang bukan langsung menjadi rasul karena ia memiliki karunia rasuli, sebab rasul bukan karunia. Boleh jadi karunia yang dimiliki rasul sama dengan yang dimiliki ketiga jenis orang itu, tetapi rasul mempunyai panggilan khusus dan pengutusan khusus yang tidak dimiliki ketiga jenis orang itu.

Dari segi karunianya, mungkin ia juga nabi, tetapi ia tidak sekadar seorang nabi, ia adalah rasul, sebab ia menerima utusan khusus. Itulah letak perbedaan rasul dengan ketiga jenis orang dalam ministri itu. Kalau yang bertiga melibatkan diri ke dalam ministri itu melalui karunia, maka rasul melibatkan diri ke dalam ministri itu melalui utusan.

Hal ini perlu kita pahami dengan jelas.

Dalam persidangan gereja lokal, yang berperan adalah karunia, bukan jabatan, maka di sana hanya terdapat catatan tentang penerapan karunia oleh para nabi, tanpa kedudukan rasul. Meskipun rasul merupakan karunia gereja, tetapi ketika mereka menjadi rasul, mereka sendiri tidak menerima apa-apa. Ketika orang yang berkarunia nabi menerapkan karunianya dalam persidangan gereja lokal, dialah nabi, tetapi ketika dia terpanggil dan menerapkan karunianya di tiap-tiap lokal, dialah rasul.

Karunia yang dimiliki rasul secara pribadi, belum tentu karunia bernubuat, mungkin juga karunia menyembuhkan. Tetapi rasul adalah yang dipanggil Allah untuk menerapkan karunia-karunia itu di tiap-tiap gereja lokal. Karunia pribadi mereka tidaklah ditentukan, tetapi jabatannya adalah rasul.

Seorang rasul bisa menerapkan berbagai karunia rohaninya di suatu lokal, tetapi ia tidak bisa menerapkan karunia rasulinya, sebab rasul sama sekali bukan suatu karunia.

Efesus 4 membahas gereja lokal dan gereja universal secara terpadu, sebab itu, "Tubuh Kristus", dan juga rasul, nabi dan pengajar dibahas secara terpadu. Sesungguhnya, ruang lingkup pekerjaan rasul berlainan dengan ruang lingkup pekerjaan nabi, pemberita Injil dan pengajar. Maka pengutusan rasul itu istimewa.

Tetapi semua itu adalah untuk ministri itu. Pekerjaan ministri itu tidak saja untuk tiap-tiap lokal, juga untuk lokal; tidak saja untuk lokal, juga untuk tiap-tiap lokal. Ruang lingkup pekerjaan ministri itu adalah Tubuh Kristus, sebab itu di situ tidak saja ada rasul, juga ada nabi dan sebagainya; tidak saja ada nabi dan yang lainnya, juga ada rasul.

Namun yang khusus terpanggil untuk diutus adalah rasul.