Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 1 • Modul 4

Analisis Keempat Orang dan Karunia bagi Gereja

Pembacaan Alkitab
"sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, mencapai kedewasaan penuh, dan mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan perawakan kepenuhan Kristus" — Efesus 4:13

ANALISIS KEEMPAT ORANG ITU

Pengajar dan gembala adalah sejenis, sebab yang mengajar juga harus menggembala, yang menggembala juga harus mengajar. Jadi tugas kedua jenis orang ini sama dan terpadu. Anehnya, istilah gembala dalam kitab Perjanjian Baru kecuali muncul sekali ini, tidak dipakai lagi di tempat lain. Tetapi istilah "pengajar" masih dipakai empat kali lagi. Kitab Perjanjian Baru pernah menyebut orang sebagai rasul, seperti Paulus dan kawan-kawannya; atau sebagai nabi, seperti Agabus; atau sebagai pemberita Injil, seperti Filipus; atau sebagai pengajar, seperti Menahem, namun selamanya tak pernah menyebut orang sebagai "gembala". Fakta tersebut membuktikan, bahwa keempat jenis sebutan itu bukan karunia rohani, melainkan empat jenis orang yang berkarunia, dan juga membuktikan bahwa pengajar identik dengan gembala.

Pengajar/gembala adalah orang yang berkarunia mengajar. Karunia ini tidak mengandung ciri yang adikodrati, maka tidak tercatat dalam I Korintus 12:8-10. Itu adalah kasih karunia pemberian Allah yang membuatnya memahami firman Allah, memahami pokok ajaran Alkitab, kebenaran Allah dan rencana Allah, sehingga mereka dapat membimbing anak-anak Allah secara doktrinal. Karenanya mereka tercantum dalam Roma 12. Di gereja Antiokhia justru ada beberapa orang demikian (Kis. 13). Paulus sendiri juga orang demikian. Mereka adalah sejenis fungsi yang ditetapkan Allah di dalam gereja (I Kor. 12:28) yang berposisi setingkat di bawah nabi. Pengajar adalah orang yang ditetapkan Allah berdasarkan karunia pengajaran, yang diberikanNya kepada gereja.

Pekerjaan pengajar ialah memberikan pengajaran atau bimbingan berdasarkan wahyu Allah yang sudah ada, agar orang nampak terang Allah dan mengenal kebenaranNya. Sasaran utama pekerjaan mereka adalah anak-anak Allah, dan adakalanya orang kafir (Baca I Kor. 1:28; 2:7; I Tim. 4:11; 6:2; II Tim. 2:2; Kis.4:2,18; 5:21,25,28,42 dan lain-lain). Pekerjaan mereka lebih bersifat menjelaskan daripada mewahyukan; sedangkan pekerjaan nabi lebih banyak mewahyukan daripada menjelaskan. Terhadap kaum imani mereka mengajarkan kebenaran Allah, dan terhadap orang kafir mereka mengajarkan Injil.

Pemberita Injil juga sejenis orang pemberian Allah, namun kita tidak tahu berdasarkan apa mereka dilantik Allah menjadi pemberita Injil. Pelantikan Allah atas pengajar dan nabi dikarenakan mereka masing-masing memiliki karunia mengajar dan nubuat (Rm. 12:7,10). Namun tidak demikian dengan pemberita Injil. Walau ia dilantik oleh Allah, kita tidak tahu berdasarkan karunia apa Allah melantik orang menjadi pemberita Injil. Sebab Alkitab tidak memberitahu kita tentang adanya karunia menginjil.

Pemberita Injil juga merupakan sejenis orang yang dilantik Allah dalam ministri itu. Dalam Alkitab, hanya Filipus yang berpredikat pemberita Injil (Kis. 21:8). Paulus pun pernah sekali menasihati Timotius untuk melakukan "pekerjaan pemberita Injil, dan tunaikan tugas ministrimu" (II Tim. 4:5). Timotius bukan disuruh memberitakan Injil, melainkan melakukan pekerjaan pemberita Injil. Karena ini adalah masalah ministri, bukan masalah karunia. Pemberita Injil adalah salah satu minister dalam ministri itu. Kecuali ketiga kali penyebutan itu, Alkitab tak pernah lagi memakai istilah ini, walaupun Alkitab sering memakai istilah memberitakan Injil dalam bentuk kata kerja. Tugas pemberita Injil tak lain menyiarkan berita Injil. Hal ini memenuhi seluruh Alkitab dan diketahui semua orang.

Posisi nabi dalam Alkitab lebih menonjol daripada pengajar maupun pemberita Injil. Karunia nabi ini ada, baik di dalam kasih karunia yang dianugerahkan (bernubuat dalam Roma 12), maupun dalam karunia adikodrati (I Kor. 12:10). Di antara orang-orang yang dilantik Allah di dalam gereja universal ada nabi (I Kor. 12:28), di antara orang-orang yang dikaruniakan Tuhan dalam ministri itu, juga ada nabi (Ef. 4:11). Hal ini disebabkan nabi adalah sejenis karunia, juga sejenis jabatan; adalah satu karunia adikodrati, juga satu karunia anugerah; adalah orang yang dilantik Allah dalam gereja, juga orang pemberian Allah di dalam ministri itu. Itulah sebabnya kita nampak adanya nabi di setiap aspek.

Kita perlu menaruh perhatian khusus pada istilah "bernubuat" dalam Roma 12 dan "menjadi nabi" dalam I Korintus 12. Kedua istilah tersebut merupakan kata benda "verbal", dan dalam bahasa asli merupakan istilah yang sama, maka keduanya boleh diterjemahkan "menjadi nabi". Dari sini kita nampak adanya dua aspek dalam karunia nabi. Pertama, yang bersifat "ilhami", yakni manusia berbicara bagi Allah karena beroleh kekuatan adikodrati dari Roh Kudus. Kedua, yang bersifat biasa, yakni manusia berbicara bagi Allah karena menerima kekuatan rohani dari Roh Kudus. Fungsi nabi dalam Perjanjian Lama ialah: 1) bernubuat, 2) berkhotbah, dan 3) menunjukkan kehendak Allah terhadap seseorang. Dalam Perjanjian Baru, nabi masih bernubuat dengan kekuatan adikodrati dan masih berkhotbah dengan kekuatan rohani, tetapi tidak lagi menunjukkan kehendak Allah terhadap seseorang. Sebab semua orang pasti mengenal Allah di dalam batin mereka sendiri. Perkataan yang diucapkan nabi-nabi ini mengandung wibawa Allah, sebab baik mereka bernubuat maupun berkhotbah, semua dilakukan di dalam kuasa Roh Kudus. Melalui wahyu yang mereka terima dari Allah, mereka dapat mengungkapkan perkara-perkara masa kini atau perkara-perkara masa yang akan datang untuk memperingatkan dan membina orang.

Namun, di antara keempat jenis orang ini, rasul lebih-lebih berbeda dengan ketiga lainnya. Setiap pembaca Alkitab perlu nampak keistimewaan posisi rasul; rasul sangat menonjol di antara keempat jenis orang dalam ministri itu. Mereka khusus diutus Allah untuk memberitakan Injil, mendirikan gereja, mewahyukan kebenaran, memutuskan doktrin, menetapkan sistem, membina kaum saleh dan membagi-bagikan karunia. Ruang lingkup pekerjaan mereka tidak terbatas di satu lokal, melainkan untuk tiap-tiap lokal.

KARUNIA YANG ALLAH BERIKAN KEPADA GEREJA

Tidak saja jabatan berbeda dengan karunia, karunia-karunia yang diperoleh pun harus dibedakan antara yang diperoleh secara perorangan dengan yang diperoleh gereja. Sudah kita bahas di atas, bahwa rasul bukan karunia melainkan jabatan. Lalu, apakah maksud kata "Ialah yang memberikan baik rasul . . ." dalam Efesus 4:11? Di sini kita perlu jelas, sebenarnya rasul itu sejenis karunia perorangan, atau sejenis karunia gereja? Suatu kemampuan rohani yang didapat secara perorangan dari Allah, atau sejenis orang yang didapatkan gereja dari Allah? Ingatlah, rasul bukan suatu talenta atau ketrampilan rohani yang diperoleh orang secara perorangan dari Allah, melainkan satu jenis orang yang diperoleh gereja dari Allah. Sebab dalam firman Allah tidak ada karunia rasuli. Efesus tidak mengatakan karunia rasul, melainkan "Ialah (Kristus) yang memberikan baik rasul (seorang yang demikian) . . ." Alkitab tidak pernah mengatakan, seseorang beroleh karunia dari Allah sehingga ia menjadi rasul. Alkitab hanya berkata, ada yang beroleh karunia dari Roh itu untuk bernubuat, untuk mengajar, untuk menyembuhkan, untuk mengadakan mujizat dan seterusnya; sedangkan rasul adalah sejenis orang yang diperoleh gereja dari Allah. Rasul bukan sejenis karunia rohani istimewa. Jadi dalam Alkitab tidak ada ungkapan karunia rasuli.

Satu Korintus 12:8-10 mengatakan, "Sebab kepada yang seorang Roh Kudus memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu." Ayat-ayat Alkitab ini mewahyukan kepada kita berbagai jenis karunia yang diberikan Roh Kudus secara perorangan. Adakah Roh Kudus memberikan karunia kepada orang untuk menjadi rasul? Tidak. Dalam Alkitab tidak ada karunia rasuli. Dalam Alkitab ada karunia bernubuat, menyembuhkan, berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi tak pernah ada karunia rasuli.

Mari kita baca lagi I Korintus 12:28, "Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh." Lihatlah, pada ayat-ayat yang mewahyukan karunia-karunia pemberian Roh Kudus kepada orang, tidak tercantum rasul, namun pada ayat-ayat yang mewahyukan orang-orang yang Allah tetapkan dalam gereja, tertampaklah: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar . . . Di sini tidak dikatakan, Allah memberikan karunia rasuli, melainkan "Allah menetapkan sejenis orang, yakni rasul"; tidak dikatakan, Allah memberikan karunia nabi atau pengajar, tetapi "Allah menetapkan sejenis orang, yakni sebagai nabi atau sebagai pengajar. Di dalam gereja, ada orang-orang yang berbeda-beda itu. Jadi, rasul bukanlah sejenis karunia, melainkan sejenis orang.