Penghidupan Orang Kristen yang Normal • Bab 1 • Modul 4

Komparasi Ayat Alkitab dan Jenis Karunia

Pembacaan Alkitab
"sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, mencapai kedewasaan penuh, dan mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan perawakan kepenuhan Kristus" — Efesus 4:13

PERBANDINGAN BEBERAPA AYAT ALKITAB

Untuk memahami bagaimana cara pengutaraan dan bagaimana posisi para minister dalam "ministri itu" dalam Alkitab, perlulah kita membandingkan ayat-ayat lainnya. Setidak-tidaknya ada tiga ayat Alkitab yang sejenis dengan Efesus yang kita kutip di atas, yakni I Korintus 12:8-10,28 dan Roma 12:6-8. Di antara ketiga ayat tersebut ada yang mengatakan bermacam-macam ministri, ada yang mengatakan bermacam jenis orang, dan ada yang mengatakan karunia-karunia.

Tetapi hanya surat Efesus yang mengatakan "ministri itu". Kalau kita ingin memahami Efesus 4 dengan ayat-ayat Alkitab lainnya, perlulah kita membandingkannya satu dengan yang lain.

Satu Korintus 12:8-10, "Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.

Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu."

Satu Korintus 12:28, "Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat (gereja): pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh."

Roma 12:6-8, "Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. Jika karunia itu untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati.

Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita."

Satu Korintus 12:8-10 mengacu kepada karunia pemberian Roh Kudus kepada perorangan kaum imani, sedang karunia dalam Efesus 4 mengacu kepada karunia pemberian Tuhan kepada gereja, yakni manusianya. Karunia dalam I Korintus 12 bersifat adikodrati dan ilhami, sedang karunia dalam Roma 12 bersifat biasa tanpa keadaan yang adikodrati, yang kita peroleh karena kasih karunia dan oleh iman kita. Kesembilan perkara yang tercantum dalam I Korintus 12 itu adalah karunia-karunia yang diperoleh seseorang ketika ia menerima ilham roh di dalam kuasa Roh Kudus.

Karenanya ayat pertama mengatakan, "Tentang karunia Roh", terjemahan aslinya, "Tentang menerima ilham Roh . . ." Karunia yang tertera dalam Roma 12 berdasar pada kasih karunia Allah.

Allah membagi-bagikan karunia kepada mereka, agar mereka dapat menyatakan kasih karuniaNya, dan agar mereka dapat menunaikan fungsi mereka sebagai anggota Tubuh. Karena itu, karunia-karunia yang tercantum di dalamnya tidak bersifat adikodrati dan ilhami, melainkan bersifat biasa dan hayati; itulah sebabnya perkara membagi-bagikan sesuatu dan menunjukkan kemurahan terbilang sebagai karunia juga. Jadi, semua itu boleh disebut karunia dari kasih karunia, sedang yang tercatat dalam surat Efesus itu adalah karunia Tuhan kepada gereja.

Karunia-karunia yang diperoleh mereka sendiri selaku "karunia", tercantum dalam I Korintus 12 dan Roma 12. Yang ditekankan surat I Korintus adalah kekuatan, sedang yang ditekankan surat Roma adalah hayat. Surat Efesus mengatakan, bahwa orang-orang yang telah menerima kedua jenis karunia tersebut, dijadikan karunia oleh Allah dan diberikan kepada gereja.

"Ministri itu" dalam surat Efesus bersifat tunggal, unik, istimewa dan khusus, sedang ministri dalam surat I Korintus adalah rupa-rupa, banyak (ayat 5). Itulah ministri-ministri umum, biasa, banyak jumlahnya, yaitu ministri yang diperoleh setiap anak Allah di hadapan Tuhan. Keempat jenis karunia gereja dalam surat Efesus adalah untuk ministri itu.

Hanya keempat jenis orang itu yang beroleh bagian dalam ministri itu, sedang kesembilan jenis karunia perorangan dalam surat I Korintus itu bagi ministri-ministri. Mereka memiliki karunianya masing-masing untuk ministri yang berbeda-beda.

Dalam I Korintus 12:28 disebutkan Allah telah melantik delapan jenis orang di dalam gereja. Ini berbeda dengan karunia dalam ayat 8-10 di atasnya. Yang disebut di atas adalah karunia Roh Kudus, sedang yang di bawah adalah "fungsi" Allah.

Yang dikatakan di atas adalah karunia-karunia yang diberikan Roh Kudus di dalam gereja lokal, sedang yang dikatakan di bawah adalah fungsi yang dilantik Allah di gereja universal. Yang di atas adalah karunia yang diperoleh manusia dari Roh Kudus, sedang yang di bawah adalah bagaimana orang-orang yang telah beroleh karunia itu diletakkan Allah di dalam gereja sebagai "fungsi"Nya. Ada delapan jenis orang yang dilantik Allah di dalam gereja, tetapi orang yang dikaruniakan Allah kepada gereja untuk mengerjakan "ministri itu" hanya ada empat jenis, seperti yang tercantum dalam surat Efesus.

Meski banyak orang yang berfungsi di dalam gereja Allah, namun hanya empat jenis orang yang tercatat dalam surat Efesus itu yang dapat merampungkan tujuan Allah, yaitu yang mendapat bagian dalam pekerjaan pembangunan Tubuh Kristus. Lainnya memang berguna dan memiliki ministri mereka masing-masing, tetapi hanya beberapa jenis orang itu yang memiliki fungsi khusus untuk ministri itu.

Tiga dari empat jenis orang yang tercantum dalam surat Efesus, tercantum dalam I Korintus 12, pemberita Injil tidak dimasukkan. Ini dikarenakan perbedaan ruang lingkup mereka. Ruang lingkup surat Efesus adalah pembangunan Tubuh Kristus, sebab itu perlu ada pemberita Injil, bahkan mendahului pengajar dan gembala; sebab merekalah yang memperoleh orang dan memasukkannya ke dalam Tubuh Kristus.

Sedangkan ruang lingkup pembahasan surat Korintus berkisar pada fungsi yang ditetapkan Allah di dalam gereja, karenanya tidak ada pemberita Injil. Sebab fungsi pemberita Injil bukan di dalam gereja, melainkan di luar gereja, sekalipun fungsi mereka adalah untuk gereja. Yang dibahas surat Efesus adalah siapa yang ditentukan bagi gereja.

Ada satu perkara yang patut diperhatikan, yaitu baik surat Roma, surat Korintus maupun surat Efesus, semuanya membahas masalah Tubuh Kristus, tetapi di antaranya terdapat perbedaan. Surat Roma dan surat Korintus menegaskan, bahwa kita semua adalah anggota Tubuh, karenanya semuanya mempunyai karunia dan fungsi masing-masing. Tetapi Tubuh Kristus yang diwahyukan surat Efesus berkisar pada bagaimana Tubuh ini dibangun oleh karunia.

Surat Efesus tidak mengartikan keempat orang itu anggota Tubuh, melainkan pembangun Tubuh. Keempat jenis orang tersebut memiliki posisi yang berlainan dengan anak-anak Allah pada umumnya.

ANALISIS KEEMPAT ORANG ITU

Pengajar dan gembala adalah sejenis, sebab yang mengajar juga harus menggembala, yang menggembala juga harus mengajar. Jadi tugas kedua jenis orang ini sama dan terpadu. Anehnya, istilah gembala dalam kitab Perjanjian Baru kecuali muncul sekali ini, tidak dipakai lagi di tempat lain.

Tetapi istilah "pengajar" masih dipakai empat kali lagi. Kitab Perjanjian Baru pernah menyebut orang sebagai rasul, seperti Paulus dan kawan-kawannya; atau sebagai nabi, seperti Agabus; atau sebagai pemberita Injil, seperti Filipus; atau sebagai pengajar, seperti Menahem, namun selamanya tak pernah menyebut orang sebagai "gembala". Fakta tersebut membuktikan, bahwa keempat jenis sebutan itu bukan karunia rohani, melainkan empat jenis orang yang berkarunia, dan juga membuktikan bahwa pengajar identik dengan gembala.

Pengajar/gembala adalah orang yang berkarunia mengajar. Karunia ini tidak mengandung ciri yang adikodrati, maka tidak tercatat dalam I Korintus 12:8-10. Itu adalah kasih karunia pemberian Allah yang membuatnya memahami firman Allah, memahami pokok ajaran Alkitab, kebenaran Allah dan rencana Allah, sehingga mereka dapat membimbing anak-anak Allah secara doktrinal.

Karenanya mereka tercantum dalam Roma 12. Di gereja Antiokhia justru ada beberapa orang demikian (Kis. 13).

Paulus sendiri juga orang demikian. Mereka adalah sejenis fungsi yang ditetapkan Allah di dalam gereja (I Kor. 12:28) yang berposisi setingkat di bawah nabi.

Pengajar adalah orang yang ditetapkan Allah berdasarkan karunia pengajaran, yang diberikanNya kepada gereja.

Pekerjaan pengajar ialah memberikan pengajaran atau bimbingan berdasarkan wahyu Allah yang sudah ada, agar orang nampak terang Allah dan mengenal kebenaranNya. Sasaran utama pekerjaan mereka adalah anak-anak Allah, dan adakalanya orang kafir (Baca I Kor. 1:28; 2:7; I Tim.

4:11; 6:2; II Tim. 2:2; Kis.4:2,18; 5:21,25,28,42 dan lain-lain). Pekerjaan mereka lebih bersifat menjelaskan daripada mewahyukan; sedangkan pekerjaan nabi lebih banyak mewahyukan daripada menjelaskan.

Terhadap kaum imani mereka mengajarkan kebenaran Allah, dan terhadap orang kafir mereka mengajarkan Injil.

Pemberita Injil juga sejenis orang pemberian Allah, namun kita tidak tahu berdasarkan apa mereka dilantik Allah menjadi pemberita Injil. Pelantikan Allah atas pengajar dan nabi dikarenakan mereka masing-masing memiliki karunia mengajar dan nubuat (Rm. 12:7,10).

Namun tidak demikian dengan pemberita Injil. Walau ia dilantik oleh Allah, kita tidak tahu berdasarkan karunia apa Allah melantik orang menjadi pemberita Injil. Sebab Alkitab tidak memberitahu kita tentang adanya karunia menginjil.

Pemberita Injil juga merupakan sejenis orang yang dilantik Allah dalam ministri itu. Dalam Alkitab, hanya Filipus yang berpredikat pemberita Injil (Kis. 21:8).

Paulus pun pernah sekali menasihati Timotius untuk melakukan "pekerjaan pemberita Injil, dan tunaikan tugas ministrimu" (II Tim. 4:5). Timotius bukan disuruh memberitakan Injil, melainkan melakukan pekerjaan pemberita Injil.

Karena ini adalah masalah ministri, bukan masalah karunia. Pemberita Injil adalah salah satu minister dalam ministri itu. Kecuali ketiga kali penyebutan itu, Alkitab tak pernah lagi memakai istilah ini, walaupun Alkitab sering memakai istilah memberitakan Injil dalam bentuk kata kerja.

Tugas pemberita Injil tak lain menyiarkan berita Injil. Hal ini memenuhi seluruh Alkitab dan diketahui semua orang.

Posisi nabi dalam Alkitab lebih menonjol daripada pengajar maupun pemberita Injil. Karunia nabi ini ada, baik di dalam kasih karunia yang dianugerahkan (bernubuat dalam Roma 12), maupun dalam karunia adikodrati (I Kor. 12:10).

Di antara orang-orang yang dilantik Allah di dalam gereja universal ada nabi (I Kor. 12:28), di antara orang-orang yang dikaruniakan Tuhan dalam ministri itu, juga ada nabi (Ef. 4:11).

Hal ini disebabkan nabi adalah sejenis karunia, juga sejenis jabatan; adalah satu karunia adikodrati, juga satu karunia anugerah; adalah orang yang dilantik Allah dalam gereja, juga orang pemberian Allah di dalam ministri itu. Itulah sebabnya kita nampak adanya nabi di setiap aspek.

Kita perlu menaruh perhatian khusus pada istilah "bernubuat" dalam Roma 12 dan "menjadi nabi" dalam I Korintus 12. Kedua istilah tersebut merupakan kata benda "verbal", dan dalam bahasa asli merupakan istilah yang sama, maka keduanya boleh diterjemahkan "menjadi nabi". Dari sini kita nampak adanya dua aspek dalam karunia nabi.

Pertama, yang bersifat "ilhami", yakni manusia berbicara bagi Allah karena beroleh kekuatan adikodrati dari Roh Kudus. Kedua, yang bersifat biasa, yakni manusia berbicara bagi Allah karena menerima kekuatan rohani dari Roh Kudus. Fungsi nabi dalam Perjanjian Lama ialah: 1) bernubuat, 2) berkhotbah, dan 3) menunjukkan kehendak Allah terhadap seseorang.

Dalam Perjanjian Baru, nabi masih bernubuat dengan kekuatan adikodrati dan masih berkhotbah dengan kekuatan rohani, tetapi tidak lagi menunjukkan kehendak Allah terhadap seseorang. Sebab semua orang pasti mengenal Allah di dalam batin mereka sendiri. Perkataan yang diucapkan nabi-nabi ini mengandung wibawa Allah, sebab baik mereka bernubuat maupun berkhotbah, semua dilakukan di dalam kuasa Roh Kudus.

Melalui wahyu yang mereka terima dari Allah, mereka dapat mengungkapkan perkara-perkara masa kini atau perkara-perkara masa yang akan datang untuk memperingatkan dan membina orang.

Namun, di antara keempat jenis orang ini, rasul lebih-lebih berbeda dengan ketiga lainnya. Setiap pembaca Alkitab perlu nampak keistimewaan posisi rasul; rasul sangat menonjol di antara keempat jenis orang dalam ministri itu. Mereka khusus diutus Allah untuk memberitakan Injil, mendirikan gereja, mewahyukan kebenaran, memutuskan doktrin, menetapkan sistem, membina kaum saleh dan membagi-bagikan karunia.

Ruang lingkup pekerjaan mereka tidak terbatas di satu lokal, melainkan untuk tiap-tiap lokal.

Kedudukan rasul lebih tinggi daripada nabi dan pengajar biasa. Dengan jelas firman Allah mewahyukan, "Pertama sebagai rasul, kedua nabi, ketiga pengajar" (I Kor. 12:28), bahkan dalam ministri itu pun (Efesus) rasul berada pada urutan pertama.

Ini tak lain karena rasul adalah pekerja pilihan khusus Allah, hal ini tidak dimiliki ketiga jenis orang lainnya. Jika kita ingin memahami bagaimana melakukan pekerjaan Tuhan, bagaimana mendirikan gereja, bagaimana melayani Allah menurut kehendak Allah, maka kita harus mengenal siapakah rasul, dan mengkaji dengan seksama bagaimanakah sebenarnya pekerja Allah yang amat penting ini. Dengan demikian kita akan tahu, bagaimana sebenarnya melakukan pekerjaan Allah.

JABATAN DAN KARUNIA

Alkitab menunjukkan kepada kita, bahwa rasul adalah sejenis jabatan, bukan sejenis karunia atau talenta. Hal ini sangat penting. Kita akan terjebak ke dalam suatu kegelapan jika kita tidak mengetahui hal ini.

Karena itu, kita harus melihat seluk beluk rasul melalui Alkitab. Satu Timotius 2:7 mengatakan, "Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul . .

. dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran." Dua Timotius 1:11 mengatakan, "Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru." Dari ayat-ayat di atas kita nampak, bahwa rasul adalah orang yang diutus untuk melakukan suatu urusan. Jadi seseorang menjadi rasul atau tidak, tergantung pada ia diutus Allah atau tidak, bukan tergantung pada ia ada kekuatan atau tidak.

Kekuatan adalah masalah karunia, sedang diutus adalah masalah jabatan. Rasul adalah utusan, maka rasul merupakan satu jabatan.

Apakah perbedaan antara jabatan dan karunia? Semua yang berasal dari pengutusan, itulah jabatan; sedang semua yang berasal dari kemampuan yang tadinya sudah ada, itulah karunia. Dengan kata lain, karunia adalah yang tadinya kita sudah bisa/mampu.

Karunia rohani adalah kemampuan yang kita peroleh dari Roh Kudus. Namun jabatan adalah penugasan atau pengutusan Allah. Jadi, rasul adalah sejenis jabatan.

Itulah yang diwahyukan kepada kita dalam surat I dan II Timotius.

KARUNIA YANG ALLAH BERIKAN KEPADA GEREJA

Tidak saja jabatan berbeda dengan karunia, karunia-karunia yang diperoleh pun harus dibedakan antara yang diperoleh secara perorangan dengan yang diperoleh gereja. Sudah kita bahas di atas, bahwa rasul bukan karunia melainkan jabatan. Lalu, apakah maksud kata "Ialah yang memberikan baik rasul .

. ." dalam Efesus 4:11? Di sini kita perlu jelas, sebenarnya rasul itu sejenis karunia perorangan, atau sejenis karunia gereja?

Suatu kemampuan rohani yang didapat secara perorangan dari Allah, atau sejenis orang yang didapatkan gereja dari Allah? Ingatlah, rasul bukan suatu talenta atau ketrampilan rohani yang diperoleh orang secara perorangan dari Allah, melainkan satu jenis orang yang diperoleh gereja dari Allah. Sebab dalam firman Allah tidak ada karunia rasuli.

Efesus tidak mengatakan karunia rasul, melainkan "Ialah (Kristus) yang memberikan baik rasul (seorang yang demikian) . . ." Alkitab tidak pernah mengatakan, seseorang beroleh karunia dari Allah sehingga ia menjadi rasul.

Alkitab hanya berkata, ada yang beroleh karunia dari Roh itu untuk bernubuat, untuk mengajar, untuk menyembuhkan, untuk mengadakan mujizat dan seterusnya; sedangkan rasul adalah sejenis orang yang diperoleh gereja dari Allah. Rasul bukan sejenis karunia rohani istimewa. Jadi dalam Alkitab tidak ada ungkapan karunia rasuli.

Satu Korintus 12:8-10 mengatakan, "Sebab kepada yang seorang Roh Kudus memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.

Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu." Ayat-ayat Alkitab ini mewahyukan kepada kita berbagai jenis karunia yang diberikan Roh Kudus secara perorangan. Adakah Roh Kudus memberikan karunia kepada orang untuk menjadi rasul? Tidak.

Dalam Alkitab tidak ada karunia rasuli. Dalam Alkitab ada karunia bernubuat, menyembuhkan, berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi tak pernah ada karunia rasuli.

Mari kita baca lagi I Korintus 12:28, "Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh." Lihatlah, pada ayat-ayat yang mewahyukan karunia-karunia pemberian Roh Kudus kepada orang, tidak tercantum rasul, namun pada ayat-ayat yang mewahyukan orang-orang yang Allah tetapkan dalam gereja, tertampaklah: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar . .

. Di sini tidak dikatakan, Allah memberikan karunia rasuli, melainkan "Allah menetapkan sejenis orang, yakni rasul"; tidak dikatakan, Allah memberikan karunia nabi atau pengajar, tetapi "Allah menetapkan sejenis orang, yakni sebagai nabi atau sebagai pengajar. Di dalam gereja, ada orang-orang yang berbeda-beda itu.

Jadi, rasul bukanlah sejenis karunia, melainkan sejenis orang.

Maka perbedaan rasul dengan nabi, pengajar, penyembuh, penutur bahasa roh dan sebagainya ialah, bahwa nabi-nabi adalah karunia-karunia pemberian dari Roh Kudus kepada orang secara perorangan, serentak sebagai orang-orang yang ditetapkan Allah dalam gereja; sedangkan rasul adalah orang yang ditetapkan Allah dalam gereja, bukan karunia pemberian Roh Kudus kepada orang secara perorangan. Kedua bagian ayat dalam I Korintus 12 ini hampir saling sebanding, yang di atas adalah pemberian karunia, yang di bawah adalah penetapan orang-orangnya. Hanya rasul yang tidak terdapat dalam daftar karunia Roh Kudus; ia hanya terdapat dalam daftar orang-orang yang ditetapkan Allah, bahkan di nomorsatukan.

Jadi, rasul adalah karunia yang diberikan Allah kepada gereja, dan melalui orang ini gereja bisa beroleh berkat Allah yang rohani. Sedang karunia/talenta yang diterima seorang rasul secara pribadi tentu juga berasal dari Roh Kudus, hanya saja tidak disebutkan macam apa karunia itu. Orang-orang sedemikianlah yang diberikan Allah kepada gereja, dan mereka adalah fungsi yang Allah tetapkan bagi gereja.

Karena itu, ketika I Korintus 12 membahas masalah Roh Kudus memberikan karunia-karunia kepada orang, tidak terdapat karunia rasuli. Tetapi selanjutnya, ketika membahas masalah fungsi Allah; rasul muncul sebagai yang pertama. Dalam gereja, rasul adalah sejenis karunia, sedang pada diri rasul itu sendiri, yang diterimanya bukanlah sebuah karunia, melainkan sebuah jabatan.

Jadi kalau dalam gereja bertambah seorang rasul, itu berarti bertambah satu karunia.